Citizen Reporter

Melihat Lebih Dekat Shenzhen, Kota Teknologinya Cina

Shenzhen, kota yang bertetangga dengan Hong Kong. Dahulu, Hong Kong di bawah persemakmuran Inggris sebagai salah satu daerah ekonomi maju di Cina. Kin

Editor: mufti
IST
RIZKIA ADITYA, Sp.OG., Dokter Spesialis Kandungan asal Banda Aceh, melaporkan dari Shenzhen, Cina 

RIZKIA ADITYA, Sp.OG., Dokter Spesialis Kandungan asal Banda Aceh, melaporkan dari Shenzhen, Cina

Bagi pencinta teknologi, tentu tidak akan asing dengan nama Shenzhen. Kota yang mampu mengubah dirinya dari kota nelayan menjadi kota industri modern, hi-tech, dan menjadi salah satu kota terbesar di Cina.

Beruntung, baru-baru ini saya berkesempatan menginjakkan kaki ke kota ini. Saya mendapatkan undangan pelatihan dan pengenalan kecanggihan teknologi alat pendeteksi janin (USG) di Kota Shenzhen dan Wuhan, Cina, dari perusahaan Mindray Medical International Ltd.

Saya begitu takjub mengetahui bahwa kota ini membuka diri terhadap perubahan ekonomi dan pembangunan.

Shenzhen, kota yang bertetangga dengan Hong Kong. Dahulu, Hong Kong di bawah persemakmuran Inggris sebagai salah satu daerah ekonomi maju di Cina. Kini, Shenzhen melesat melampauinya.

Kesan pertama saya, kota ini adalah kota besar. Dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, modern, dan sangat bersih. Tamannya tertata rapi. Tidak ada daun-daun yang berserakan.

Alat transportasi yang digunakan di sini umumnya mobil listrik, Tesla, dan jenis-jenis kendaraan lainnya buatan asli Cina.

Selain itu, mobil mewah ‘made in’ Eropa juga banyak di sini, seperti Maybach, BMW, Merci, Masserati, Porsche, dan lainnya. Yang uniknya, mobil mewah jenis Alphard justru menjadi mobil sewa (angkutan umum) di sini.

Pukul 07.00, jalanan mulai ramai, tetapi tidak ada tanda-tanda kemacetan. Jalannya sangat lebar dan kotanya tertata baik. Dari mal hingga pasar tradisionalnya juga sangat bersih, asyik buat berjalan kaki walaupun harus berhati-hati karena trotoar  di Shenzhen tidak hanya untuk pejalan kaki, tetapi juga untuk pesepeda manual dan sepeda listrik. Meskipun begitu, trotoarnya sangat lebar dan ramah disabilitas. Tidak tercium aroma busuk di sini, baik itu bau got maupun sampah. Salurannya dibuat di bawah tanah.

Di kota ini dibangun perusahaan-perusahaan besar. Posisinya sangat strategis karena memiliki pelabuhan besar. Inilah salah satu faktor Kota Shenzhen semakin cepat maju. Keluar masuk barang mudah.

Menurut informasi, di Shenzhen pejabat korup sangat minim. Aturannya, kalau ada yang nekat melakukannya akan ditembak mati dan keluarganya ikut dimiskinkan.

Dari segi keamanan, mereka sangat ketat, khususnya saat pemeriksaan di imigrasi. Tidak ada ‘privillage’ untuk warganya sendiri, baik masyarakat lokal maupun asing. Semua diperlakukan sama. Kekuatan senyum tidak berlaku di sini. Kalau membawa ‘power bank’ saja, tas kita tetap dibuka, apalagi benda-benda aneh lainnya. Saya rasa itu suatu yang wajar demi keamanan negara mereka.

Pengguna sosial media di sini dibatasi, tak sebebas di Indonesia. Jika pelancong ingin mengakses instagram, facebook, YouTube, dan lainnya harus menggunakan VPN. Masyarakat setempat bangga dengan produk negaranya sendiri, termasuk media sosial pun mereka punya sendiri.

Oh, ya, Shenzhen punya ‘sky tower’,  tertinggi di Shenzhen. Ketinggiannya 540 meter, punya 116 lantai. Hebatnya, kita bisa ke puncak tower hanya dalam 54 detik saja. Ya, karena tersedia lift dengan kecepatan 10 meter/detik. Artinya dari lantai bawah ke lantai paling atas yang ketinggiannya mencapai 600 meter tidak sampai satu menit. Meskipun begitu cepat, tidak sedikit pun terasa guncangan. Rasa melayang khas kalau naik lift juga tidak terasa. Benar-benar seperti sedang berdiri saja, tetapi kata penjaga lift, sesekali akan terasa berdengung di telinga karena perubahan ketinggian yang terlalu cepat.

Ke pabrik alkes

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved