Cahaya Aceh

Keukarah, Kue 'Sarang Burung' Cemilan Tradisional Khas Aceh yang Masih Eksis di Zaman Modern

Kue Keukarah bukan hanya sebuah cemilan, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan kekayaan kuliner Aceh. 

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Safriadi Syahbuddin
Keukarah, Kue 'Sarang Burung' Cemilan Tradisional Khas Aceh yang Masih Eksis di Zaman Modern - Keukarah-Kue-Tradisional-Khas-Aceh-01.jpg
FOR SERAMBINEWS.COM
Keukarah, camilan tradisional khas Aceh yang masih eksis hingga zaman modern.
Keukarah, Kue 'Sarang Burung' Cemilan Tradisional Khas Aceh yang Masih Eksis di Zaman Modern - Keuakrah-Kue-Tradisional-Khas-Aceh-02.jpg
FOR SERAMBINEWS.COM
Keukarah, camilan tradisional khas Aceh yang masih eksis hingga zaman modern.
Keukarah, Kue 'Sarang Burung' Cemilan Tradisional Khas Aceh yang Masih Eksis di Zaman Modern - Keukarah-Kue-Tradisional-Khas-Aceh-03.jpg
FOR SERAMBINEWS.COM
Keukarah, camilan tradisional khas Aceh yang masih eksis hingga zaman modern.

SERAMBINEWS.COM, MEULABOH - Kue Keukarah, cemilan tradisional khas Aceh, tetap mempertahankan eksistensinya di tengah maraknya gempuran jenis camilan modern.

Kue Keukarah yang berbentuk seperti jaring atau sangkar burung ini terbuat dari bahan sederhana seperti tepung beras dan gula merah. Namun rasanya yang gurih dan manis telah memikat banyak orang selama bertahun-tahun.

Dikenal sebagai camilan yang sering dihidangkan dalam acara-acara adat, perayaan, hingga jamuan untuk tamu, kue Keukarah menjadi salah satu simbol kuliner tradisional Aceh yang sarat akan makna.

Proses pembuatannya yang memerlukan keterampilan khusus membuat kue Keukarah tidak hanya unik dari segi rasa, tetapi juga dari bentuknya yang menarik.

Meskipun saat ini banyak muncul cemilan modern, Keukarah tetap diminati oleh masyarakat Aceh dan juga wisatawan yang berkunjung. 

Beberapa toko kue tradisional dan pasar-pasar di Aceh masih menjual Kue Karah sebagai oleh-oleh khas, dan banyak orang yang tertarik untuk mencoba cita rasa tradisional ini.

Nur Sarifah, warga Aceh Barat ini merupakan salah seorang produsen tradisonal yang masih bertahan hingga sekarang.

Ia sudah memulai usaha generasi ini sejak tahun 2018, dengan nama usaha ‘Kak Nur’ yang beralamat di Jalan Nasional Meulaboh-Tapaktuan, Desa Langung, Kecamatan Mereubo, Aceh Barat.

Dalam sehari, Nur bisa memproduksi hingga 500 Keukarah, dan bahkan bisa lebih jika bertepatan dengan hari-hari besar.

“Saya sudah berjualan sejak 2018, dan Alhamdulillah dalam sehari bisa membuat 500 kue Keukarah,” ungkapnya.

Nur mengatakan, banyak pembeli masih didominasi oleh masyarakat lokal.

“Banyak orang-orang di sekitar (yang beli), karena di sini kalau lagi ada acara orang meninggal masih bawa kue karah, juga banyak pembeli asli Aceh untuk oleh-oleh,” sebutnya.

Namun, kata Nur, kue Keukarah yang diproduksinya ini belum dipasarkan di marketplace, sebab mudah hancur. 

“Kalau untuk jualnya masih di kedai karena kalau untuk buka jasa online gitu agak susah karna Keukarah ini rapuh dan cepat rusak,” jelasnya.

Untuk harganya, kue Keukarah ini dibandrol cukup ekonomis yakni Rp 1.000/satuan untuk ukuran yang kecil.

Keberlanjutan Kue Karah tidak lepas dari usaha para pembuat kue tradisional di Aceh yang terus melestarikan resep turun-temurun ini. 

Kue Keukarah bukan hanya sebuah cemilan, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan kekayaan kuliner Aceh. 

Eksistensinya hingga saat ini membuktikan bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat istimewa di tengah perubahan zaman.

Di Aceh Barat umumnya berbentuk segitiga, ukurannya pun beragam dan inilah yang membuat Kue Karah di Bumi Teuku Umar ini berbeda dari daerah lainnya.

Keukarah, camilan tradisional khas Aceh yang masih eksis hingga zaman modern.
Keukarah, camilan tradisional khas Aceh yang masih eksis hingga zaman modern. (FOR SERAMBINEWS.COM)

Yeni, perempuan muda asal Aceh Utara ini merupakan seorang penikmat cemilan tradisonal kue karah ini.

Ia lebih suka menikmati kue karah dengan teh manis atau kopi khas Aceh. 

“Rasanya cocok sekali karena manisnya kue karah berpadu dengan kelembutan rasa teh. Tapi kalau dengan kopi Aceh juga jadi pilihan yang pas. Rasa pahit kopi membuat manisnya kue lebih terasa,” tuturnya.

Yeni mengungkapkan, kue karah bukan hanya sebuah makanan, tapi juga bagian dari tradisi dan budaya Aceh.

Kue ini biasanya disajikan pada acara-acara penting, seperti pernikahan atau hari besar. 

Ia pun mengajak generasi muda untuk melestarikan cemilan tradisional khas Aceh ini agar tidak hilang.

“Generasi muda mungkin lebih suka camilan modern, tapi saya harap mereka tetap melestarikan makanan ini,”

“Saya kadang mencoba membagikan kue karah ke anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya agar mereka tahu warisan kuliner kita,” pungkasnya.(serambinews.com/agus ramadhan)

CEK ARTIKEL LAINNYA TENTANG WISATA ACEH DI SINI

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved