Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Belajar Dari Jepang Cara Wariskan Memori Bencana

Di museum Jepang, penggunaan kamera atau smartphone dilarang kecuali di area tertentu, sehingga pengunjung lebih fokus pada pembelajaran

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Rizanna Rosemary, MHC., PhD (Dosen dan Peneliti TDMRC USK) 

Rizanna Rosemary, MHC., PhD (Dosen dan Peneliti TDMRC USK), melaporkan dari Jepang

MEMPELAJARI bencana alam dapat dilakukan dengan cara yang interaktif dan menyenangkan.

Salah satu pengalaman ini saya dapatkan saat berkunjung ke The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial Museum di Kota Kobe, Jepang, yang menyimpan kenangan Gempa Kobe tahun 1995.

Selain museum tersebut, tim dari Aceh dan saya juga mengunjungi CSEAS Library, Kyoto City Disaster Prevention Center, Kantor JICA cabang Kobe, dan The National Diet Library di Kyoto. 

Studi banding ini adalah bagian dari "Sakura Science Exchange Program 2024" yang berlangsung di Kyoto, Jepang, dari 19 hingga 26 Oktober 2024.

Program ini diselenggarakan oleh Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Universitas Kyoto dengan dukungan dari Japan Science and Technology Agency (JST).

Kolaborasi ini melibatkan Tsunami Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) dan Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala serta berbagai lembaga arsip di Aceh, seperti BAST Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Museum Tsunami Aceh, dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Aceh.

Saya memimpin tim Aceh yang terdiri dari delapan orang, dan kegiatan ini difasilitasi oleh Associate Professor Nishi Yoshimi dari CCEAS Kyoto.

Museum Tsunami Aceh dan The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial Museum memiliki kesamaan dalam menyimpan memori bencana alam, tetapi dengan perbedaan dalam pengelolaan dan perilaku pengunjung.

Di museum Jepang, penggunaan kamera atau smartphone dilarang kecuali di area tertentu, sehingga pengunjung lebih fokus pada pembelajaran melalui media visual, audio, dan tulisan tentang pengalaman para penyintas gempa Kobe.

Sebaliknya, di Museum Tsunami Aceh, pelarangan hanya berlaku di ruang teater, sementara pengunjung lainnya cenderung lebih fokus mengambil gambar dan merekam untuk konten media sosial, yang membuat proses pembelajaran tentang bencana kurang optimal.

Untuk meningkatkan pembelajaran di museum, diperlukan pendekatan yang lebih interaktif dan aturan yang lebih efektif, sehingga pengunjung dapat belajar lebih mendalam dari kenangan dan pengalaman para penyintas bencana alam seperti Gempa dan Tsunami Aceh. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved