Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Menelisik Konstruksi Identitas Diri Digital Natives di Media Sosial Instagram

Perkembangan teknologi komunikasi digital membawa imajinasi masyarakat menerobos batas-batas realitas sosial yang ada.

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Ratna Sari, Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UTU/Pembelajar Komunikasi Lintas Budaya. 

Oleh Ratna Sari *)

Perkembangan zaman yang ditambah perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat telah mengubah kehidupan masyarakat yang seakan-akan mempunyai dua kehidupan yang berlangsung secara bersamaan, yaitu antara kehidupan didunia nyata dengan kehidupan dunia maya.

Terkhusus generasi Z saat ini yang membentuk serta mengekspresikan diri mereka dengan bebas di media sosial yang terhubung dengan dunia internet.

Perkembangan teknologi komunikasi digital membawa imajinasi masyarakat menerobos batas-batas realitas sosial yang ada.

Sehingga terjadilah realitas semu dengan memanipulasi realitas sosial yang nyata, seolah-olah manusia sebagai entitas sosial bergerak dan hidup dari dunia nyata ke dunia imajiner atau dunia maya seolah-olah nyata.

Teknologi internet mengalami perkembangan yang signifikan teknologi jaringan yang awalnya dari 1G kini sudah berkembang ke 4G.

Jaringan 4G, yang disebut-sebut sebagai teknologi yang tidak hanya menghubungkan manusia dengan manusia tapi juga mesin dengan mesin.

Bahkan saat ini perkembangan teknologi informasi dalam sepuluh tahun terakhir mempengaruhi perilaku komunikasi.

Digital natives merupakan generasi yang terbiasa menggunakan gawai (gadget) dalam kehidupan keseharian sedari mereka kecil.

Kemunculan aplikasi media sosial seperti Facebook, instagram, whatsapp dan lainnya dibarengi dengan perangkat komunikasi bersifat mobile.

Media sosial sebagai platform yang digunakan seseorang untuk berinteraksi satu sama lain dan membangun ikatan sosial dengan bertukar berita, informasi, video, dan konten lainnya.

Perubahan besar yang mengiringi kemajuan teknologi dan informasi berdampak pada setiap aspek kehidupan.

Individu dari semua usia semakin mendapatkan kemudahan dalam mengakses berbagai macam informasi melalui perangkat digital dan internet.

Survei yang diselenggarakan oleh Asosiasi penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa terdapat 64,8 persen atau 171,17 juta dari 264,16 juta jiwa populasi penduduk Indonesia merupakan pengguna internet secara aktif.

Generasi digital native, yaitu generasi yang tumbuh dewasa dengan teknologi digital, telah terbiasa menggunakan teknologi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka, termasuk dalam cara mereka berkomunikasi.

Dengan dunia bergerak cepat ke media digital dan informasi, peran TIK dalam pendidikan menjadi semakin penting dan pentingnya ini akan terus tumbuh dan berkembang.

Konstruksi identitas diri digital natives dimedia sosial Instagram melibatkan penggunaan foto-foto sebagai representasi diri untuk mengkonstruksi identitas diri mereka. Foto-foto yang diunggah oleh pengguna digital natives mendapat respon yang bersifat normatif atau suportif dalam caption berupa comment atau like, tetapi juga memunculkan kasus-kasus dan permasalahan.

Mahasiswa, yang saat ini termasuk dalam kelompok usia “Generasi Z”, identik dengan sebutan digital natives dengan karakteristik akrab dan tumbuh bersama perkembangan teknologi.

Beberapa ciri khas digital natives adalah menikmati hal-hal dalam lingkungan yang saling terhubung secara online dan bekerja secara instan, menyukai gambar interaktif dibandingkan teks, dan menyukai akses secara random seperti hypertext.

Instagram merupakan platform media sosial yang cukup popular di kalangan anak muda saat ini.

Berbagai moment dan kejadian di abadikan dalam postingan instagram untuk berbagai tujuan, diantaranya untuk memperoleh tanggapan dari sesama pengguna.

Instagram memiliki fitur untuk mengirim foto dan video dengan menggunakan desain yang unik sehingga menarik jika dijadikan media pembelajaran.

Fitur instagram yang dapat dijadikan media pembelajaran adalah feed maupun instastory.

Tentunya dalam membagikan materi pelajaran tersebut harus ditampilkan gambar-gambar yang membuat mahasiswa tertarik dan ikut andil dalam proses pembelajaran tersebut.

Artikel ini akan membahas bagaimana cara menggunakan dan kelebihan/kelemahan aplikasi instagram sebagai media pembelajaran.

Digital native dalam pembahasan ini adalah mahasiswa dan mahasiswi dan generasi Z lainnya disebut digital native karena merupakan generasi Z atau generasi internet yang lahir di tahun 2000-an.

Menurut Pew Research Center (dalam Tinggi, 2011) membagi generasi manusia dalam 5 kategori berdasarkan kurun waktu tahun kelahiran yaitu: (a) the Greatest Genera- tion (sebelum 1928); (b) the Silent Generation (1928-1945); (c) the Baby Boomer (1946- 1964); (d) Generation X (1965-1980); (e) Millennial Generation (1981-1993).

Generasi manusia yang dikemukakan Jim Marteney (2010) yang dikutip Hasugian (2011) dibagi dalam 6 kategori yaitu: (a) the Greatest Generation (world War II, 1901-1924), (b) the Silent Generation (1925-1942); (c) the Baby Boomers (1943-1960); (d) Generasi X (1961 1981); (e) Millennial (1982-2002); (f) Digital natives (Generasi Z atau Internet Generation), mulai tahun 1994 sampai akhir tahun sekarang.

Generasi digital natives kadang disebut the native gadget yang lahir pada abad digital (Avarez, 2009; Brynko, 2009; Prensky, 2001).

Demi mewujudkan masyarakat yang melek literasi digital diperlukan peran berbagai pihak dalam mengobarkan gerakan literasi digital, mulai dari pemerintah, pegiat literasi, pendidik, hingga masyarakat.

Hadir dan berkembangnya teknologi digital seperti salahsatunya yaitu dengan adanya media sosial dapat digunakan untuk dapat mudah berkomunikasi dengan orang lain tanpa batas apapun.

Instagram yang merupakan salah satu media online yang hampir semua memanfaatkan Instagram sebagai salah satu media sosial yang memberikan berbagai karakteristik yang membantu dalam kebutuhan mereka, mulai dari hanya berinteraksi biasa saja, promosi, hingga menjadikannya sebagai platform untuk mereka berbisnis dan bahkan tak jarang hingga membentuk semua kehidupan yang berbeda antara kehidpan didunia maya dengan di dunia nyata.

Menurut Purworini (2018) indikator – indikator yang mendasari konstruksi identitas diri tercipta di instagram antara lain yaitu: 1) Breadth (keluasan jumlah informasi yang disajikan), 2) Depth (kedalaman tingkat keintiman informasi yang disajikan), 3) Positivity (positif valensi informasi), 4) Authenticity (keaslian tingkat presentasi yang akurat mencerminkan pengguna), 5) Intensionality (intensionalitas sejauh mana individu secara sadar dan sengaja mengungkapkan sepotong informasi dirinya), 6) feedback (umpan balik yang didapatkan), 7) self reflection (reflaksi diri yang diterima), 8) sellf – esteem (harga diri), dan 9) self- concept clarity (kejelasan konsep yang sudah dibentuk).

Berdasarkan hasil pembahasan diatas Instagram dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media sosial yang memberikan berbagai karakteristik yang membantu dalam kebutuhan, mulai dari hanya berinteraksi biasa saja, promosi, hingga menjadikannya sebagai platform untuk berbisnis dan bahkan tak jarang hingga membentuk semua kehidupan yang berbeda antara kehidpan didunia maya dengan di dunia nyata.

Konstruksi identitas diri digital natives di media sosial Instagram adalah bahwa pengguna digital natives menggunakan Instagram sebagai sarana untuk membangun identitas diri mereka.

Mereka mengirimkan foto-foto yang merepresentasikan diri mereka sebagai cara untuk memaknai kembali hasil produksi pengambilan gambar.

Identitas yang ditampilkan oleh digital natives melalui Instagram adalah upaya untuk menunjukkan kemewahan dan kreativitas mereka.

*) PENULIS adalah Mahasiswi UTU Prodi Ilmu Komunikasi/Pembelajar Komunikasi Massa dan Media Baru

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved