Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Pelayan Tamu Allah, Kisah Tiga Srikandi pada Kloter 11 BTJ

Haji ramah lanjut usia (lansia) adalah 'tagline' yang muncul pada berbagai proses pembekalan jemaah haji tahun ini. Lalu, apakah hal tersebut kemudian

Tayang:
Editor: mufti
IST
AMRINA HABIBI, S.H., M.H., Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh, melaporkan dari Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia 

AMRINA HABIBI, S.H., M.H., Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak pada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh, melaporkan dari Makkah Al-Mukarramah, Saudi Arabia

Haji ramah lanjut usia (lansia) adalah 'tagline' yang muncul pada berbagai proses pembekalan jemaah haji tahun ini. Lalu, apakah hal tersebut kemudian dapat diaktualisasikan secara komprehensif di lapangan? Tentu masih banyak tantangannya.

Berangkat dari pengamatan sekilas dan beberapa kali tempat tidur saya bersebelahan langsung dengan lansia, mau tidak mau, ke depan dibutuhkan beberapa koreksi, bahkan dukungan fasilitas yang lebih sensitif sehingga tidak hanya menjadi jargon, mengingat ada kebutuhan khusus dan pasti juga berkaitan dengan layanan khusus. Ketika hal itu diimplementasikan adalah bentuk konkret negara telah hadir secara penuh dalam urusan haji. Mendorong dan menumbuhkan semangat untuk saling peduli, respek, dan empati adalah keharusan. Apalagi itu dilakukan di Tanah Haram, pastilah ganjaran pahalanya sangat besar dan orang-orang akan berlomba-lomba mengambil

peluang tersebut. Namun, tentu tidak bisa berhenti pada tataran itu saja. Seluruh sumber daya manusia (SDM) bahkan prasarana dan sarana pun membutuhkan beberapa pembenahan sehingga akses, partisipasi, kontrol, dan mamfaat sebagai bagian penting untuk menilai sebuah kebijakan sudah responsif (peka) lansia benar terwujud adanya.

Berkaitan dengan hal tersebut saya selalu melebarkan mata dan membuka telinga lebih tajam untuk melihat bagaimana kawan-kawan medis bekerja dan tanpa menyampingkan fungsi ketua kloter maupun pendamping lainnya. Terkait hal ini saya ingin memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada tiga perempuan murah hati, petugas kloter 11 yang notabene background-nya adalah tenaga kesehatan. Seorang dokter, dua lagi perawat. Tak kenal siang ataupun malam mereka selalu memberikan pelayanan prima dan bahagia hati ketika melihat mereka selalu tersenyum dengan suara yang rendah ibarat kata orang Aceh "meunyoe saket sang gohlom dibie ubat kapuleh teuh".

Dalam beberapa kali kesempatan mereka juga terlihat mendorong kursi roda, mengangkat lansia, dan membawa mereka ke Kamar mandi untuk urusan buang hajat. Apakah ini menjadi bagian dari tugas medis? Sepertinya bukan, tapi mereka lakoni dengan penuh kasih sayang, tulus, dan sabar.

Layanan toilet di Arafah telah terpilah antara laki-laki dan perempuan, tetapi apakah responsif gender, apalagi responsif lansia, perlu dianalisis lebih lanjut. Satu analisis sederhana saja soal jumlah apakah sudah sesuai dengan rasio jumlah jemaah, apalagi jemaah perempuan , mereka butuh waktu lebih lama di toilet konon lagi kalau sedang halangan (menstruasi), jumlah air yang dibutuhkan juga pasti lebih banyak dibandingkan laki-laki. Hal yang kita anggap sepele satu buah paku jikapun ada tak sangkutan khusus sangat dibutuhkan untuk menyangkutkan jilbab atau menggantungkan tas. Ada inisiatif istimewa tenaga medis khsusunya di toilet perempuan ditempelkan sobekan karton dengan tulisan "Lansia" dan itu menjadi pertanyaan dari beberapa perempuan muda tenaga kebersihan dari Pemerintah Arab, apa maksudnya? Lalu saya dengar secara samar, salah satu petugas medis kita mengatakan dengan tergagap-gagap, "This toilet years old" tentu dengan maksud toilet ini untuk orang tua dan wanita Arab itu mengangguk- angguk tanda mengerti. Sebuah inisiatif sederhana, tapi sangat bermanfaat karena langsung memberikan dampak. Bayangkan apa jadinya kalau tidak lansia, nenek-nenek kita bahkan yang multinenek karena bukan hanya tua secara usia, tapi juga setengah uzur dan sakit harus antre bersama dengan mamak dan perempuan muda dalam tempo waktu kadang lama dan jarang beruntung dengan waktu tunggu yang cepat karena kepadatan kamar toilet dan tempat wudu ditambah lagi suhu yang panas dan teriknya matahari.

Pada sisi lain, tiga skrikandi ini jika melihat pada cara dan pola kerjanya ada tiga alur layanan yang mereka perlakukan.

Pertama, jemaah langsung datang ke posko diberi layanan, kawan-kawan memberikan layanan eksklusif dengan mengunjungi kamar berdasarkan laporan via WA melalui grup atau dijapri secara pribadi dan juga merujuk kepada posko kesehatan pada sektor atau bahkan ke rumah sakit yang tentu sangat tergantung pada kondisi dari jemaah dan pastinya ketika lansia perempuan atau bukan dilayani oleh perempuan otomatis pasti merasa lebih nyaman. Apalagi ketika masih berada dalam situasi ihram.

Hingga reportase ini saya tulis, alhamdulillah baru satu pasien serius yang telah dirujuk ke rumah sakit di Kota Makkah, selebihnya dengan keluhan demam, batuk, dan keluhan karena penyakit bawaan lainnya.

Reportase ini mungkin sedikit subjektif kenapa hanya menulis skrikandi karena saya hanya berhubungan dengan skrikandi dan layanan mareka sangat memuaskan. Ini menunjukkan bahwa Pemerintah Aceh telah memilih mereka berdasarkan kriteria yang tepat, bukan karena katabelece orang dekat, melainkan karena kompetensi, kemurahan, dan kemuliaan Nurani kemanusiaan dengan harga tertinggi bahwa menjaga nyawa manusia adalah perintah agama dan memastikan orang untuk sehat sebagai sebuah keharusan dan memberikan layanan yang prima adalah harga mati yang tidak perlu ditawar-tawar. Dan, pastinya mereka telah dipanggil Tuhan Labbaikallah humma lablaik "sambil mengabdi mereka berhaji" dan teruslah berbakti wahai para srikandi karena kehadiran dan peran kalian membuat ibadah kami menjadi lebih sempurna di mata Ilahi. Insyaallah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved