Sabtu, 9 Mei 2026

Nasib 18 Polisi yang Peras Warga Malaysia di Konser DWP 2024, Disebut Raup Rp32 Miliar

Ternyata ada 18 anggota Polda Metro Jaya yang diduga melakukan pemerasan pada 13-15 Desember 2024 di JIExpo Kemayoran.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Istimewa
Peras 400 warga Malaysia di konser DWP 2024, oknum polisi raup Rp32 miliar 

SERAMBINEWS.COM - Kasus pemerasan 400 warga negara Malaysia saat konser Djakarta Warehouse Project (DWP) mengungkap fakta baru.

Ternyata ada 18 anggota Polda Metro Jaya yang diduga melakukan pemerasan pada 13-15 Desember 2024 di JIExpo Kemayoran.

Kasus inipun viral di media sosial dan menjadi sorotan negatif dunia internasional.

Sekadar informasi, DWP jadi tempat berkumpulnya pecinta musik dansa elektonik atau EDM dari berbagai belahan dunia.

Festival musik ini ibarat kuali pertemuan penduduk antar-negeri yang ingin melepas penat sembari dihibur disjoki Internasional papan atas.

Mereka menyatu tanpa sekat, bendera dari berbagai belahan dunia berkibar-kibar di tengah ribuan orang yang asyik berdansa selama DWP 2024.

Dari Asia Tenggara, tampak kibaran bendera Myanmar, Filipina, Malaysia, dan Singapura.

Ada lagi bendera dari negara yang lebih jauh, seperti Kanada, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan India.

 
Namun itu hanya sedikit gambaran tentang identitas kewarganegaraan para pengunjung DWP 2024.

Ada lagi yang tidak membawa bendera, tapi rela datang jauh-jauh dari Eropa untuk hadir di festival musik tahunan ini.

Akan tetapi Festival EDM tahunan ini pun ternodai karena ulah oknum polisi yang diduga melakukan pemerasan.

Mereka menyebut, oknum polisi Indonesia menangkap dan melakukan tes urine mendadak terhadap lebih dari 400 penonton dari Malaysia.

Oknum polisi Indonesia juga diduga memalak uang mereka yang jumlahnya berkisar 9 juta RM atau setara Rp32 miliar.

Bahkan ada yang mengklaim bahwa para penonton terpaksa membayar meski tes urine narkoba mereka negatif.

Baca juga: VIDEO Viral Aksi Pungli di SPBU Kotim, Sopir Truk Diperas Rp 200 Ribu Saat Isi Bensin Solar

Apa Respons Polri Terkait Kasus Ini?

 
Menanggapi kejadian tersebut, pihak kepolisian mengambil langkah cepat dengan mengamankan terduga pelaku.

 
Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, yang mengatakan bahwa Polri telah menindaklanjuti informasi dengan mengamankan 18 personel yang diduga terlibat.

"Kami telah mengamankan terduga oknum yang bertugas pada saat itu," ungkap Trunoyudo dalam keterangannya, akhir pekan lalu.

Korban Pemerasan 

Salah satu korban, Ilham (nama samaran), yang merupakan warga negara Malaysia, berbagi pengalamannya mengenai tindakan yang diterimanya.

 
Dalam wawancara, teman Ilham, Raka (27, nama samaran), menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi saat mereka menonton penampilan DJ Steve Aoki.

Tiba-tiba, beberapa orang yang mengaku sebagai polisi menarik tangan Ilham dan meminta agar dia mengikutinya.

"Pas lagi loncat-loncat, temanku ditarik sama beberapa orang yang mengatasnamakan polisi," kata Raka.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Setelah ditarik, Ilham mengaku bahwa dia dihadapkan pada beberapa tes yang mencurigakan.

Petugas meminta paspornya dengan alasan untuk pemeriksaan administrasi.

Namun, setelah pemeriksaan, paspor Ilham tidak langsung dikembalikan.

"Petugas malah mengetes tingkat kesadaran Ilham, apakah mabuk atau tidak. Ada tes seperti bisa membaca angka pada jari atau tidak dan menilai dari bau mulut," tambah Raka.

Meskipun Ilham meminta agar paspornya dikembalikan, petugas tidak menggubrisnya dan malah asyik berbincang dengan rekan-rekannya.

Diperas

Di sisi lain, Raka yang menyadari Ilham tak kunjung kembali setelah 30 menit mencari keberadaan temannya. Singkat cerita, Raka bertemu dengan Ilham yang tengah memohon agar polisi mengembalikan paspor miliknya.

Saat itu, wajah Ilham terlihat panik, sama seperti beberapa penonton DWP 2024 lain yang paspornya turut ditahan.

Raka pun turut meminta polisi mengembalikan paspor tersebut. Namun, upaya ini tak juga membuahkan hasil.

Raka lantas melihat paspor milik penonton DWP lain yang turut disita polisi, di dalamnya terselip uang. Dengan begitu, ia berinisiatif memberikan uang Rp 200.000.

“Teman aku dites kesadaran doang. Tapi, kata dia ada yang dites urine juga. Tapi ya gitu, dipersulit pas balikin paspornya, pas habis bayar, ‘ya sudah sana’, gitu,” pungkas Raka.

Setelah Raka memberikan uang, terduga polisi itu mengembalikan paspor milik Ilham.

18 Oknum ditangkap

Setelah mengetahui kabar ini, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri menangkap 18 anggota yang diduga terlibat memeras penonton DWP 2024.

Ke-18 anggota itu terdiri dari personel Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, dan Polsek Kemayoran.

Setelah ini, Divisi Propam Polri akan memeriksa lebih lanjut untuk mendalami peristiwa ini. 

Trunoyudo berujar, pihaknya tidak akan menoleransi pelanggaran tersebut.

“Kami memastikan tidak ada tempat bagi oknum yang mencoreng institusi. Investigasi telah kami lakukan secara profesional, transparan, dan tuntas. Kami telah melakukan pengamanan terhadap para terduga oknum yang dimaksud,” pungkas dia.

Ada pelanggaran

Komisioner Kompolnas Muhammad Choirul Anam menyoroti kasus dugaan pemerasan yang dilakukan polisi terhadap sejumlah penonton Djakarta Warehouse Project (DWP) 2024.

Menurutnya, ada dugaan pelanggaran dalam kasus tersebut.  

“Kami memberikan atensi terhadap kasus ini. Kalau ditanya ini ada pelanggaran atau tidak, ya pastinya ada pelanggaran,” kata Anam saat dihubungi Kompas.com, Senin (23/12/2024).

Anam mengatakan, langkah Divisi Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri memeriksa 18 anggota kepolisian yang diduga terlibat dalam kasus tersebut sudah tepat.

Di tengah aksi pemerasan ini, mirisnya, pemerintah tengah menggencarkan sektor pariwisata agar wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia.

“Apakah ini ada pengaruhnya pada pariwisata? Ya tentu saja sedikit banyak pasti juga ada kerugiannya,” ujar Anam.

Di sisi lain, menurut Anam, Propam Polri seyogianya menjelaskan duduk perkara dugaan pemerasan polisi terhadap penonton DWP 2024 itu. Polisi juga diminta menjatuhkan sanksi tegas.

“Sanksi yang tegas, tindakan yang tegas, dan proses yang transparan, harus diambil,” pungkas Anam.

Kasus pemerasan yang melibatkan oknum polisi ini telah menjadi perhatian publik, terutama karena mengincar penonton asing di acara besar.

Langkah tegas dari Polri untuk menangkap pelaku merupakan langkah penting, namun ke depannya diharapkan ada upaya pencegahan lebih lanjut agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca juga: ‘Semua Perang Punya Aturan, Semua Aturan Itu Telah Dilanggar Israel’ Kata Badan PBB

Baca juga: Kodam IM Rayakan HUT Ke-68, Pangdam IM Sebut Capaian Penting Setahun Terakhir

Baca juga: Kisah Pilu Masduki, Tinggal di Becak Usai Ditelantarkan Keluarga, Tak Bisa Jalan Karena Diabetes

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved