Internasional
Pengawal Revolusi Iran Perkuat Pengendalian Ekspor Minyak dari Teheran
Tindakan ini semakin menyulitkan upaya internasional untuk memantau dan menghentikan perdagangan minyak Iran.
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Eddy Fitriadi
IRGC terbukti sangat mahir dalam menemukan cara-cara untuk menghindari sanksi dan terus menjual minyak meskipun ada pembatasan internasional.
China menjadi pembeli terbesar minyak Iran, dengan sebagian besar minyak yang dijual ke sana digunakan oleh kilang-kilang minyak independen.
IRGC memanfaatkan perusahaan-perusahaan depan seperti Haokun Energy perusahaan yang berbasis di China yang dikelola oleh mantan pejabat militer China untuk memfasilitasi penjualan minyak ke China.
Meskipun perusahaan-perusahaan ini telah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, aktivitas perdagangan mereka tetap berlangsung, memanfaatkan saluran-saluran perbankan internasional.
Sumber-sumber yang terlibat dalam penjualan minyak Iran ke China melaporkan bahwa pendapatan dari ekspor minyak dibagi rata antara IRGC dan NICO (National Iranian Oil Company).
IRGC menjual minyak dengan diskon $1 hingga $2 per barel dibandingkan harga yang ditawarkan oleh NICO, karena pembeli menghadapi risiko lebih besar ketika membeli dari IRGC.
Beberapa sumber Barat bahkan memperkirakan bahwa diskon yang diberikan bisa mencapai $5 hingga $8 per barel, tergantung pada tingkat risiko yang diambil oleh pembeli.
IRGC juga mengelola armada kapal tanker yang digunakan untuk mengangkut minyak yang diselundupkan.
Ini termasuk penggunaan kapal tanker milik NITC (National Iranian Tanker Company), yang sebelumnya memiliki peran besar dalam ekspor minyak Iran.
NITC kini juga menyediakan layanan kepada IRGC untuk mentransfer minyak dari satu kapal ke kapal lainnya, yang membantu menyembunyikan asal-usul minyak tersebut.
Tindakan ini semakin menyulitkan upaya internasional untuk memantau dan menghentikan perdagangan minyak Iran.
Selain itu, IRGC juga mengoperasikan kapal-kapal yang tidak terdaftar secara resmi, yang dikenal dengan sebutan "ghost fleet" (armada hantu).
Pada tahun 2023, beberapa kapal tanker yang terlibat dalam pengangkutan minyak milik Pasukan Quds dikenai sanksi oleh Israel dan Amerika Serikat, menambah tekanan terhadap operasi penyelundupan minyak ini.
Pengaruh IRGC dalam industri minyak Iran terus berkembang, meskipun ada upaya dari negara-negara Barat untuk menghentikan aliran pendapatan dari minyak.
Meskipun sanksi-sanksi internasional semakin ketat, IRGC telah menunjukkan kemampuannya untuk terus mengendalikan dan mengalirkan pendapatan minyak melalui jalur-jalur yang lebih sulit dipantau.
Pendapatan dari ekspor minyak ini mendanai tidak hanya kegiatan ekonomi domestik, tetapi juga operasi militer dan politik di seluruh Timur Tengah, memperkuat posisi IRGC dalam perekonomian Iran dan memperburuk tantangan yang dihadapi oleh negara-negara Barat dalam menekan pengaruh Iran.(*)
| Mobil SUV Misterius Iringi Trump di China, Diduga Bawa Teknologi Perang Elektronik Canggih |
|
|---|
| Takut Dimata-matai China, Rombongan Trump Buang HP dan Pin sebelum Naik Air Force One |
|
|---|
| India Naikkan Harga BBM Akibat Krisis Energi Dampak Perang Iran |
|
|---|
| Blokade dan Ambil Alih Kapal Iran, Trump Sebut Angkatan Laut AS Seperti Perompak |
|
|---|
| Israel Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan Udara Tewaskan 10 Orang di Lebanon Selatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kapal-tanker-minyak-iran-di-indonesia.jpg)