Cahaya Aceh

Kapal PLTD Apung, Monumen Sejarah Saksi Bisu Tsunami Aceh 2004 dan Daya Tarik Wisata di Banda Aceh 

Zohatta juga mengungkapkan perasaannya saat ke kapal tersebut, ia merasa sedih saat membayangkan tragedi tsunami tersebut.

Editor: Agus Ramadhan
Kapal PLTD Apung, Monumen Sejarah Saksi Bisu Tsunami Aceh 2004 dan Daya Tarik Wisata di Banda Aceh  - Kapal-PLTD-Apung-0101.jpg
SERAMBINEWS.COM/Syifa Salsabila
Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung, monumen bersejarah yang berada di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Kamis (24/10/2024).
Kapal PLTD Apung, Monumen Sejarah Saksi Bisu Tsunami Aceh 2004 dan Daya Tarik Wisata di Banda Aceh  - Wisatawan-asal-Malaysia-bersama-warga-lokal-saat-mengunjungi-Kapal-PLTD-Apung.jpg
SERAMBINEWS.COM/Syifa Salsabila
Wisatawan asal Malaysia bersama warga lokal saat mengunjungi Kapal PLTD Apung di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Kamis (24/10/2024).

Laporan Syifa Salsabila

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung 1 adalah kapal generator listrik tenaga diesel milik PLN yang sekarang berada di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh

Kapal ini berbobot 2.600 ton, dengan panjang 63 meter, dan luas 1.600 meter persegi. 

PLTD ini memiliki kapasitas sebesar 10,5 megawatt dan memasok listrik untuk Kotamadya Aceh dan Ulee Lheu.

Awalnya, PLTD Apung 1 ini berlabuh di Ulee Lheu dan akhirnya terdampar di Punge Blang Cut karena diseret oleh gelombang dahyast Tsunami Aceh 26 Desember 2004. 

Saat kejadian, kapal PLTD Apung sedang berlabuh di pelabuhan Ulee Lheu yang jaraknya lebih kurang 5 km dari Gampong Punge Blang Cut.

Kapal sedang berlabuh dan baru saja diisi bahan bakar penuh. Awak kapal yang bekerja saat itu berjumlah 12 orang.

Sekitar pukul 7.30 WIB, terjadi gempa dengan kekuatan 9,3 skala Richter.

Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung, monumen bersejarah yang berada di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Kamis (24/10/2024).
Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung, monumen bersejarah yang berada di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Kamis (24/10/2024). (SERAMBINEWS.COM/Syifa Salsabila)

Setelah sekitar 10 menit kemudian air surut ke arah laut dengan jarak kurang lebih 1 km dari garis pantai, dan saat itu posisi kapal PLTD menjadi miring ke arah (dalam) pelabuhan.

Semua awak kapal berlari dan melompat ke arah daratan dan tidak lama kemudian, terdengar suara ledakan dari arah laut sebanyak tiga kali. 

Setelah suara ledakan, air laut langsung naik kembali ke arah daratan dengan cepat. Gelombang air mengisi kembali pelabuhan, menghantam kapal, dan menghanyutkan kapal ke arah kota. 

Setelah tsunami, PLN berniat untuk mengembalikan kapal ini ke laut, dikarenakan kondisi mesin tidak mengalami kerusakan parah. Tetapi pemerintah setempat berkeinginan untuk menjadikannya tempat wisata bersejarah.

Wisatawan asal Malaysia bersama warga lokal saat mengunjungi Kapal PLTD Apung di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Kamis (24/10/2024).
Wisatawan asal Malaysia bersama warga lokal saat mengunjungi Kapal PLTD Apung di Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh, Kamis (24/10/2024). (SERAMBINEWS.COM/Syifa Salsabila)

Akhirnya, PLN hanya mencabut mesin-mesinnya dan kapal ini pun dijadikan sebagai monumen sejarah saksi bisu dahsyatnya tsunami Aceh 2004. 

Kapal PLTD Apung berdiri megah di tengah perumahan warga Punge Blang Cut.

Setiap harinya, kapal ini dikunjungi oleh banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Salah satu wisatawan yang sering mengunjungi tempat wisata ini berasal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. 

Hal ini juga dikonfirmasi oleh Zohatta Mohammad Yusuf, wisatawan asal Selangor, Malaysia yang sudah dua kali mengunjungi kapal tersebut. 

“Saya berasal dari Selangor, Malaysia, ini menjadi kunjungan yang kedua kali saya kesini, jadi saya membawa rombongan agar mereka mengetahui tragedi tsunami ini,"

"Kapal ini terlihat sangat megah dan ada banyak momen yang bisa diabadikan,” ungkap Zohatta pada Serambinews, Kamis (24/10/2024).

Zohatta juga mengungkapkan perasaannya saat ke kapal tersebut, ia merasa sedih saat membayangkan tragedi tsunami tersebut.

“Pertama kali kesini, saya tidak bisa berkata-kata melihat ilustrasi tragedi ini, benar-benar sakit dengan korban yang banyak dan kehidupan yang tak terurus, banyak yang kehilangan keluarganya, saya merasa sangat sedih apalagi yang merasakannya,” jelasnya.

Ia mengakui tidak pernah bosan mengunjungi monumen bersejarah ini karena selalu ingin mencari tahu sejarah-sejarah lainnya. 

“Saya bersama istri sudah dua kali ke sini, kami tidak pernah bosan untuk mengunjungi dan mengetahui monumen sejarah lainnya yang menjadi saksi tsunami,” tambahnya.

Wisatawan Malaysia lain juga mengatakan bahwa mereka sangat kagum kepada masyarakat yang berada di sekitar yang sanggup menjalankan aktivitas kembali setelah tsunami.

Pastinya mereka sangat trauma terhadap bencana yang terjadi.

Bagi sebagian wisatawan, kapal ini tidak hanya indah, tetapi juga mengingatkan mereka akan bencana tsunami dan para korban yang tidak selamat.

“Orang sekarang senang-senang waktu melihat dan naik kapal ini, berfoto-foto. Sedangkan, kalau kita bayangkan dulu di area ini bahkan di bawah kapal ini banyak mayat yang terjepit dan tertimpa,” ujar salah satu wisatawan asal Medan.

Di balik keindahan kapal PLTD Apung yang kini menjadi daya tarik wisata, tersimpan kisah duka yang mendalam, mengingatkan kita akan pentingnya menghargai setiap kehidupan dan mengenang para korban yang tidak selamat dari bencana dahsyat tersebut. (*)

CEK ARTIKEL LAINNYA TENTANG WISATA ACEH DI SINI

BACA BERITA SERAMBI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved