Opini
Megathrust dari Kacamata Iman
Sejarah gempa bumi sebenarnya jauh lebih tua dari sejarah umat manusia itu sendiri. Jauh sebelum manusia dihadirkan Allah di muka bumi, bumi ini terus
Ir Faizal Adriansyah MSi, Widyaiswara Ahli Utama LAN RI dan Mantan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh
BEBERAPA minggu ini yang menjadi trending topik adalah megathrust. Sebenarnya istilah megathrust mulai muncul dan banyak diperbincangkan kalangan ahli geologi adalah setelah gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004. Aceh yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan akan terjadi gempa besar ternyata terjadi akibat Megathrust.
Pasca gempa Aceh para ahli geologi mengamati dengan serius 2 segmen berpotensi gempa Megathrust yaitu Mentawai-Siberut dan Selat Sunda karena keduanya terpantau sudah lama tidak ada pelepasan energi dikhawatirkan energi gempanya terakumulasi dan akan lepas dalam skala besar sehingga dapat memicu munculnya tsunami dahsyat bisa jadi melebihi tsunami Aceh.
Muncul kembali istilah megathrust dipicu oleh adanya gempa tanggal 8 Agustus 2024 yang terjadi di Nankai Jepang skala 7,1 magnitudo yang merupakan gempa megathrust. Mengomentari gempa di Jepang tersebut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Daryono mengingatkan bahwa gempa di dua megathrust di Indonesia tinggal menunggu waktu. Dalam keterangan resminya, Daryono memperingatkan Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut, sudah lama tak melepaskan energinya (CNN Indonesia, 19 Agustus 2024).
Sebelum memahami megathrust ada baiknya kita mengenal dulu sejarah gempa bumi. Sejarah gempa bumi sebenarnya jauh lebih tua dari sejarah umat manusia itu sendiri. Jauh sebelum manusia dihadirkan Allah di muka bumi, bumi ini terus bergolak, sehingga gempa-gempa besar silih berganti dimuka bumi akibat pergerakan lempeng-lempeng bumi yang sangat aktif.
Kita tidak bisa membayangkan kalaulah pada awal pembentukan benua manusia sudah hadir di bumi, maka bisa dipastikan manusia akan punah dalam seketika. Karena begitu dahsyatnya gejolak yang terjadi di alam, tabrakan lempeng menjadikan gempa dan tsunami terjadi dimana-mana.
Letusan gunung api silih berganti di sebagian besar dunia, hari ini bekas letusan yang amat dahsyat itulah yang menjadikan bumi subur, sehingga ada hutan, sawah dan ladang. Itulah skenario Tuhan pencipta alam semesta sebelum menempatkan manusia sebagai Khalifah di muka bumi. Allah telah menyiapkan semua apa yang akan dibutuhkan oleh manusia agar bisa melangsungkan kehidupan di muka bumi (QS. Al Araf ayat 10).
Seiring dengan gempa-gempa besar yang amat dahsyat pada jutaan tahun yang lalu terbentuklah “wajah bumi” nan indah seperti hari ini ada pegunungan yang menjulang tinggi, deretan gunung api yang membentuk seakan seperti busur, daratan, lembah, ngarai.
Demikian juga di bawah samudera yang dalam terbentuk roman muka bumi seperti di daratan yang sering kita sebut palung karena ada gunung, lembah dan jurang. Di dalam Samudera inilah berbagai ragam ikan disediakan Sang Pencipta untuk dinikmati manusia. Ikan di laut sejak Nabi Adam hingga kini dan sampai kapanpun selalu tersedia berlimpah tanpa pernah kita memberi makan ikan-ikan tersebut.
Selanjutnya di dalam perut bumi terjadi banyak rekahan dan patahan sehingga terbentuk cebakan-cebakan mineralisasi logam seperti emas, perak, tembaga dan mineral lainnya yang berharga. Pembentukan bahan bakar fosil seperti minyak, gas, batubara juga terjadi dalam masa proses pergerakan lempeng-lempeng bumi jutaan tahun yang lalu. Karena itu semua bahan tambang tersebut tidak bisa diperbaharui lagi kalau sudah diambil karena untuk pembentukannya membutuhkan dinamika bumi yang dahsyat dan waktu yang berjuta tahun.
Bumi tempat kita hidup sekarang ini awalnya hanya terdiri dari satu benua besar yang dikenal dengan nama Pangea, hal ini diperkirakan terjadi pada 240 juta tahun yang lalu. Pangea dikelilingi oleh Samudera dengan nama Panthalasa. Benua raksasa ini kemudian pecah menjadi dua yaitu Gondwana di sekitar kutub selatan bumi dan Laurasia yang berada di sekitar kutub utara.
Kedua benua tersebut bergerak perlahan ke arah equator bumi yang pada akhirnya terpecah membentuk 7 kepingan benua, yaitu Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartika, Eropa, dan Australia. Ketujuh benua ini kalau kita lihat ada sebagian seperti bentuk permainan puzzle dapat kita pasangkan, misalnya Amerika Selatan bagian timur dengan teluk Afrika.
Cincin api
Mengapa lempeng-lempeng bumi yang besar bisa bergerak? Hal ini dijelaskan oleh para ahli dikarenakan adanya arus konveksi di bagian bawah bumi, seperti dalam teori ketika kita merebus air, maka air yang panas akan berpindah ke atas sebaliknya yang dingin ke bawah, hal ini diyakini menjadi tenaga yang menggeser lempeng-lempeng bumi tersebut.
Peristiwa pembentukan benua-benua sebenarnya sudah selesai sekitar 20 juta tahun yang lalu dengan lahirnya 7 benua. Lalu pertanyaannya mengapa sekarang masih sering terjadi gempa? Dapat dijelaskan bahwa gempa-gempa yang terjadi saat ini bukan lagi gempa besar untuk membentuk benua seperti jutaan tahun yang lalu.
Gempa saat ini terjadi karena stabilitas tekanan lempeng satu sama lain terganggu. Sebagai contoh ketika ada sebuah meja yang di atasnya penuh dengan benda seperti gelas, piring, buku dll, ketika meja tersebut tidak ada yang mendorong maka benda di atasnya aman saja. Namun ketika meja tersebut didorong bergeser maka benda di atasnya bergerak, bahkan bisa berjatuhan tergantung kekuatan dorongan terhadap meja tersebut.
Begitulah gempa, saat stabil lempeng-lempeng bumi maka tidak akan ada getaran, namun suatu saat tekanan lempeng satu sama lain bisa saja membuat salah satu lempeng melemah hingga terdorong, maka terjadilah gempa. Para ahli sudah dapat memetakan dimana saja titik pertemuan lempeng-lempeng tersebut, tempat pertemuan lempeng ini diwaspadai sebagai daerah yang rawan terjadinya gempa. Daerah pertemuan lempeng tersebut disebut Cincin Api atau ring of fire, dan salah satunya adalah kepulauan Indonesia.
Posisi Kepulauan Indonesia menjadi kompleks dan rumit karena dijepit oleh 3 lempeng besar dunia yaitu Lempeng Eurasia bergerak 0-3 cm per tahun, kemudian Lempeng Pasifik bergerak 10 cm per tahun dan Lempeng Indo-Australia bergerak 5-7 cm per tahun.
Tempat pertemuan lempeng inilah yang menjadi sumber gempa besar. Untuk Indonesia ada 2 Megathrust yang perlu diwaspadai yaitu Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut, karena menurut para ahli kedua segmen tersebut sudah lama dipantau tidak melepaskan energi dan ini mengkhawatirkan kalau suatu saat energinya lepas dalam bentuk gempa maka diperkirakan gempanya akan besar dan dapat menimbulkan tsunami yang dahsyat.
Bagaimana kita menyikapi informasi ini? Dari sisi sains ini adalah prediksi yang bisa saja terjadi hanya waktunya tidak bisa diketahui. Ada yang mengatakan bertanya kapan gempa sama dengan bertanya kapan kita mati? Karena sama-sama tidak diketahui.
Dari sisi iman kita harus yakin semua yang terjadi di alam ini atas kendali Allah, maka perbanyak ibadah, melakukan amal shaleh, menjauhi dosa dan maksiat adalah bagian dari usaha kita untuk mendapatkan pertolongan Allah. Gempa adalah makhluk Allah maka gempa di bawah kendali Allah, bisa saja energi gempa lepas tapi tidak menimbulkan bencana, semua atas kuasa Allah SWT.
| Menata Standar Pendidikan Menuju Ekosistem yang Lebih Bermakna |
|
|---|
| Dampak Bencana dan Antisipasi Perubahan RPJMA 2025-2029 |
|
|---|
| Bencana yang tak Datang “Tiba-Tiba”, Cermin Gagalnya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Pemerintah |
|
|---|
| Pelajaran dari “Sabotase Baut Jembatan” |
|
|---|
| Keterbukaan Kawasan Strategis Regional: Pilar Pembangunan Ekonomi Aceh di Pentas Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Faizal-Adriansyah-OKEH.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.