Jurnalisme Warga
Gen Z, Berkaryalah Tanpa Menjiplak
Saya punya beberapa pengalaman terkait “godaan” plagiarisme ini yang alhamdulillah dapat saya hindari. Berikut kisahnya.
Perubahan kurikulum di setiap sekolah serta perguruan tinggi, membuat banyak pelajar tidak siap mental menjalankannya. Tuntutan literasi yang disuruh oleh pemerintah terhadap pendidikan, membuat para pelajar kewalahan dengan tugasnya sendiri.
Sebenarnya, pemerintah mempunyai niat yang baik untuk kemajuan negeri. Namun, kenyataan di lapangan tidak sama dengan yang diharapkan. Menyamaratakan proses dan hasil belajar siswa kota dan desa, misalnya, dapat mendorong para siswa desa melakukan plagiat, sebab minat belajar setiap murid tidak sama serta kemampuan menyerap ilmu setiap anak pun berbeda.
Orang yang mampu menghentikan tindakan plagiat adalah orang itu sendiri. Setiap perbuatan yang kita kerjakan tentu memiliki risiko terhadap diri sendiri dan orang lain. Peniruan karya orang lain tanpa izin dapat menimbulkan gugatan pidana dan perdata oleh si pemilik karya, sebab dialah pemilik sah hak kekayaan intelektual atas karya tersebut. Jangan sampai kita dipenjara dan diharuskan membayar denda karena kedapatan menjiplak karya orang lain.
Jadi, sebelum terlambat sebaiknya kita perbaiki diri, tidak melakukan, apalagi menngulangi lagi tindakan plagiat di Bumi Serambi Mekkah ini. Akhirnya, selamat berkarya, tanpa menjiplak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HUSNA-OKE-BARU.jpg)