Konflik Palestina vs Israel

Israel Huru-hara! Setelah Roket Hizbullah, Kini Massa Rusuh hingga Bobol Pangkalan IDF, Kenapa?

Israel kembali huru-huru, setelah terkena roket Hizbullah, kini rusuh sama warga sendiri hingga bobol Pangkalan Militer Senin, (29/7/2024) malam.

|
Penulis: Sara Masroni | Editor: Agus Ramadhan
Oren Ziv/AFP
Israel kembali huru-huru, setelah terkena roket Hizbullah, kini rusuh sama warga sendiri hingga bobol Pangkalan Militer hingga Senin, (29/7/2024) tengah malam. 

SERAMBINEWS.COM - Israel kembali huru-huru, setelah terkena roket Hizbullah, kini rusuh sama warga sendiri hingga bobol Pangkalan Militer.

Diketahui aktivis sayap kanan melakukan unjuk rasa hingga rusuh di pangkalan militer Israel di pangkalan Sde Teiman di Israel selatan dan pangkalan Beit Lid di Israel tengah hingga Senin (29/7/2024) tengah malam.

Dilansir dari Times of Israel pada Selasa pagi, peristiwa rusuh itu bermula setelah petugas Polisi Militer menahan sembilan prajurit cadangan di Sde Teiman pagi kemarin.

Dia ditahan atas dugaan melakukan penganiayaan serius terhadap seorang tahanan Palestina beberapa minggu lalu di fasilitas penahanan di pangkalan tersebut.

Tak terima, massa sayap kanan kemudian menyerbu fasilitas pangkalan IDF sebagai protes atas pemeriksaan terhadap prajurit cadangan yang dicurigai melakukan kekerasan terhadap tahanan Palestina.

Baca juga: Roket Hizbullah Tewaskan 12 Anak Israel saat Main Bola, Iran Beri Peringatan, IDF Siapkan Balasan

Baca juga: 12 Anak Tewas, Media Israel: Kabinet Diberi Banyak Waktu Bicara usai Keluhkan Serangan Asal-asalan

Beberapa pengunjuk rasa sayap kanan yang berkumpul di pangkalan Beit Lid sambil mengenakan seragam IDF dan masker wajah serta membawa senjata.

Anggota Knesset Likud, Tally Gotliv, difoto bersama mereka saat menyampaikan pidato di hadapan khalayak.

 

 

Disebut Rugikan IDF

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan kerusuhan oleh massa sayap kanan kemarin secara langsung merugikan keamanan Israel.

Selama sehari terakhir, IDF mengatakan pihaknya telah mempersiapkan serangan balasan terhadap Hizbullah di Lebanon.

Namun akibat kerusuhan tersebut, semuanya menjadi buyar dan terjadi pengalihan perhatian utama.

Perwira tinggi IDF, termasuk Kepala Staf Letnan Jenderal Herzi Halevi menghentikan diskusi penting di wilayah utara untuk menangani infiltrasi ke pangkalan.

Kepala Staf IDF itu kemudian mengunjungi pangkalan Beit Lid semalam setelah kerusuhan. Menurutnya, kerusuhan ini merugikan militer.

"Kami datang ke Beit Lid untuk memastikan tidak ada hal serius yang terjadi. Kedatangan perusuh dan upaya untuk menerobos masuk ke pangkalan adalah perilaku serius, melanggar hukum, mendekati anarki, merugikan IDF, keamanan negara, dan upaya perang," kata Halevi.

Baca juga: Ribuan Orang Kumpul Antar ke Pemakaman Anak-anak Israel yang Tewas Kena Roket Hizbullah

Sementara, beberapa kompi IDF dari Tepi Barat dan lainnya yang sedang berlibur dikirim ke pangkalan Beit Lid semalam, dan beberapa batalyon akan tiba di sana Selasa pagi.

12 Anak Tewas, Israel Rencana Serangan Balasan ke Lebanon

Diberitakan sebelumnya diberitakan, para menteri di Kabinet Israel memberikan wewenang mengizinkan Perdana Menteri (PM), Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan (Menhan), Yoav Galant memerintahkan serangan balasan terhadap kelompok pejuang Islam Hizbullah di Lebanon.

Respon ini diambil usai pihaknya kebobolan roket Hizbullah dan menghantam lapangan sepakbola kota Druze Majdal Shams, Dataran Tinggi Golan serta menewaskan 12 anak Israel, Sabtu (27/7/2024).

Dilansir dari Times of Israel Senin siang, pihaknya telah bersumpah membalas serangan Hizbullah di Lebanon, jet-jet tempur Israel menyerang sasaran-sasaran di Lebanon selatan pada Minggu kemarin.

Israel dilaporkan menembaki lokasi-lokasi di sana, tepat setelah tengah malam atau dini hari Senin saat Lebanon bersiap menghadapi serangan balik yang mungkin dilakukan Israel.

PM Israel Netanyahu dan Menhan Gallant melakukan pertemuan dengan anggota kabinet keamanan tingkat tinggi pada Minggu kemarin untuk membahas tanggapan Israel terhadap serangan Hizbullah yang menewaskan 12 anak di sana.

Menurut laporan kantor Perdana Menteri, selama pertemuan empat jam para anggota parlemen memberikan suara untuk memberikan wewenang Netanyahu dan Gallant memutuskan skala dan waktu respons Israel terhadap serangan roket mematikan di Golan, Sabtu lalu.

Menurut laporan surat kabar Yedioth Ahronoth, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, keduanya abstain dalam pemungutan suara.

Selama pertemuan puncak tersebut, para menteri diberi cukup waktu untuk berbicara setelah banyak dari mereka mengeluhkan cara yang asal-asalan dalam menyetujui serangan terhadap Yaman seminggu sebelumnya.

Para menteri juga membahas perundingan penyanderaan yang sedang berlangsung dengan kelompok Hamas, diperkirakan akan terpengaruh oleh tanggapan Israel namun direncanakan akan ada pertemuan khusus lainnya membahas persoalan itu.

Tuding Hizbullah Satu-satunya Penyebab

Israel menuding Hizbullah sebagai satu-satunya dalang penyebab serangan roket mematikan di Golan, Sabtu lalu.

“Roket yang membunuh anak laki-laki dan perempuan kami adalah roket Iran dan Hizbullah adalah satu-satunya organisasi yang memiliki roket itu di gudang senjatanya,” tulis kementerian luar negeri Israel.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga merilis bukti menunjukkan pecahan peluru yang ditemukan di lapangan sepak bola cocok dengan roket Falaq-1 buatan Iran yang secara eksklusif digunakan oleh Hizbullah di Lebanon.

Laporan IDF, Falaq-1 buatan Iran memiliki hulu ledak 50 kilogram dan jangkauan 10 kilometer.

Pihaknya juga menerbitkan jalur penerbangan roket berat tersebut yang diklaim peluncurannya berasal dari daerah Chebaa di Lebanon selatan.

Sementara PM Israel Netanyahu yang berada di AS untuk pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden, Wakil Presiden AS Kamala Harris, dan mantan presiden Donald Trump, mendarat di Israel pada pada Minggu tengah hari.

Dia mempercepat penerbangan pulang setelah serangan mematikan pada Sabtu lalu, dan langsung mengadakan pertemuan dengan kabinet keamanan untuk memutuskan tanggapan Israel terhadap serangan tersebut.

Bobol Sudah! Bom Meledak di Tel Aviv Ibu Kota Israel

Sementara diberitakan sebelumnya, bom dari pesawat tak berawak (drone) meledak Ibu Kota Israel, Tel Aviv pada Jumat (19/7/2024) dini hari.

Dilansir dari Times of Israel, ledakan tersebut menewaskan satu orang dan melukai delapan orang lainnya.

Saat drone berada di udara dan belum meledak, sirine peringatan milik Israel tidak menyala sama sekali.

"Kami menghimbau warga [lokal] untuk mendengarkan perintah Komando Front Dalam Negeri," demikian pernyataan polisi setempat.

"Untuk tidak datang ke lokasi kejadian dan tidak mendekati atau menyentuh sisa-sisa roket, yang kemungkinan besar berisi bahan peledak," sambungnya.

Ledakan itu didahului oleh suara menderu, berdasarkan video dari Tel Aviv yang dibagikan di media sosial dan oleh outlet media berbahasa Ibrani.

Polisi mengatakan bahwa petugas dan personel darurat menemukan mayat tak bernyawa saat mencari di daerah sekitar lokasi ledakan di pusat kota Tel Aviv.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi target udara yang meledak di Tel Aviv disebabkan oleh pesawat tanpa awak.

Pihaknya memulai penyelidikan awal menentukan bahwa target udara menghantam kota pesisir tersebut.

Pernyataan militer menekankan masalah ini sedang dalam penyelidikan menyeluruh, setelah pesawat nirawak tersebut berhasil memasuki wilayah udara Israel tanpa membunyikan sirene.

IDF juga mengatakan angkatan udara akan meningkatkan patroli dengan jet tempur untuk mempertahankan langit Israel

“Tidak ada perubahan pada perintah Komando Front Dalam Negeri,” tambahnya.

Sementara layanan ambulans mengatakan, delapan orang yang terkena bom pesawat tak berawak itu sedang dirawat di rumah sakit.

Dalam pembaruannya, layanan ambulans Magen David Adom mengatakan, pria yang tewas dalam insiden tersebut akibat pecahan peluru dari ledakan pesawat tak berawak di Tel Aviv.

Houthi Sudah Peringatkan

Sementara kelompok pejuang Islam dari Yaman, Houthi telah memperingatkan sebelumnya bahwa akan ada serangan yang menargetkan Tel Aviv dalam beberapa jam mendatang.

Hal diungkapkan sebagaimana melansir Reuters, Jumat siang.

Juru bicara militer Houthi Yaman mengatakan di platform X bahwa, kelompok itu akan mengungkapkan rincian tentang operasi militer yang menargetkan Tel Aviv.

Netanyahu Terang-terangan Ingin Dirikan Pemerintah Sipil di Gaza

Sementara diberitakan sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu secara terang-terangan menyampaikan ingin mendirikan pemerintah sipil di Gaza pasca-perang tanpa melibatkan Otoritas Palestina (PA).

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam beberapa minggu terakhir secara pribadi telah menarik kembali penentangannya terhadap keterlibatan individu-individu yang terkait dengan Otoritas Palestina dalam mengelola Gaza setelah perang melawan Hamas.

Hal ini sebagaimana disampaikan tiga pejabat yang mengetahui masalah tersebut kepada The Times of Israel, dilansir pada Selasa (2/7/2024).

Perkembangan ini terjadi setelah kantor Netanyahu selama berbulan-bulan mengarahkan lembaga keamanan untuk tidak memasukkan otoritas Palestina dalam rencana apa pun untuk pengelolaan Gaza pasca-perang.

Dua pejabat Israel itu mengatakan, perintah tersebut secara signifikan menghambat upaya untuk menyusun proposal realistis pasca-perang yang dikenal sebagai "hari setelahnya."

Secara terbuka, Netanyahu terus menolak gagasan kekuasaan otoritas Palestina atas Jalur Gaza.

Dalam wawancara yang dimuat Channel 14 minggu lalu, perdana menteri Israel itu tidak akan mengizinkan negara Palestina didirikan di wilayah pesisir tersebut.

"Tidak siap untuk memberikan [Gaza] kepada PA," ucap Netanyahu.

Sebaliknya, dia mengatakan kepada jaringan sayap kanan bahwa ia ingin mendirikan pemerintahan sipil di Gaza.

“Pemerintahan sipil, jika memungkinkan dengan warga Palestina setempat dan mudah-mudahan dengan dukungan dari negara-negara di kawasan tersebut,” ucap Netanyahu.

Namun secara pribadi, para pembantu utama Netanyahu menyimpulkan, individu-individu yang memiliki hubungan dengan PA adalah satu-satunya pilihan yang layak bagi Israel jika ingin mengandalkan warga Palestina setempat untuk mengelola urusan sipil di Gaza pasca-perang.

Hal itu sebagaimana dikonfirmasi dua pejabat Israel dan satu pejabat AS selama seminggu terakhir.

“Warga Palestina Lokal adalah kode untuk individu yang berafiliasi dengan PA,” kata seorang pejabat keamanan Israel.

Dua pejabat Israel menjelaskan, individu yang dimaksud adalah warga Gaza yang digaji oleh PA yang mengelola urusan sipil di Jalur Gaza hingga Hamas mengambil alih kekuasaan pada 2007, dan sekarang sedang diselidiki oleh Israel.

Pejabat Israel lainnya mengatakan kantor Netanyahu mulai membedakan antara pimpinan PA yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas dengan pegawai Otoritas Palestina tingkat bawah yang merupakan bagian dari lembaga yang sudah ada di Gaza untuk urusan administratif.

Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas dianggap belum secara terbuka mengutuk serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu.

(Serambinews.com/Sara Masroni)

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved