Citizen Reporter
Kagum pada Cara Arab Melayani ‘Tamu Allah’
Berhaji adalah hak prerogatif Allah, karena tidak semua orang berduit terpanggil berhaji. Bahkan, seorang tukang becak yang notabene untuk makan sehar
AMRINA HABIBI, S.H., M.H., Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh, melaporkan dari Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia
Mengurus ‘tamu Allah’ dalam jumlah yang banyak, berasal dari berbagai peradaban, suku, ras, dan warna kulit, bahkan aliran/mazhab yang berbeda-beda bukanlah sesuatu yang mudah. Dan itulah yang saya saksikan selama berhaji tahun ini.
Saya bahkan berkali-kali membayangkan dan membandingkannya dengan pengurusan/pengelolaan pelatihan yang pesertanya hanya 50 orang dengan waktu pelatihan lima hari saja, belum bisa memenuhi standar yang ideal. Ya, ada saja kekurangannya. Yang narasumbernya datang telatlah, makanannya kadang enak kadang enggak, mati listrik, dan berbagai celah kekurangan lainnya.
Selama sepuluh hari berada di Makkah sebagai jemaah haji, masyaallah beragam decak kagum tak berhenti keluar dari mulut saya. Makanan yang berlimpah, moda transportasi yang lancar, plus pelayanan sopir dan kernet yang ramah. Mereka bahkan sering menawarkan minuman atau kudapan (snack) dan bahkan dengan sigap menolong menurunkan barang jemaah, apalagi jika penumpangnya sudah lansia, semua itu adalah bagian kecil dari pengelolaan wisata agama yang responsif di Negeri Arab ini.
Selama enam hari di hotel—sebelum diberangkatkan ke Arafah—kami juga selalu disuguhi layanan hotel yang memuaskan. Air yang berkecukupan dan tak sekalipun listrik mati di negeri ini walaupun kepadatan pengunjung melebihi angka 7 juta jiwa.
Bagaimana mereka mengelola semua ini, tentulah berbasis pada sebuah sistem. Jika ditemukan ada jemaah yang tidak sanggup makan, itu lebih kepada pola pikir yang telanjur tertanam di memorinya bahwa makan itu harus dengan ‘asam sunti’ atau menu lain khas makanan daerah masing-masing. Jadi, bukan karena makanannya yang tidak enak.
Soal higienitas juga tidak diragukan lagi. Nasi pagi hari ini dengan keterangan lengkap jam makannya terkadang saya konsumsi lewat waktu karena perut saya terlalu kenyang untuk menyantapnya dan saya pastikan sampai besok pun tidak basi. Ini tentu bukan karena ada zat pengawet di makanan tersebut, tetapi lebih karena kebersihan yang terstandar menjadi penentu makanan akan basi atau tidak.
Selain itu, seberapa pun air yang kami habiskan untuk mandi dan menyuci tidak pernah memengaruhi debit air yang dihasilkan, dan pastinya air tak pernah keruh, selalu bersih, bening, dan kelihatan sangat berkualitas.
Untuk layanan kebersihan, tinggal kita panggil ‘room boy’ dan bilang mau ganti handukkah atau bersih-bersih tinggal pakai bahasa isyarat dan semua urusan jadi OK. Apalagi jika dibarengi dngn keramahan berbagi dari sang tamu hotel.
Kekaguman saya bertambah saat kami diangkut menuju Arafah, sebuah tempat yang diidamkan oleh banyak muslim karena tempat mustajabnya doa, di mana Allah turun langsung untuk mengaminkan doa dari orang-orang yang berserah diri secara total dan ikhlas untuk meminta diampunkan segala dosa, maupun meminta keinginan lain yang tentu akan dipenuhi Allah kalau dosa-dosa sudah diampunkan. Ibarat manusia juga, jika tuannya berkenan atau ‘meukeunong’ pasti sang bawahan minta apa pun akan diberikan.
Khusyuknya doa dan lantunan panggilan Allah menggema pada seluruh maktab dan tak ada yg menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Terlebih kita dari Aceh, butuh waktu menunggu belasan tahun, bahkan sampai seperempat abad, baru bisa terpanggil untuk berhaji.
Saat berada di Arafah, pengorbanan materi, tenaga, dan meninggalkan banyak hal urusan duniawi menjadi tantangan tersendiri. Apalagi panasnya cuaca di Arafah jauh melebihi panas yang kita tidak pernah rasakan di Aceh. Namun, semua itu tidak menjadi keluhan, semua dijalani dengan sabar. Padahal, kepala terasa mendidih, badan terasa kering, dan serbasalah karena di satu sisi kita butuh asupan air yang banyak, tetapi di lain sisi terkadang malas mengantre di kamar kecil untuk buang air, apalagi dengan suhu cuaca yang sangat panas.
Petugas media center haji tak henti-hentinya memberi komando, “Minum yang banyak Bapak dan Ibu, campur oralit, minum pelan-pelan, seteguk demi seteguk.” Tapi terkadang, seruan itu hanya jadi angin lalu saja lantaran kecemasan buang air seni lebih menyiksa dibandingkan dengan tubuh mengering yang ancamannya bahkan kematian atau ‘head stroke’ akan terjadi.
Air minum yang disediakan bukan saja cukup, bahkan berlimpah ruah. Berapa botol pun mau diminum tersedia dengan jumlah yang sangat leluasa. Negeri yang gersang, tapi makmurnya luar biasa dan kemakmuran itu berbagi rata dengan siapa pun ‘tamu Allah’ yang dipanggil Allah ke negeri ini. Lalu, nikmat mana lagi dari Tuhanmu yang engaku dustakan?
Saat mabit di Mina, sejak di tanah air, kita sudah persiapkan alas untuk mabit, baik plastik ataupun bentuk lain, bahkan selimut ringan, tapi masyaallah hamparan permadani merah yang motifnya indah dan sama, telah menunggu, menyambut kami para ‘tamu Allah’.
Penulis Citizen Reporter
Citizen Reporter
Penulis CR
Kagum pada Cara Arab Melayani Tamu Allah
Jamaah Haji Aceh
AMRINA HABIBI
| Obat-Obatan Masa Depan, dari Molekul Kimia Menjadi Harapan Baru bagi Pasien |
|
|---|
| Menulis Artikel tentang Dominasi Perempuan di Gereja Katolik, Mahasiswi UIN Ar-Raniry Diapresiasi |
|
|---|
| Liburan ke Sumatera Selatan, Dari Teluk Betung Hingga Palembang, Banyak Tradisi Banyak Pula Cerita |
|
|---|
| Dari Pertemuan FKUB: Perempuan di Garda Terdepan Pemulihan Pasca-Bencana Aceh |
|
|---|
| Aceh, Kisahku: Dari Luka ke Pengabdian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/AMRINA-HABIBI.jpg)