Opini

PON: Pelaku Ekonomi Kreatif Lokal Bisa Apa?

Semoga PON XXI Aceh mampu menjalankan misi sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses secara administrasi dan sukses membangkitkan perekonomian.

Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBI INDONESIA
Feri Irawan SSi MPd, Kepala SMKN 1 Jeunieb 

Feri Irawan SSi MPd, Kepala SMKN 1 Jeunieb

SAAT ini masyarakat Aceh bersiap menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut pada 9-18 September 2024. Event pesta rakyat tingkat nasional ini bakal dihadiri oleh para atlet cabang olahraga dan ofisial dari seluruh provinsi dari Sabang sampai Merauke. Pemerintah Aceh dan panitia PON tentu akan bekerja keras demi menyukseskan kegiatan ini. Dari merekrut sekian banyak anak muda untuk menjadi relawan PON hingga mempercepat pembangunan venue untuk penyelenggaraan berbagai cabang olahraga.Keberadaan PON menjadi sangat istimewa karena baru pertama kali diselenggarakan di Aceh.

Hadirnya PON ini bisa menjadi kampanye positif dalam menyampaikan pesan bahwa Aceh kaya akan keindahan dan pesona alamnya dan mampu melewati krisis konflik yang berkepanjangan serta bisa bangkit kembali setelah tragedi tsunami 2004. Jadi para tamu bisa melihat bahwa PON XXI bukan sekadar lomba olahraga, melainkan ajang untuk mempromosikan kekayaan alam di Bumi Serambi Mekah.

Maka mari sambut sejarah Indonesia, PON XXI adalah yang pertama digelar di dua provinsi sejak PON pertama tahun 1948. Ini bukti kebersamaan dan koordinasi bangsa Indonesia semakin baik karena bisa menyelenggarakan event besar di dua provinsi, Aceh dan Sumatera Utara. Rencananya, PON XXI 2024 mempertandingkan 67 cabang olahraga. Sebanyak 33 cabor di Aceh dan sisanya di Sumatera Utara.

Pertanyaannya, apakah PON Aceh berdampak pada pertumbuhan ekonomi kreatif? Jawabannya, bisa ya bisa tidak. Harusnya, Aceh yang memiliki potensi anak-anak muda kreatif berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang mengkombinasikan narasi kearifan budaya dan tradisi dengan teknologi.

Rencananya PON XXI dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo di Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya Aceh dan ditutup di Sumatera Utara oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Selama dua pekan penyelenggaraan PON, Aceh barangkali tidak hanya akan diuji seberapa mampu mereka menghelat ajang olahraga multievent kelas nasional ini. Lebih dari itu, dalam konteks yang lebih besar, Aceh bakal menjadi etalase berhasil atau tidaknya pemerataan pembangunan Indonesia Sentris yang kerap digaungkan Presiden Joko Widodo.

Sesungguhnya itulah salah satu intisari pemilihan tuan rumah PON di luar DKI Jakarta yang dilakukan sejak PON XV di Surabaya pada 2000 lalu. Alasan utamanya adalah demi memeratakan pembangunan sekaligus menggerakkan ekonomi daerah. Lewat rangsangan PON, bukan tidak mungkin daerah itu akan semakin berkembang dan kemudian naik kelas.

Contoh konkretnya Palembang, yang naik kelas sampai dua kali. Setelah sukses menyelenggarakan PON XVI 2004, kota itu berhasil pula menjadi tuan rumah SEA Games 2011. Kesuksesan dua ajang itu membuat Palembang ditunjuk lagi 'menemani' Jakarta menghelat Asian Games 2018. Kita tahu kemudian penyelenggaran Asian Games 2018 Jakarta-Palembang itu dipuji habis oleh sejumlah negara peserta dan publik Asia.

Bagaimana dengan Aceh? Tentunya Aceh sangat punya potensi untuk itu, bahkan melebihi Palembang. Salah satu kuncinya ialah bagaimana pemerintah daerah mampu melibatkan masyarakat Aceh dalam berbagai kegiatan selama PON. Masyarakat mesti diberdayakan agar menjadi bagian dari PON, tidak hanya sebagai penonton belaka. Pelibatan mereka akan menaikkan kualitas rasa keindonesiaan masyarakat Aceh.

Semoga PON XXI Aceh mampu menjalankan misi sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses secara administrasi dan sukses membangkitkan perekonomian. Tunjukkan kepada dunia bahwa event olahraga besar pun Aceh mampu melaksanakan dengan baik, lancar, aman, dan nyaman.

Menggerakkan ekonomi

PON Aceh bukan hanya sekadar pesta olahraga dan mempererat persahabatan antar provinsi, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian lokal untuk memperkuat ekonomi kreatif di Bumi Serambi Mekah. Diperkirakan ada ribuan orang yang berkunjung ke Aceh dan ada peredaran uang. Hal ini tentunya memberikan keuntungan dan peluang bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM lokal. Momen ini merupakan peluang emas yang harus dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi kreatif dan UMKM di Aceh.

Event nasional ini harus dimaksimalkan para pelaku ekonomi kreatif dan UMKM untuk mempromosikan produk-produk yang mereka miliki. Kita berharap para pegiat ekonomi kreatif dan UMKM ambil bagian memperkenalkan produk terbaiknya di depan ribuan tamu yang datang ke Aceh. Salah satu komoditas kuliner yang memiliki proses cerah di Aceh adalah kopi. Apalagi kebanyakan para pegiat kopi di Aceh adalah UMKM.

Dengan demikian, selain pelaku UMKM berperan mensukseskan PON Aceh 2024, mereka juga dapat mempergunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan produk khas Aceh kepada tamu yang datang. Keterlibatan UMKM di PON tersebut dapat mendorong perekonomian masyarakat Aceh lebih baik lagi ke depan serta memperkenalkan produk kepada tamu yang datang. Ini memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan manfaat dari acara akbar itu. Para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif supaya dapat menelurkan produk-produk termasuk souvenir yang berkualitas.

Mari kita sambut baik PON Aceh dan diharapkan memberi dampak pada ekonomi kreatif yang sangat kaya raya di Aceh. Karenanya, PON Aceh semestinya dimaknai pula sebagai penggerak ekonomi daerah, perangsang pembangunan sarana dan prasarana olahraga, juga pemacu pembangunan infrastruktur dasar.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved