Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Menatap Rusia dari Meja Belajar Lenin

Revolusi Bolshevik sejak 1917 yang ditiup kencang oleh Lenin ini berhasil melintasi berbagai benua, termasuk di Indonesia.

Tayang:
Editor: mufti
IST
Prof. Dr. ISHAK HASAN, M.Si., Rektor  Universitas Teuku Umar Meulaboh melaporkan dari  Kazan, Tatarstan, Rusia 

Prof. Dr. ISHAK HASAN, M.Si., Rektor  Universitas Teuku Umar Meulaboh melaporkan dari  Kazan, Tatarstan, Rusia

Sebelum melangkahkan kaki di bumi Kazan, saya telah lama mengetahui tentang Provinsi Tatarstan ini. Sejak runtuhnya Uni Soviet Tahun 90-an keingintahuan saya tentang Rusia semakin kuat. Terlebih lagi saya sudah lama mengampu mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi yang salah satu materi penting saya ajarkan kepada mahasiswa saya adalah "Sistem dan Mazhab Ekonomi". Di antaranya "Sistem Ekonomi Sosialis" (Karl Marx dkk) versus "Sistem Ekonomi Kapitalis" (Adam Smith dkk).  Tokoh Vladimir Lenin sebagai pelanjut pemikiran Marx yang sering disebutkan dalam berbagai  literatur sejarah dan ekonomi ini adalah seorang figur penting dari kutub kekuatan "Sosialis-Marxis-Komunis",  warga Rusia ini pernah belajar di Kazan.

Vladimir Lenin (1870-1924) adalah tokoh penting dari rujukan Sosialis-Marxis-Komunis di Rusia. Pemikiran Lenin yang melanjutkan pemikiran Marx ini pada beberapa dekade yang lalu telah berhasil memengaruhi dan mewarnai dari setengah planet Bumi ini. Revolusi Bolshevik sejak 1917 yang ditiup kencang oleh Lenin ini berhasil melintasi berbagai benua, termasuk di Indonesia.

Beberapa dekade yang lalu kajian kedua kutub kekuatan ekonomi ini sangatlah seru dan menarik, baik dari segi teori maupun realitas  implementasinya. Beberapa negara besar di dunia yang berafiliasi dengan blok Barat (Amerika Serikat dan sekutunya) dan blok Timur (Rusia dan Sekutunya) saat itu telah melancarkan perang fisik dan berlanjut dengan perang dingin dengan ideologi politik dan ekonomi yang berbeda. Keduanya saat itu terlihat sangat seksi dan membanggakan, telah menampilkan wajah dari kemajuan yang mereka capai dengan sistem ekonomi dan politik yang mereka anut. Bahkan Indonesia juga telah pernah terpesona, terseret, dan ikut mewarnai perekonomiannya dari dua kutub kekuatan sistem ini. 

Pasang surut ideologi politik dan ekonomi yang berbeda ini, di masa lalu juga telah memengaruhi kebijakan ekonomi dan politik yang dijalankan rezim pemerintahan di Indonesia. Dalam lekuk sejarah Indonesia kita mengenal dengan rezim Orde Lama dan rezim Orde Baru dengan praktik sistem ekonomi dan politik yang berbeda. Kutub pemikiran  yang pernah dilaksanakan baik politik maupun ekonomi di zaman Orde Lama di bawah Presiden Soekarno,  walau tidak bertahan lama pernah berembus dari Rusia ini.

Saat kami diberi kesempatan memasuki ruang belajar Lenin di Universitas Federal Kazan (KFU) bersama delegasi Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haythar, Staf Senior Wali Nanggroe, Dr. Muhammad Raviq, dan Staf khusus Dr. Rustam Effendi beserta teman lainnya,  bulu roma saya terbangun sembari pikiran terbawa ke masa lalu saat-saat Lenin sang Revolusioner masih belajar di ruangan ini. Kami secara bergantian duduk dan mengambil sesi foto di tempat yang bersejarah itu, betapa KFU telah menorehkan satu dari lekuk sejarah dunia yang amat penting ini.

Kehadiran kami di KFU ini bukanlah ingin meniru Lenin atau ingin berguru pada sejarah dan ideologi Lenin. Sungguhpun sosok Lenin sudah diabadikan dalam bentuk sebuah patung berdiri tegak di depan Rektorat KFU, tetapi lebih kepada melihat dan belajar dari berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh universitas ini . Kemajuan yang di capai KFU dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta temuan yang berguna bagi umat manusia telah banyak dihasilkan dari hasil-hasil riset dari universitas ini. Fasilitas belajar yang lengkap dan laboratorium yang modern dan canggih patut menjadi contoh bagi kita untuk diterapkan di Indonesia.

Banyak karya dosen dan peneliti KFU ini telah dipatenkan sebagai karya yang monumental untuk kemaslahatan umat manusia di dunia. Di Museum KFU kami diperlihatkan berbagai peristiwa sejarah yang telah dilalui oleh KFU sebagai lembaga pendidikan tinggi yang telah meninggalkan jejak perkembangan ilmu pengetahuan, sosial, budaya, dan teknologi  melintasi zaman terpampang tercatat dengan baik dan rapi di ruang tengah universitas ini. Hanya tamu-tamu penting saja yang dipandu memasuki ruangan ini.    

Tur kami di dalam Kampus KFU dipandu oleh orang-orang hebat menguasai berbagai keahlian dan profesi mereka sangat menakjubkan. Kehadiran fasilitas modern dan muthakhir di universitas ini seperti laboratorium kesehatan, kedokteran, keperawatan, mobil elektrik sangat luar biasa. Demikian juga di Laboratorium IT (IT Park) telah menjadikan IT Education KFU menjadi World-Class IT Education in Kazan. Mahasiswa KFU juga sangat gesit dan bersemangat luar biasa dalam mempelajari teknologi robotik dan teknik kecerdasan buatan (AI). Seolah mereka berlomba meraih teknologi masa depan agar berada dalam genggaman mereka.  

Setelah melintasi berbagai fase sejarah yang penting di Rusia, saat ini KFU telah menjadi perguruan tinggi modern dan salah satu unggulan di Rusia. Banyak mahasiswanya yang berasal dari berbagai negara termasuk dari Aceh menimba berbagai bidang ilmu di sini. Ada hal yang sangat terkesan dari kunjungan saya di Kazan ini. Anggapan saya dan juga mungkin banyak orang bahwa negara ini masih sangat tertutup bagi bangsa luar ternyata salah. Ternyata rakyat Rusia yang bekerja di lingkungan universitas ini sangatlah ramah dan informatif terhadap apa yang sedang mereka kerjakan.

Satu hal lagi yang patut dijadikan pelajaran adalah bahwa tokoh penting yang telah membuat sejarah bagi Rusia semuanya dihormati. Buktinya mereka mengabadikannya dalam bentuk monumen penting seperti patung dan prasasti. Monumen dimaksud untuk merawat memori generasi baru Rusia dan dunia bahwa negara mereka telah ikut menentukan sejarah dunia. Tidak ada yang disembunyikan, walaupun sepak terjang dari tokoh tersebut telah menorehkan catatan kelam di masa lampau, tetapi ya itulah sejarah harus terus ditulis dan berjalan ke masa depan.

Bukti peninggalan dari karya-karya mereka saat ini telah menjadi magnet penting dalam mengungkit kemajuan ekonomi dan kemakmuran bagi rakyatnya. Hampir seharian penuh kami berada di KFU menyaksikan berbagai hal penting yang dicapai dari kemajuan universitas ini telah memberi arti penting bagi kami tentang bagaimana sebuah universitas berkontribusi sangat penting untuk kemajuan sebuah bangsa.

Saat ini KFU, Tatarstan, dan Rusia tidak lagi dominan dalam bayangan Lenin, tetapi patung Lenin masih berdiri kokoh di halaman Kampus KFU. Semua itu hanyalah sekeping penghargaan terhadap sebuah sejarah, tentang masa lalu  untuk berjalan dengan hentakan langkah kuat ke masa depan. Semoga kunjungan saya di Kazan kali ini tidaklah berakhir di sini. Masih banyak sisi lain yang memesona memancarkan kehebatan Kazan yang perlu terus disaksikan oleh mata. Sesaat, ketika saya meninggalkan Bandara Internasional Kazan mata saya seperti tidak berkedip masih terbawa jauh ke sudut Kremlin Kazan dan aliran Sungai Volga nan indah berbunga di seberangnya. Kazan nan indah sebagai permata Rusia telah memikat saya untuk segera kembali. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved