Sabtu, 30 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Belajar Self-love, Pentingnya Mencintai Diri Sendiri

Tema seminarnya adalah mencintai diri sendiri (self-love) dengan judul "Menciptakan Ruang untuk Dirimu Sendiri: Menggali Kesehatan Mental melalui Self

Tayang:
Editor: mufti
IST
NAILAH THIFALUNNISA, Santri Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar 

NAILAH THIFALUNNISA, Santri Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

Di kelas pengayaan yang diadakan rutin setiap Sabtu pada Pesantren Baitul Arqam minggu lalu, saya mendapat ilmu baru dan pencerahan mengenai ilmu mencintai diri sendiri. Awalnya, seperti yang diketahui setiap orang, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Namun hakikatnya, untuk bisa bermanfaat untuk orang lain, seseorang haruslah selesai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu.

Hal di atas saya dapatkan setelah Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh mengadakan PKM, yaitu pengabdian kepada masyarakat di Dayah Pesantren Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar, Sabtu, 18 Mei 2023. Pengabdian itu digelar dalam bentuk seminar.

Tema seminarnya adalah mencintai diri sendiri (self-love) dengan judul "Menciptakan Ruang untuk Dirimu Sendiri: Menggali Kesehatan Mental melalui Self-love".

PKM ini juga didukung oleh Pashmina, yaitu Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul ‘Aisyiyah yang sudah sering mengunjungi Baitul Arqam.

Sebelum acara dimulai, para pemateri membagikan dua lembar kertas kepada kami, para santri Baitul Arqam, untuk diisi. Pada kertas yang dibagikan terdapat pernyataan-pernyataan. Kami diminta untuk menconteng yang sesuai dengan diri sendiri. Narasumber mengatakan, ini merupakan pre-test. Setelah lembar pretest diisi, panitia mengumpulkan lembar tersebut.

Setelah pretest, acara dibuka oleh salah satu panitia, yaitu Bu Julia Aridhona yang merupakan seorang dosen Fakultas Psikologi Unmuha Aceh. Selanjutnya masuk ke acara inti yang diisi oleh Bu Syarifah Zainab yang juga merupakan salah satu dosen psikologi di universitas yang sama.

Bu Zainab menjelaskan bahwa ‘self-love’ adalah perilaku atau sikap baik terhadap diri sendiri. Self-love begitu penting untuk kita, apalagi untuk para remaja, karena self-love dapat menjaga kesehatan mental dan emosional. Karena dengan mampu mencintai diri sendiri, seseorang dapat menghadapi masalahnya hingga selesai. Orang yang mencintai diri sendiri juga dapat memahami cara mengendalikan diri sehingga bisa merasa puas dengan diri sendiri.

Kemudian, orang yang mencintai dirinya sendiri akan dapat mengambil keputusan yang sehat dan tahu yang terbaik untuk dirinya.

Contoh konkretnya adalah ketika memilih untuk tidak merokok. Pelajar yang memiliki kemampuan mencintai diri sendiri tidak akan terjebak ajakan merokok, karena rokok sangat berbahaya untuk dirinya sendiri.

Selanjutnya, ketika kita bisa mencintai diri sendiri, maka kita bisa menghargai, menghormati, dan memberi kasih sayang terhadap orang lain sehingga memiliki hubungan yang sehat.

Bu Zainab juga menjelaskan bagaimana cara mempraktikkan self-love. Yang pertama, ada self-care atau peduli terhadap diri sendiri, baik secara fisik maupun secara emosional. Peduli secara fisik contohnya makan teratur, mandi dan mengganti pakaian secara teratur.

Sedangkan secara emosional, contohnya seperti shalat tepat waktu yang membuat hati kita tenang, ada juga dengan cara berolahraga yang teratur, melakukan hobi, dan menulis jurnal harian.

Hal kedua untuk meningkatkan self-love, yaitu memberi ruang untuk kesalahan. Contohnya dengan menerima kekurangan dan menghargai diri. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi dari kesalahan itulah seseorang bisa belajar untuk berubah sehingga berkembang untuk menjadi lebih baik lagi.

Cara ketiga dalam mempraktikkan self-love ialah mengubah pola pikir negatif. Sebagai manusia, kita harus fokus kepada kelebihan dan prestasi, jangan justru sebaliknya, kita fokus pada kelemahan diri. Dan yang terakhir, seseorang harus menghormati batas diri sendiri, yaitu dapat memenuhi kebutuhan sesuai batas diri, tidak terpengaruh oleh hal yang buruk dan belajar mengatakan "tidak" saat terbebani.

Bu Zainab juga memberi tahu siapa saja yang dapat memberi pengaruh agar kita menjadi lebih baik. Yang pertama adalah orang tua. Dukungan dan kasih sayang orang tua sangat berperan untuk membuat seorang individu menjadi lebih baik.

Kedua, ada hubungan yang hangat dari keluarga. Selanjutnya ada teman sebaya, guru, dan pembimbing.

Ternyata, media sosial, figur publik, dan selebriti, dan yang  terakhir pendidikan dan pengalaman juga memberikan pengaruh pada diri seseorang.

Tak berhenti pada cara mempraktikkan self-love, Bu Zainab juga menerangkan tentang cara mengontrol emosi. Jika sedang ada masalah, seseorang harus bisa menerima dirinya yang sedang kecewa.

“Berikan apa yang diri kita butuhkan. Kita butuh untuk memberi jeda, misalnya saat merasa begitu marah, maka seperti anjuran Rasulullah, duduklah. Jika masih terasa menyesakkan lalu berwudulah, karena dengan berwudu kita akan dapat mengaktifkan hormon yang membuat kita tenang dan menghindari hormon yang membuat kita marah. Setelah itu, baru mencari tahu penyebab masalah tersebut. Kita bisa pikirkan perasaan orang lain juga dan jangan lupa bahwa setiap orang tidak sempurna dan bisa saja khilaf melakukan kesalahan kapan pun. Karena kesempurnaan dan kebenaran hanya milik Allah.

Langkah selanjutnya adalah mencari solusi dari permasalahan. Komunikasikan kepada orang yang terlibat dalam permasalahan itu sehingga masalah dapat selesai. Manusia tidak memiliki kemampuan telepati, maka komunikasikanlah apa yang dirasakan dan kita inginkan terhadap orang lain dengan jelas dan tepat,” kata Bu Zainab panjang lebar.

Materi terakhir yang disampaikan oleh Bu Zainab adalah cara menghindari takut mencoba hal baru. Setiap orang memiliki versi dirinya masing-masing. Jadi, jangan takut dinilai oleh orang, yakin dan cintailah diri sendiri, anggap semuanya adalah proses.

Sebelum acara ditutup, pemateri membuat mini gim dengan membagikan selembar kertas yang dibagi menjadi dua. Di kertas pertama Bu Julia memberi arahan untuk menulis “Hal yang disukai dari diri sendiri”.

Mini gim ini dibantu oleh Kak Sarah Dilariza yang merupakan mahasiswi Psikologi Unmuha Aceh. Pada kertas yang kedua, Bu Julia memberi arahan lagi dengan menulis “Hal yang tidak disukai dari diri sendiri”.

Lalu Bu Julia juga memberikan arahan agar semua peserta berdiri. Lalu para peserta diminta membaca sendiri dalam hati, dua hal yang ditulis pada lembaran kertas tersebut.

Kertas yang bertuliskan tentang hal yang tidak disukai mengenai diri sendiri tadi terserah peserta ingin diapakan. Sebagian ada yang menyimpan, sebagian ada yang hanya meremas, dan bahkan ada juga yang merobeknya hingga serpihan paling kecil, menghancurkan, dan membuangnya.

Di akhir seminar, Bu Julia menjelaskan bahwa orang yang merobek dan membuang kertasnya semoga hal yang tidak disukainya tentang dirinya itu pun ikut terbuang. Sedangkan orang yang menyimpan kertas tadi, semoga menjadi motivasi dan pengingat untuk terus menjadi pribadi diri yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Usai mini gim, seminar ditutup. Sebelumnya, ada pembagian hadiah bagi santriwan dan santriwati yang bertanya dan aktif berdiskusi.

Seminar ini diakhiri dengan saling mengapresiasi dan sesi foto bersama. Namun, sebelum seminar benar-benar ditutup, para santri diberikan lagi satu eksemplar kertas yang berisi pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan diri atau tidak sesuai. Kertas tersebut dinamakan post-test.

Acara berakhir dan ditutup moderator. Kami para santri mendapatkan oleh-oleh ilmu yang bermanfaat. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved