Menuju Pilkada Aceh 2024

Aksi Kekerasan Pilkada Marak di Pesisir Timur, Forum LSM Aceh Minta Polisi Perkuat Pengawasan

Diperkirakan, kasus kekerasan itu akan lebih meningkat saat minggu tenang dan menjelang hari pencoblosan suara.

Editor: IKL
Serambinews.com
Roys Vahlevi, Koordinator Pemantau Pilkada Forum LSM Aceh. 

SERAMBINEWS.COM - Forum LSM Aceh menemukan sejumlah kasus pelanggaran yang mewarnai Pilkada Aceh 2024.

Berbeda dengan temuan di wilayah pantai barat, untuk wilayah pantai timur Aceh, kasus kecurangan yang ditemukan lebih banyak diwarnai aksi kekerasan.

Hal itu diungkapkan Koordinator Pemantau Pilkada Forum LSM Aceh, Roys Vahlevi. Pihaknya mengaku telah mengerahkan ratusan pemantau ke seluruh Aceh.

"Misalnya, ada temuan kasus sekelompok pemuda yang mendatangi sejumlah warga di Aceh Utara untuk memaksa memilih kandidat tertentu."

"Mereka mewanti-wanti, jika kandidat yang tidak mereka inginkan menang di desa itu, bakal ada risiko yang akan dihadapi warga," ungkap Roy.

Kasus ancaman seperti itu dikatakannya, tidak hanya terjadi di satu kecamatan, tapi di beberapa kecamatan lainnya. 

Bahkan ada pula kasus tim sukses pasangan calon gubernur mendapat ancaman pembunuhan dari tim sukses pasangan calon lainnya.

"Semua temuan itu menunjukkan kalau Pilkada di wilayah pesisir timur Aceh sangat rawan dengan kasus kekerasan,"

Baca juga: Elektabilitas Melonjak Tajam dalam Survei LSI, Bustami-Fadhil Optimis Menang Pilkada

Baca juga: Apa Itu Clip On? Alat yang Dipakai Paslon No 1 di Debat Pilgub Aceh 2024 hingga Berujung Ricuh

"Tidak semua ancaman kekerasan itu bisa diungkap ke permukaan, sebab ada banyak korban yang mengaku tidak berani membawa kasus ini ke kepolisian atau ke Panwaslih," ungkapnya.

Diperkirakan, kasus kekerasan itu akan lebih meningkat saat minggu tenang dan menjelang hari pencoblosan suara.

Adapun kawasan yang dianggap rawan, antara lain di Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireuen dan Aceh Timur. Ancaman tidak hanya diarahkan kepada warga, tapi juga kepada aparat gampong. 

Pada saat pencoblosan nanti, Roys Vahlevi memperkirakan, kasus kekerasan bisa jadi akan mengarah ke TPS-TPS di mana petugas TPS akan menjadi sasarannya.

Oleh karena itu Roys Vahlevi mengimbau agar petugas Pilkada bekerja lebih profesional tanpa berpihak kepada siapapun. 

Jika ada tekanan dari kelompok tertentu, sebaiknya segera gunakan kamera di tangan untuk merekam setiap peristiwa yang terjadi.

“Kita mengharapkan masyarakat dan petugas TPS agar aktif menggunakan HP merekam setiap peristiwa terkait ancaman Pilkada,” katanya. 

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved