Senin, 11 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Duek Pakat Kebudayaan Aceh, Gerakan untuk Pemajuan Kebudayaan Aceh

Duek Pakat Kebudayaan Aceh diinisiasi oleh Suara untuk Kebudayaan Aceh yang Terarah (SuKAT). Didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Tayang:
Editor: mufti
IST
IHAN NURDIN, jurnalis dan fasilitator Komisi II Duek Pakat Kebudayaan Aceh, melaporkan dari Banda Aceh 

IHAN NURDIN, jurnalis dan fasilitator Komisi II Duek Pakat Kebudayaan Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

KOLONG Anjungan Kabupaten Pidie Jaya di Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin, Bandar Baru, Banda Aceh, pada Rabu (13/1//2024) malam sangat ramai.

Sejak selepas magrib, orang-orang mulai berdatangan dan duduk di kursi yang sudah diatur di kolong anjungan. Tak lama setelah azan Isya bergema, nyaris semua kursi yang tersedia sudah terisi. Tak terhitung juga jumlah mereka yang berdiri di berbagai sisi. Satu sama lain, tua-muda, laki-perempuan, necis-kasual, mengobrol dengan santai dan penuh keakraban tanpa hierarki.

Diselingi canda, tawa, sapaan perkenalan, hingga celetukan penuh kerinduan para karib yang lama tak bersua.

Begitulah pemandangan di Anjungan Pidie Jaya malam itu. Hangatnya silaturahmi kental terasa. Satu sama lain bercengkerama dengan leluasa. Mereka datang sebagai utusan dari berbagai kabupaten/kota. Mulai dari Gayo hingga Alas; Aceh Jaya hingga Singkil; Pulau Simeulue hingga Pulau Weh. Dari Aceh Rayek hingga Pidie; tak terkecuali dari Pasee hingga Tamiang. Semua berkumpul di Banda Aceh, untuk mengikuti Duek Pakat Kebudayaan Aceh yang dihelat pada 13—15 November 2024.

Duek Pakat Kebudayaan Aceh diinisiasi oleh Suara untuk Kebudayaan Aceh yang Terarah (SuKAT). Didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh. SuKAT merupakan gerakan masyarakat sipil yang sedang memperjuangkan lahirnya rancangan qanun pemajuan kebudayaan di Aceh.

Duek pakat dibuka secara resmi oleh Kepala Disbudpar Aceh, Almuniza Kamal. Diawali dengan sambutan Kepala BPK Wilayah I, Piet Rusdi. Diwarnai dengan rancaknya penampilan likok pulo oleh murid SDN Lamreung, Aceh Besar. Semarak dengan pencahayaan yang berkilauan.

Namun, yang membuat suasana ‘opening ceremony’ ini terasa berbeda adalah kehadiran siswa SLB Bukesra Banda Aceh, yang menerjemahkan lirik-lirik lagu Indonesia Raya dan himne Aceh melalui bahasa isyarat.

Setelah lagu kebangsaan dan gita puja Aceh dinyanyikan, terdengar ungkapan terenyuh di antara hadirin. Baru kali ini mereka saksikan ada iringan bahasa isyarat ketika dua lagu tersebut dinyanyikan. Bahkan, ada yang menitikkan air mata.

Pembukaan yang memukau serta pidato Kepala Disbudpar Aceh dan Kepala BPK yang memberikan dukungan bagi SuKAT, terasa semakin padu dengan pidato kebudayaan oleh Reza Idria, akademisi cum budayawan. Dosen UIN Ar-Raniry itu memulai pidatonya dengan kilas balik pada suatu peristiwa satu dekade silam.

“Pada 2014 saya berada di Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat. Tujuan utama saya adalah berkunjung ke Museum dan Monumen Sidang Penghukuman Para Penyihir,” begitu Reza mengawali pidatonya.

Reza pun masuk ke monumen berupa replika kapal di sebuah pelabuhan di Kota Salem. Kepada pemandu monumen, Reza memperkenalkan diri sebagai orang Aceh. Sang Pemandu pun mengatakan bahwa replika kapal tersebut merupakan kapal yang pada abad ke-17 digunakan oleh peniaga Salem untuk mengangkut lada dari Aceh. Ketika terjadi tsunami pada 2004 silam, irisan masa lalu ini justru menjadi “wasilah” mengalirnya bantuan masyarakat Salem untuk masyarakat Aceh

Pidato semakin menarik ketika Reza mengatakan, “Pemandu itu dengan antusias menyebutkan kepada saya bahwa dia familier dengan kata Aceh karena di logo atau di lambang kota itu adalah orang Aceh.”

Pengalaman “menemukan” orang Aceh di logo sebuah kota di Amerika sana, menjadi pengalaman berharga bagi Reza. Bagi kebanyakan hadirin, ini juga cerita yang menyenangkan hati. Konklusi dari pidato Reza adalah ketika pembangunan berjalan tanpa usur budaya, maka keseimbangan akan hilang, pada akhirnya tujuan dari pembangunan akan terlupakan.

“Sedangkan budaya yang berakar pada sejarah lokal memiliki peran unik sebagai penjaga etika dan keadilan dalam pembangunan,” kata alumnus Leiden dan Harvard University itu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved