Berita Banda Aceh
Tragedi Pembakaran Santri Aceh, ISAD Minta Pesantren di Langkat Serius Tanamkan Adab & Kasih Sayang
“Kami mengecam keras tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun, terlebih di lembaga pendidikan Islam yang seharusnya menjadi tempat mengajarkan akhlak"
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Yeni Hardika
Tragedi Pembakaran Santri Aceh, ISAD Minta Pesantren di Langkat Serius Tanamkan Adab dan Kasih Sayang
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, Dr Teuku Zulkhairi, menyampaikan rasa duka mendalam sekaligus mengecam keras tragedi pembakaran yang menimpa Adab Aulia Rizki.
Ia merupakan seorang santri dan pengurus di Pesantren Tahfiz Qur’an An-Nur, Langkat, Sumatera Utara yang meninggal dunia setelah dibakar oleh rekan sesama santri saat sedang tidur.
Korban merupakan santri asal Kampung Jaluk, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Teuku Zulkhairi mengatakan bahwa peristiwa ini bukan hanya tragedi yang menyakitkan bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi pukulan keras bagi dunia pendidikan Islam, khususnya pesantren.
"Kami dari ISAD menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban dan seluruh santri Pesantren An-Nur,”
“Kami mengecam keras tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun, terlebih di lembaga pendidikan Islam yang seharusnya menjadi tempat mengajarkan akhlak mulia dan kedamaian. Dan pelakunya harus dihukum setimpal," ujarnya dalam keterangan pers, Rabu (16/10/2024) malam.
Zulkhairi menambahkan, tragedi ini harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan, pembinaan, dan pendidikan di pesantren Tahfiz Qur’an An-Nur, Langkat Sumatera Utara ini.
Dalam konteks ini, kata Zulkhairi, Islam menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam mendidik santri, yang mencakup pengembangan aspek spiritual (tazkiyah an-nafs), mental, dan fisik.
Menurutnya, beberapa konsep kunci dalam pendidikan Islam yang perlu diperkuat adalah tarbiyah ruhaniyyah (pembinaan spiritual) dan adab (etika dan tata krama).
"Pesantren harus lebih serius dalam menanamkan adab, seperti yang diajarkan oleh para ulama klasik, di mana pengawasan terhadap hubungan antar-santri menjadi penting untuk mencegah perilaku menyimpang,”
“Pembentukan akhlak yang kuat melalui pendekatan personal, perhatian penuh dari para pengasuh, dan pemahaman mendalam tentang prinsip saling menghargai dalam Islam harus ditanamkan sejak awal," jelasnya.
Zulkhairi juga menyampaikan bahwa tragedi ini menggambarkan betapa pentingnya peran muraqabah, yaitu pengawasan internal dan eksternal di pesantren.
"Muraqabah tidak hanya terkait dengan pengawasan fisik, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan diawasi oleh Allah. Santri harus dididik untuk memahami bahwa akhlak yang baik bukan hanya diamalkan di depan orang lain, tetapi dalam setiap aspek kehidupan mereka, di tengah-tengah mereka sendiri," paparnya.
Dia mengusulkan agar setiap pesantren meningkatkan pelatihan pengelolaan emosi dan bimbingan intensif kepada santri yang memiliki masalah perilaku, serta menekankan pendekatan tahdhib an-nafs (penyucian jiwa) sebagai fondasi pendidikan karakter.
| Baleg DPR RI Bahas Revisi UUPA dalam Rapat di Anjong Mon Mata |
|
|---|
| USK jadi Host Kick Off PPK 2026, BI Gandeng 6 Kampus di Aceh |
|
|---|
| Mualem Dorong Otsus 2,5 Persen, Sebut Aceh Butuh Rp40 Triliun untuk Bangkit |
|
|---|
| Telkomsel Gelar IndonesiaNEXT 2026, Pengembangan Talenta Digital Berbasis AI untuk Generasi Muda |
|
|---|
| Perkuat Daya Saing Global, Mahasiswa USK Ikuti Student Exchange ke Malaysia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Teuku-Zulkhairi-MA-kita-semua-pendosa.jpg)