Sabtu, 30 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Memanen Ekoenzim di Pesantren Baitul Arqam

Lalu, apa sebenarnya ekoenzim itu? Nah, saya akan ceritakan pengalaman saya dan teman-teman saat pertama kali kami diberi tahu mengenai ekoenzim dan s

Tayang:
Editor: mufti
IST
NABILA ALFATHYA 

NABILA ALFATHYA, Siswi Kelas XI Madrasah Aliyah Baitul   Arqam,   melaporkan   dari   Sibreh, Aceh Besar

Dahulu, saya pikir memanen itu hanya bisa dilakukan pada tanaman yang kita semai. Namun, baru-baru ini saya mulai paham bahwa ada juga yang namanya memanen ekoenzim.

Lalu, apa sebenarnya ekoenzim itu? Nah, saya akan ceritakan pengalaman saya dan teman-teman saat pertama kali kami diberi tahu mengenai ekoenzim dan segala manfaatnya hingga bagaimana proses pembuatannya.

Pada   tanggal   6   November,   kami   kedatangan   tamu   dari   Tim   Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Ini bukan kali pertama tim tersebut datang ke Baitul Arqam. Pada Juli dan Agustus 2024 tim yang diketuai oleh Ibu Suwarniati MP dan beranggotakan Ibu Qurratu Aini MPd, Ibu Dr Rosnidarwati MA, Ibu Mutia Zahara MSc, PhD, serta dua mahasiswa, yaitu Arif Fadhila dan Ahmad Zacky, datang ke pesantren kami.

Tim ini berasal dari Jurusan Tadris Biologi Unmuha Aceh. Kami   diberikan   pelatihan   setengah   hari.   Materi   yang   disampaikan   berjudul Pemberdayaan   Inovasi   Lorali   dalam   Pengembangan   Ekoenzim,   yang   merupakan   Hibah Kemendikbudristekdikti 2024 yang disampaikan oleh Prof Dr Febriani MSi, pakar dalam bidang biokimia-molekular genetik dan protein FMIPA Universitas Syiah Kuala (USK).

Lorali yang dimaksud adalah limbah organik ramah lingkungan. Pada pelatihan tersebut, Prof Febriani menjelaskan pengertian ekoenzim, yaitu cairan hasil fermentasi dari sampah organik, seperti gula atau molase, sisa buah-buahan atau sayur-sayuran, dan air (bisa air pembuangan AC, air hujan, maupun air keran) yang diolah secara alami.

Ekoenzim ini ditemukan oleh pendiri Asosiasi Pertanian Organik di Thailand, yaitu Dr Rosukon Poompanvong, yang telah melakukan penelitian sejak tahun 1980-an. Rosukon ingin menghasilkan enzim dari sampah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih serbaguna dengan cara menggunakan limbah organik yang difermentasi untuk pemupukan tanaman dan pembasmi hama.

Lalu, limbah organik tersebut dikenal sebagai garbage enzyme (enzim sampah) yang kemudian dikenal sebagai ‘ecoenzyme’. Ekoenzim sendiri memiliki banyak manfaat, beberapa di antaranya sebagai cairan pembersih   serbaguna.

Ekoenzim   bisa   ditambahkan   ke   cairan   pengepel   lantai,   juga   bisa digunakan sebagai pupuk tanaman, sebagai pembersih hama, dan membantu dalam melestarikan lingkungan.

Pada kesempatan itu, kami juga diajarkan cara membuat ekoenzim. Kami dibagi ke dalam   empat   kelompok,   dua   kelompok   putri,   dua   kelompok   putra.   Setelah   itu,   kami diberikan masing-masing gula merah dan kantong kresek yang berisi sampah organik berupa kulit  buah-buahan  dan  batang  sayur  sawi. 

Bermacam-macam  kulit  buah  yang  ada  di  dalam kresek tersebut. Ada kulit jeruk, buah naga, semangka, mentimun, dan masih banyak lainnya.

Tim Pengabdian Unmuha juga menyediakan wadah sebagai tempat penampungan dan spatula untuk mengaduk campuran sampah organik, molase, dan air. Kemudian, kami diarahkan untuk memotong kulit buah tersebut menjadi kecil-kecil.

Setelah dipotong, sampah organik tadi lalu ditimbang sesuai takaran   yang telah  ditentukan, kemudian dimasukkan  ke dalam  wadah yang telah disediakan. Tak lupa dicampurkan dengan gula merah yang sudah dihaluskan, lalu ditambahkan air sesuai takaran dan diaduk sampai rata.

Bahan-bahan yang sudah diaduk merata dalam wadah, ditutup rapat. Agar lebih kedap udara, tutup wadah tersebut direkat dengan lakban sampai benar-benar tak bisa dibuka. Hasil ekoenzim tersebut, kemudian kami simpan dalam jangka waktu tiga bulan. Selama tiga bulan tersebut, kami terus memantau perkembangan dari ekoenzim yang telah kami buat.

Kami juga diminta mengamati, apakah ada jamur pitera yang tumbuh. Jamur pitera biasa tumbuh di atas permukaan  ekoenzim  pada minggu  kedua  atau minggu  ketiga.  Jamur tersebut  berwarna putih sedikit   kecokelatan,  tetapi  tak  semua  proses  pembuatan ekoenzim  menghasilkan  jamur pitera.  Jamur  ini   dapat  digunakan  sebagai  masker  wajah,   dapat  mengencangkan  wajah,  dan masih banyak manfaat lainnya.

Selain pemantauan jamur, kami juga harus mengecek apakah muncul gas yang ditandai dengan menggelembungnya tutup wadah. Jika ada gas, tutup wadah digeser sedikit untuk mengeluarkan udara.

Ekoenzim boleh dipanen setelah tiga bulan. Pada hari panen, kami membuka tutup wadah ekoenzim   dengan   hati   yang   tak   sabaran.   Sebelum   kami   membukanya,   Tim   Pengabdian Masyarakat Unmuha Aceh menyediakan saringan, botol, dan corong untuk digunakan ketika menyalin air tersebut ke dalam wadah lain. Alat-alat tersebut diberikan kepada masing-masing   kelompok.  

Ketika   tutup   wadah   dibuka,   aroma   yang   dikeluarkan   oleh ekoenzim tersebut berbeda-beda, sesuai dengan bahan dasarnya. Aroma yang dihasilkan dari kulit buah dan kulit sayur berbeda. Seperti aroma ekoenzim yang dihasilkan oleh salah satu kelompok putra, aroma ekoenzim yang dicampur dengan buah lebih wangi dari aroma  ekoenzim  yang   di  dalamnya  ada  campuran  sayur.   Walaupun  ada  campuran  sayur  di dalamnya, tetap saja aroma yang dominan atau aroma yang khas dari tiap kelompok, yaitu aroma jeruk yang sangat menyengat.

“Kemungkinan aroma jeruk  yang   dihasilkan   oleh ekoenzim yang  kalian   buat   itu karena lebih   banyak   menggunakan   kulit   jeruk   daripada   kulit   buah   lain,”     kata   Bu   Mutia   Zahara.

Tak hanya aromanya saja yang hampir sama, tetapi warnanya juga. Warna dari ekoenzim yang kami hasilkan dominan berwarna oranye. Baik itu oranye terang maupun oranye pudar. “Mirip   nurdin,   ya,”   kata   salah   satu   teman   saya   yang   menyebut   salah   satu   minuman Nutrisari dingin yang sering disingkat jadi nurdin.

Namun, beberapa di antaranya hampir sewarna dengan capucino susu. Biasanya itu hasil yang terakhir atau ekoenzim yang terakhir disaring.

Kami menyalin ekoenzim tersebut ke dalam botol kemasan 500 ml dan 250 ml yang telah disediakan. Kami juga menggunakan corong dan saringan. Memanen ekoenzim ternyata menyenangkan sekali.

Kami mengambil airnya saja, lalu sisa kulit buah dan sayuran yang sudah difermentasikan tadi disatukan ke dalam ember dan dapat digunakan sebagai pupuk organik.

Ekoenzim dapat digunakan sebagai pembersih kamar mandi, pembersih kaca jendela, sebagai pembersih lantai, dan masih banyak lainnya. Namun, untuk pewangi lantai, sebaiknya harus dicampur dengan campuran lain agar aromanya lebih wangi.

Penggunaan untuk   pembersih   kamar  mandi   dapat dipakai   dengan  perbandingan  1:10.

Ekoenzim   ini   memang   memiliki   sangat   banyak   manfaat,   bahkan   saat   ini   pemerintah   sudah mendukung penggunaan ekoenzim sebagai pembersih limbah di sungai.

Saat ini kami sudah menggunakan ekoenzim ini sebagai pembersih lantai dan pembersih kamar mandi di asrama. Untuk pemakaian pembersih lantai, memang sebaiknya menggunakan pewangi tambahan. Jadi, selain lantainya bersih dari kuman, aromanya juga lebih wangi. Paling penting ekoenzim ini ramah lingkungan dan bisa mengurangi limbah dapur. Apalagi seperti kami yang tinggal di sekolah asrama, biasanya banyak menghasilkan limbah dapur.

Tim Pengabdian Unmuha akan mendampingi kami untuk membuat ekoenzim dari limbah di dapur asrama. Saya sendiri berharap, kelak ketika saya pulang ke rumah, bisa juga mengaplikasikannya di rumah kami.  

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved