Rabu, 22 April 2026

Berita Aceh Timur

Rumah Baca Saleum Cahaya Aceh Timur Bedah Novel Paya Nie

Diskusi diawali dengan pembahasan latar belakang novel, alur cerita, serta beberapa elemen penting seperti konflik Aceh, peran perempuan, dan kehidupa

|
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Mursal Ismail
For Serambinews.com  
Rumah Baca Saleum Cahaya, bedah buku Paya Nie, di Dubai Coffee, Aceh Timur, Jumat (27/9/2024) 

Diskusi diawali dengan pembahasan latar belakang novel, alur cerita, serta beberapa elemen penting seperti konflik Aceh, peran perempuan, dan kehidupan di Paya Nie, Kabupaten Bireuen.

Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI Rumah Baca Saleum Cahaya menggelar diskusi dan bedah buku Novel Paya Nie, Jumat (27/9/2024) di Dubai Cafe, Aceh Timur.

Diskusi interaktif dan penuh makna ini dipandu Ida Fitri, penulis Buku Paya Nie, bersama dengan Azhari Aiyub, penulis Kura-Kura Berjenggot.

Diskusi diawali dengan pembahasan latar belakang novel, alur cerita, serta beberapa elemen penting seperti konflik Aceh, peran perempuan, dan kehidupan di Paya Nie, Kabupaten Bireuen.

Pembahasan semakin menarik ketika peserta aktif mengajukan pertanyaan, yang dijawab dengan pandangan-pandangan mendalam oleh para pemateri.

Ketua Rumah Baca Saleum Cahaya, Ita Khairani, menjelaskan bahwa acara bedah buku ini diadakan sebagai upaya untuk meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda Aceh Timur.

Menurutnya, kegiatan literasi semacam ini penting untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca di kalangan anak muda.

Baca juga: Roy Suryo Dilaporkan ke Bareskrim Polri Terkait Tudingan Akun Fufufafa Milik Gibran

"Kami berharap dengan acara seperti ini, generasi muda semakin cinta terhadap literasi," tuturnya.

Ita juga mengungkapkan alasan pemilihan novel Paya Nie sebagai materi diskusi.

Buku ini mengangkat tema perempuan dan konflik di Aceh, yang diharapkan dapat membuka wawasan generasi muda tentang sejarah dan perjuangan di masa lalu.

Sementara itu, Azhari Aiyub menyampaikan bahwa diskusi ini diharapkan bisa memicu lebih banyak kegiatan serupa di Aceh Timur.

"Dengan adanya bedah buku, orang akan tertarik untuk membaca, dan pada akhirnya, akan muncul keinginan untuk menulis," ujar Azhari.

Ia menambahkan, Aceh memiliki banyak penulis hebat, namun dukungan terhadap para penulis muda masih sangat kurang.

Baca juga: Tim FKH USK Latih Warga Layeun Leupung Aceh Besar Buat Sanitizer Food Grade Daun Si Khoh-Khoh

"Saya sangat terkejut dan senang acara ini digelar di Idi Rayeuk. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi para penulis muda untuk terus berkarya," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved