Opini
Adaptasi Pendidikan di Era Disrupsi
Era disrupsi ini ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan start-up inovatif, memiliki kemampuan mengganggu pasar yang sudah ada dan menetapkan
Jon Darmawan SPd MPd, Guru SMAN 7 Lhokseumawe, anggota tim pengembang IT GTK Disdik, Pengurus IGI dan Pemuda ICMI Aceh, Microsoft Innovative Educator Expert (MIEE), serta kandidat Doktor Teknologi Pendidikan Unimed
SAAT ini kita berada pada era disrupsi. Era ini ditandai dengan terjadi perubahan besar dan cepat yang mengguncang industri atau pasar yang ada karena inovasi atau teknologi baru. Disrupsi sering kali mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi, serta menciptakan model bisnis yang baru dan efisien.
Era disrupsi ini ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan start-up inovatif, memiliki kemampuan mengganggu pasar yang sudah ada dan menetapkan standar baru dalam pelayanan dan produk.
Disrupsi pasar tenaga kerja pada dasarnya sudah mulai terjadi sebelum pandemi COVID-19. Namun, COVID-19 justru mengakselerasi teknologi dalam pasar tenaga kerja sehingga menstimulasi guna memaksa manusia agar mengubah kebiasaan kerja.
Era disrupsi dengan perubahan yang cepat dan tak terduga, turut memengaruhi dunia pendidikan. Era disrupsi yang ditandai dengan kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), memaksa kita untuk memikirkan kembali cara kita mendidik generasi muda. Keterampilan yang diperlukan di masa lalu mungkin tidak lagi cukup untuk bersaing di pasar kerja masa depan. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan yang akan memungkinkan mereka agar tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di era disrupsi ini.
Tidak pernah terbayangkan oleh kita kemunculan era disrupsi yang sangat mengganggu dan mampu mengatur pasar tenaga kerja. Kemunculan start-up seperti Gojek dan Grab yang dikenal sebagai perusahaan taxi tetapi tidak memiliki taksi, tetapi mereka mampu mengatur taksi dalam sebuah platform teknologi dan membuka jutaan lapangan kerja.
Demikian juga dengan e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, dan yang sejenisnya dikenal sebagai toko online yang tidak memiliki toko. Mereka justru kaya raya karena toko-toko yang ada di Indonesia. Pasar mereka semakin tanpa batas karena platform teknologi yang dimiliki.
Efek disrupsi
Perlu disadari bahwa saat ini saingan manusia bukan hanya sesama manusia saja, tetapi termasuk harus bersaing dengan teknologi. Contoh paling dekat adalah ketika petani memanen padi menggunakan mesin, beberapa pekerjaan hilang digantikan teknologi. Jika biasanya tersedia pekerjaan untuk memanen dan merontokkan padi, maka pekerjaan tersebut hilang seiring penggunaan mesin.
Riset McKinsey pada tahun 2017 memprediksi bahwa sekitar 800 juta pekerja di dunia kehilangan pekerjaan pada tahun 2030 akibat teknologi atau otomatisasi. Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa menyebutkan bahwa sekitar 36 juta pekerja hilang mata pencarian akibat disrupsi teknologi digital.
Survei World Economic Forum (WEF) yang dirilis pada tahun 2020, mengungkapkan terdapat tujuh jenis pekerjaan akan hilang. Seperti petugas entri data, sekretaris administrasi dan eksekutif, petugas akuntansi, pembukuan dan gaji, akuntan dan auditor, pekerja perakitan dan pabrik, layanan bisnis dan manajer administrasi, serta informasi klien dan layanan pelanggan.
Meskipun terdapat beberapa pekerjaan yang hilang akibat disrupsi teknologi, WEF dalam laporannya berjudul Future of Work 2023, memprediksi sekitar 12 jenis pekerjaan baru muncul dengan tampungan sekitar 42 juta lapangan pekerjaan.
Kedua belas jenis perkerjaan adalah spesialis AI dan machine learning, spesialis keberlanjutan (sustainability), analis business intelligence, analis keamanan sistem informasi, insinyur bidang fintech, analis data dan data science, insinyur bidang robot, spesialis big data, pengembang blockchain, spesialis e-commerce, spesialis strategi dan digital marketing, insinyur data, serta desainer komersial dan industrial.
Efek digitalisasi harus menjadi perhatian dalam mempersiapkan generasi muda agar mampu bersaing dengan teknologi. Jangan sampai keterampilan yang disiapkan justru menimbulkan gap skills sehingga berbeda dengan kebutuhan dunia profesional. Jika ini terjadi, maka sama saja dengan menyiapkan para pengangguran-pengangguran terdidik. Oleh karena itu, dunia pendidikan harus mampu membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia profesional.
Kebutuhan keterampilan
Ada beberapa keterampilan yang perlu dikembangkan agar dapat bersaing dengan teknologi. Pertama, keterampilan kognitif tingkat tinggi. Hal ini termasuk pemikiran kritis, pemecahan masalah, dan kemampuan untuk belajar secara mandiri. Keberadaan AI yang dapat mengotomatisasi tugas-tugas rutin, pekerjaan masa depan akan menuntut lebih banyak analisis dan penilaian yang tidak bisa dengan mudah digantikan oleh mesin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ketua-ikatan-guru-indonesia-igi-kota-lhokseumawe-jon-darmawan-mpd.jpg)