Opini

Membangun Image Hotel di Aceh

Mengapa persepsi masyarakat terhadap keberadaan hotel menjadi salah satu kunci utama dalam pengembangan pariwisata Aceh yang lebih maju?

Editor: mufti
IST
Dr Ir Azhar MSc, Dosen Departemen Agribisnis USK dan Penulis Buku Religiusitas dan Keterlibatan Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Pariwisata (2024) 

Dr Ir Azhar MSc, Dosen Departemen Agribisnis USK dan Penulis Buku Religiusitas dan Keterlibatan Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Pariwisata (2024)

ACEH dengan julukan Serambi Mekah, memiliki kekayaan alam dan budaya yang memukau. Dari pantai-pantai eksotis hingga situs sejarah yang memikat, provinsi ini menyimpan potensi pariwisata yang luar biasa. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa, meskipun memiliki potensi besar, pengembangan industri perhotelan di Aceh masih terbilang lamban?

Mengapa persepsi masyarakat terhadap keberadaan hotel menjadi salah satu kunci utama dalam pengembangan pariwisata Aceh yang lebih maju?

Kita semua tahu, hotel merupakan salah satu penunjang utama industri pariwisata. Hotel tidak hanya menyediakan akomodasi bagi wisatawan, tetapi juga berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan dan kepuasan pengunjung.

Tanpa persepsi positif dari masyarakat terhadap sektor ini, perkembangan industri perhotelan di Aceh akan terus menghadapi hambatan. Sayangnya, hingga kini belum ada kajian akademis yang mendalam tentang persepsi masyarakat Aceh terhadap keberadaan hotel.

Berdasarkan data terbaru, jumlah hotel berbintang di Aceh masih terbatas. Pada tahun 2023, tercatat bahwa jumlah hotel berbintang di Aceh belum mencapai angka yang ideal untuk mendukung pariwisata secara optimal. Sebagian besar hotel yang ada masih tergolong sebagai hotel non-bintang atau penginapan sederhana (BPS Aceh, 2023).

Keterbatasan ini mengakibatkan wisatawan sering kesulitan menemukan akomodasi yang memadai, terutama saat ada acara berskala besar yang diadakan di Aceh.

Tantangan masyarakat

Aceh adalah provinsi yang dikenal dengan penerapan syariat Islam, yang tentu mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor pariwisata. Persepsi masyarakat terhadap hotel sering kali dipengaruhi oleh pandangan tentang kesesuaian operasi hotel dengan nilai-nilai Islam. Padahal, jika diatur dan dikelola dengan baik, industri perhotelan tidak harus bertentangan dengan syariat Islam, tetapi justru bisa saling mendukung.

Sebagai ilustrasi, di negara-negara mayoritas muslim lainnya menunjukkan bahwa hotel dapat beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Misalnya, menyediakan makanan halal, ruang ibadah, dan aturan privasi yang ketat. Dengan demikian, hotel tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga menjadi tempat yang mendukung praktik-praktik keagamaan wisatawan muslim.

Selama ini, banyak acara berskala nasional bahkan internasional dilaksanakan di provinsi Aceh.
Namun, keterbatasan hotel representatif yang mampu menampung wisatawan dalam jumlah besar masih menjadi kendala. Keterbatasan ini tentu saja berdampak pada daya tarik Aceh sebagai destinasi wisata utama. Wisatawan yang ingin menginap dengan nyaman dan aman sering kali harus berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk mengunjungi Aceh.

Peluang ekonomi

Jika kita melihat dari sudut pandang ekonomi, perkembangan industri perhotelan tentu akan memberikan dampak positif yang signifikan. Pertama, akan terbuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Dari manajemen hotel hingga staf layanan, industri ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kedua, peningkatan jumlah wisatawan akan berdampak pada sektor-sektor lain seperti kuliner, transportasi, dan kerajinan tangan. Semua ini secara keseluruhan akan meningkatkan perekonomian daerah.

Namun, untuk mencapai hal ini, diperlukan upaya yang terintegrasi. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan di bidang perhotelan. Saat ini, di provinsi Aceh hanya terdapat satu Program Studi Perhotelan, di bawah naungan Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah. Keberadaan program studi ini sebenarnya menjadi modal penting untuk melahirkan lulusan yang siap menampung dan mendukung industri perhotelan yang terus berkembang.

Program studi perhotelan di Universitas Muhammadiyah telah berupaya memberikan pendidikan yang komprehensif kepada para mahasiswanya. Kurikulum yang disusun mencakup aspek-aspek penting dalam manajemen perhotelan, mulai dari pelayanan tamu, tata boga, hingga manajemen keuangan. Selain itu, para mahasiswa juga dibekali dengan keterampilan praktis melalui program magang di hotel-hotel yang ada di dalam dan luar negeri.

Namun, tantangan yang dihadapi tidaklah sedikit. Salah satu yang utama adalah bagaimana membangun persepsi positif di kalangan masyarakat terhadap industri perhotelan. Selama ini, masih terdapat anggapan negatif yang mengaitkan hotel dengan kegiatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam. Hal ini tentu menjadi hambatan yang perlu diatasi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan antara lain melalui edukasi publik dan kampanye yang menekankan pentingnya industri perhotelan dalam menunjang pariwisata dan perekonomian daerah.

Pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait harus bekerja sama untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat. Melalui dialog dan sosialisasi, diharapkan masyarakat dapat melihat sisi positif dari keberadaan hotel sebagai penunjang pariwisata. Dengan demikian, perlahan tapi pasti, persepsi negatif yang ada dapat berubah menjadi dukungan yang kuat bagi perkembangan industri ini.

Selain itu, perlu adanya insentif dan kebijakan yang mendukung investasi di sektor perhotelan. Kemudahan perizinan, insentif pajak, dan penyediaan lahan yang strategis dapat menarik minat investor untuk membangun hotel-hotel berkualitas di Aceh. Kehadiran hotel-hotel baru yang representatif tentu akan menarik lebih banyak wisatawan dan berdampak pada peningkatan citra Aceh sebagai destinasi wisata unggulan.

Tidak kalah penting adalah peran media dalam membangun citra positif tentang industri perhotelan. Media massa, baik cetak maupun elektronik, dapat menjadi sarana efektif untuk mengedukasi masyarakat. Melalui pemberitaan yang positif dan objektif, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya industri perhotelan bagi perkembangan pariwisata dan ekonomi daerah.

Pada akhirnya, membangun persepsi positif terhadap industri perhotelan di Aceh adalah tugas bersama. Dari pihak pemerintah, akademisi, pelaku industri, hingga masyarakat umum, semua memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan ini. Dengan upaya yang terkoordinasi dan berkelanjutan, kita bisa berharap industri perhotelan di Aceh akan berkembang lebih pesat, dan pada gilirannya, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Aceh, dengan segala potensi wisatanya, layak mendapatkan perhatian lebih dalam pengembangan sektor perhotelan. Hanya dengan adanya dukungan dari semua pihak, Aceh bisa menjadi destinasi wisata yang tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga diakui di kancah internasional. Mari bersama membangun persepsi positif dan mendukung perkembangan industri perhotelan untuk masa depan pariwisata Aceh yang lebih cerah.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved