Opini

Masa Depan Pertanian Aceh

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya sektor pertanian untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

Editor: mufti
IST
Dr Ir Azhar MSc, Dosen Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian USK dan Tim Penulis Buku Pertanian, Kehutanan dan Kemakmuran Petani (2021) 

Dr Ir Azhar MSc, Dosen Departemen Agribisnis Fakultas Pertanian USK dan Tim Penulis Buku Pertanian, Kehutanan dan Kemakmuran Petani (2021)

KETIKA menyebut Aceh, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada keindahan alamnya, kopi Gayo yang mendunia, dan budaya religius yang kuat. Namun, di balik pesona itu, ada sektor penting yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah: pertanian. Di tengah era modern yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan tantangan global, bagaimana masa depan pertanian Aceh? Apakah sektor ini siap bertransformasi untuk menghadapi tuntutan zaman, atau justru tertinggal di belakang?

Dalam pidato perdananya setelah dilantik (20/10/24), Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya sektor pertanian untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Di Aceh, dimana sektor ini masih menjadi penopang utama bagi sebagian besar penduduk pedesaan, panggilan untuk memperkuat dan memodernisasi agribisnis menjadi semakin mendesak.

Aceh sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar di sektor pertanian. Tanah yang subur, iklim tropis yang mendukung, serta beragam komoditas unggulan seperti padi, kelapa sawit, dan kopi Gayo adalah modal utama. Namun, dalam sepuluh tahun terakhir, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terus menurun. Pada 2014, sektor ini menyumbang sekitar 29,1 persen dari PDRB Aceh. Namun, angka itu merosot menjadi sekitar 23 % pada 2023.

Perubahan iklim, keterbatasan teknologi, serta fluktuasi harga komoditas di pasar global adalah beberapa tantangan yang harus dihadapi. Urbanisasi juga menambah tekanan, dengan semakin banyak tenaga kerja muda yang beralih ke sektor jasa dan industri. Akibatnya, regenerasi petani di pedesaan mulai terhambat.

Diversifikasi produk

Di era modern, salah satu kunci untuk mempertahankan daya saing sektor pertanian adalah adopsi teknologi. Di banyak negara maju, teknologi seperti Internet of Things (IoT), drone, hingga blockchain telah diterapkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Di Thailand, misalnya, drone digunakan untuk memetakan lahan pertanian dan menyemprotkan pupuk secara efisien. Sementara di Vietnam, blockchain digunakan untuk memastikan transparansi rantai pasokan kopi, sehingga petani bisa mendapatkan harga yang lebih adil.

Presiden Prabowo, dalam program nasional yang dipaparkannya, menekankan pentingnya modernisasi pertanian melalui teknologi. Aceh bisa memanfaatkan program ini untuk mempercepat transformasi agribisnis di wilayahnya. Salah satu langkah awal adalah memperbaiki infrastruktur digital di pedesaan, sehingga petani dapat mengakses teknologi modern yang dapat meningkatkan hasil panen.

Tidak hanya teknologi, kualitas sumber daya manusia (SDM) juga memegang peran penting dalam transformasi pertanian. Lembaga pendidikan seperti Universitas Syiah Kuala (USK) memiliki tanggung jawab untuk mencetak lulusan agribisnis yang siap menghadapi tantangan di era digital. Kurikulum yang mencakup pertanian presisi, manajemen rantai pasok berbasis data, serta pemasaran digital akan sangat membantu dalam menciptakan tenaga kerja yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Namun, tantangan terbesar adalah menarik minat generasi muda untuk kembali ke sektor pertanian. Banyak pemuda Aceh yang lebih tertarik bekerja di sektor jasa, yang dianggap lebih menjanjikan dari segi pendapatan. Pemerintah perlu menyediakan insentif agar generasi muda tertarik pada agribisnis. Misalnya, dengan menciptakan program inkubator agritech yang bisa membantu anak muda memulai bisnis agribisnis berbasis teknologi.

Salah satu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Aceh adalah dengan melakukan diversifikasi produk. Aceh tidak bisa terus bergantung pada komoditas utama seperti padi dan kelapa sawit. Komoditas unggulan lainnya, seperti kopi Gayo, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk premium di pasar global. Di Kolombia dan Ethiopia, kopi spesialti telah berhasil mengangkat pendapatan petani secara signifikan.

Selain kopi, komoditas organik juga bisa menjadi peluang besar. Dengan meningkatnya permintaan global terhadap produk organik, Aceh dapat memanfaatkan pasar ini untuk menjual komoditas seperti beras, kakao, atau kelapa dengan harga yang lebih tinggi. Pengembangan industri pengolahan hasil pertanian juga sangat penting. Petani Aceh harus didorong untuk tidak hanya menjual produk mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk siap jual yang bernilai tambah.

Sejalan dengan program nasional yang digagas Presiden Prabowo, pengembangan industri pengolahan (hilirisasi) dan branding produk lokal bisa memberikan dampak besar bagi petani di Aceh. Pemerintah harus mendorong investasi di sektor pengolahan dan memberikan akses pembiayaan yang lebih luas kepada para petani untuk memulai usaha pengolahan hasil pertanian.

Pemasaran digital

Di era digital, pemasaran produk pertanian tidak lagi terbatas pada pasar tradisional. Teknologi digital, terutama platform e-commerce dan media sosial, memberikan peluang baru bagi petani untuk memasarkan produknya secara langsung kepada konsumen. Platform seperti Tokopedia, Bukalapak, atau Shopee memungkinkan petani menjual hasil panen mereka tanpa melalui perantara yang sering kali merugikan mereka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved