Berita Pidie Jaya

Makam Abdullah Syafii di Pidie Jaya tak Terurus, Ini Profil Panglima GAM Miliki Ilmu Peurabon Itu

Setidaknya hal ini sesuai temuan Panitia Khusus (Pansus) II DPRA yang berziaran ke Kompleks Panglima GAM ini Selasa (9/7/2024), sehingga para anggota

Penulis: Idris Ismail | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/IDRIS ISMAIL
Pansus II DPR Aceh mengunjungi makam Tgk Abdullah Syafii di Gampong Kayee Jatoe, Kemukiman Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya, Selasa (9/7/2024) 

Orang Aceh menyebut Teungku Lah punya ileume peurabon (ilmu bisa menghilangkan diri).

Pada awalnya ia memimpin satu peleton dari Markas Komando Pusat Tiro.

Pada Mei 1995, pasukan Teungku Lah bergabung dengan pasukan Mantri Hamid Idris yang berbasis di Geulumpang Minyeuk, Pidie. 

Pasukan ini memiliki sekitar 15 pucuk senjata berbagai jenis dan tergolong pasukan besar GAM sebelum era reformasi.

Pada 1 Januari 1996, Teungku Lah dilantik menjadi Panglima GAM Komando Pusat Tiro menggantikan Komandan Tgk. Pawang Rasyid yang gugur pada pertengahan 1995.

Pasca reformasi, eskalasi konflik Aceh meningkat. Teungku Lah yang merupakan Panglima Tertinggi GAM secara otomatis menjadi buronan nomor 1 TNI.

Teungku Abdullah Syafie meninggal dunia pada 22 Januari 2002 di Jiem-Jiem, Kecamatan Bandar Baru, Pidie (kini Pidie Jaya) dalam sebuah penyergapan oleh TNI.

Sang istri (Fatimah binti Abdurrahman) dan dua pengawalnya bernama Muhammad bin Ishak dan Muhammad Daud bin Hasyim ikut meninggal dalam penyerangan tersebut.

Keempatnya dikuburkan di belakang rumah Teungku Lah di Cubo, Pide Jaya. 

Sebelum meninggal, Teungku pernah membuat wasiat, “Jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat.

Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah SWT agar mensyahidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apapun apabila negeri ini (Aceh) merdeka,” demikian wasiatnya. 

Kunjungan Pansus DPRA

Sebelumnya, Serambinews.com memberitakan Ketua Pansus II DPR Aceh, Anwar Husin SPd MAP bersama anggota H Dahlan Djamaluddin SIP, yang ikut berziaran ke kompleks makam ini menilai kompleks makam itu tak terurus.

"Padahal dulu pembangunan kompleks makam ini menggunakan APBA mencapai Rp 1,2 miliar.

Sangat disayangkan kompleks makam pejuang GAM paling disegani ini tak terurus dengan baik," kata Anwar Husin kepada Serambinews.com disela-sela kunjungan ini. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved