Opini
Ketahanan Pangan dan Energi Aceh
KETAHANAN pangan dan energi adalah dua aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di Aceh.
Prof Dr Apridar SE MSi, Guru Besar Ilmu Ekonomi, dan Dewan Pakar Pusat Riset Komunikasi Pemasaran, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif LPPM USK
KETAHANAN pangan dan energi adalah dua aspek penting dalam pembangunan berkelanjutan, khususnya di Aceh. Ketahanan pangan dan energi baru serta terbarukan adalah beberapa komponen penting penunjang kelangsungan hidup suatu bangsa. Bangsa besar adalah bangsa yang bisa memenuhi ketahanan pangan warganya, mampu mengolah sumber dayanya menjadi bahan industri bernilai jual tinggi, dan mampu menemukan serta memanfaatkan energi baru dan terbarukan.
Aceh terletak di ujung utara pulau Sumatera, memiliki sumber daya alam melimpah dan tanah yang subur. Meskipun demikian, ketahanan pangan masih menjadi isu penting yang memerlukan perhatian. Untuk mencapai ketahanan pangan dan energi yang berkelanjutan, langkah-langkah strategis dan terpadu perlu diambil oleh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.
Sudah saatnya untuk mengadopsi teknologi modern pertanian terbaru, seperti irigasi tetes, drone untuk pemantauan tanaman, dan mesin pertanian otomatis. Selain itu yang harus dilakukan pemerintah yaitu meningkatkan investasi dalam penelitian pertanian untuk menghasilkan varietas tanaman yang lebih tahan penyakit dan memiliki produktivitas tinggi. Membangun dan memperbaiki infrastruktur irigasi, jalan akses ke lahan pertanian, dan fasilitas penyimpanan.
Perlu digalakkan untuk mendorong penanaman dan konsumsi tanaman pangan lokal yang kaya nutrisi dan lebih tahan terhadap perubahan iklim. Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya diversifikasi pangan untuk mencegah ketergantungan pada satu jenis tanaman. Dengan banyaknya alternatif asupan makanan yang dimiliki masyarakat, maka ketahanan pangan akan semakin tangguh.
Produksi pertanian
Pertanian merupakan sektor utama dalam perekonomian Aceh. Produk utama termasuk padi, jagung, karet, dan kelapa sawit. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, produksi padi pada tahun 2020 mencapai sekitar 1,8 juta ton. Namun, meskipun produksi padi cukup tinggi, distribusi dan akses terhadap pangan masih menjadi tantangan. Distribusi pangan yang tidak merata menjadi salah satu masalah utama. Daerah pedesaan sering kali kesulitan mengakses pangan yang cukup dan bergizi. Biasanya masyarakat desa lebih cenderung mengonsumsi satu macam makanan pokok. Sehingga produksi makanan utama tersebut menjadi variabel yang sangat berpengaruh terhadap tingkat inflasi daerah tersebut.
Tingkat kemiskinan yang tinggi di beberapa wilayah Aceh mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk membeli pangan yang cukup. Menurut BPS, tingkat kemiskinan di Aceh pada tahun 2020 adalah sekitar 15,43 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Perubahan iklim berdampak pada hasil pertanian. Curah hujan yang tidak menentu dan bencana alam seperti banjir sering merusak tanaman. Sehingga produktivitas masyarakat menurun secara signifikan.
Pemerintah Aceh, bersama dengan LSM, telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan, seperti, memberikan bantuan subsidi kepada petani untuk pembelian benih, pupuk, dan alat pertanian. Mendorong diversifikasi tanaman untuk mengurangi ketergantungan pada padi. Memberikan pelatihan kepada petani tentang teknik pertanian modern dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Menerapkan praktik konservasi tanah dan air untuk menjaga kesuburan lahan dan ketersediaan air sudah saatnya dilakukan. Melindungi hutan dan menghindari deforestasi yang dapat merusak ekosistem dan sumber daya alam. Memelihara hutan untuk jangka Panjang, sama dengan menjaga terhadap ketahanan pangan masyarakat untuk jangka Panjang.
Meningkatkan sistem distribusi pangan agar pangan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk di daerah terpencil. Memberikan bantuan pangan dan subsidi kepada kelompok masyarakat yang kurang mampu, dengan harapan masyarakat mampu bertahan hidup dengan adanya asupan sehat dan bergizi untuk jangka panjang.
Ketahanan energi
Aceh memiliki berbagai sumber daya energi, termasuk minyak dan gas bumi, serta potensi energi terbarukan seperti energi hidro, surya, dan angin. Energi yang melimpah anugerah dari pencipta langit dan bumi serta seluruh isinya, hendaknya dapat dikelola dengan baik agar mencukupi kebutuhan masyarakat jangka panjang. Aceh dikenal sebagai salah satu penghasil minyak dan gas bumi di Indonesia. Lapangan gas Arun di Lhokseumawe adalah salah satu yang terbesar di Indonesia. Namun, produksi minyak dan gas bumi cenderung menurun seiring dengan usia sumur yang semakin tua. Penyedotan minyak dan gas secara barbar sebagai mana yang sedang dilakonkan industri migas sekarang ini, tentu akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan dan juga ketahanan pangan jangka panjang Aceh.
Potensi energi hidro di Aceh cukup besar, terutama di wilayah pegunungan seperti Takengon dan Gayo Lues. PLTA Peusangan di Takengon merupakan salah satu proyek PLTA terbesar di Aceh. Pemerintah hendaknya lebih memprioritaskan pada pemanfaatan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Aceh juga memiliki potensi energi surya yang cukup besar, terutama di daerah pesisir. Pengembangan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) mulai digalakkan, meskipun masih dalam skala kecil. Energi angin juga memiliki potensi, terutama di wilayah pantai barat. Industri yang mengolah serta memanfaatkan energi terbarukan, seharusnya diberi insentif seperti tax holiday, serta kemudahan lainnya.
Infrastruktur energi yang kurang memadai, terutama di daerah pedesaan dan terpencil, menghambat distribusi energi. Kurangnya investasi di sektor energi terbarukan menjadi tantangan utama. Perlu ada kebijakan yang mendukung investasi dan pengembangan energi terbarukan. Kebijakan yang kurang mendukung dan birokrasi yang rumit sering kali menghambat perkembangan sektor energi. Pemerintah Aceh telah mengimplementasikan beberapa kebijakan untuk meningkatkan ketahanan energi, seperti pengembangan energi terbarukan dengan cara mendorong pengembangan PLTA, PLTS, dan energi angin. Upaya positif ini hendaknya terus dilakukan dengan intensitas yang terus ditingkatkan. Membangun dan memperbaiki infrastruktur energi di seluruh wilayah Aceh. Bekerja sama dengan negara dan organisasi internasional untuk mengembangkan sektor energi, seperti kerja sama dengan Jepang dalam pengembangan PLTA.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/uniki-080624-b.jpg)