Jurnalisme Warga
Kenangan Berharga di Kelas FAMe
Pertemuan ini juga dapat memotivasi peserta, terutama saya, untuk melestarikan bahasa Aceh sebagai hasil karya anak bangsa.
NURUL HUSNA, S.Pd., alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bina Bangsa Getsempena dan Anggota FAMe, melaporkan dari Banda Aceh
Di luar kampus saya, Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, saya ikut kelas Forum Aceh Menulis (FAMe) empat kali pertemuan saja sepanjang akhir tahun 2024, meski yang dilaksanakan lebih dari itu.
Sebelumnya, berkali-kali saya ikut kelas latihan menulis di UBBG karena di kampus saya pun ada chapter (cabang) FAMe sejak 24 November 2021.
Saya sangat bersyukur bisa hadir lagi di kelas menulis ini setelah tamat kuliah.
Pada pertemuan pertama tanggal 24 Oktober 2024., pengetahuan yang saya dapatkan adalah tentang Pemanfaatan, Pemutakhiran, dan Pemerkayaan KBBI Daring dengan Bahasa-Bahasa Daerah di Aceh.
Materi ini dsampaikan oleh Ibu Zulfamirda Matondang, M.Li. dari Balai Bahasa Provinsi Aceh.
Peserta diajarkan menggunakan kamus ini dengan cara mudah dan benar. Hakikatnya secanggih apa pun teknologi kita tetap membutuhkan seorang guru untuk mengajar, membimbing, mengarahkan, dan memberi saran supaya tidak ada kekeliruan dalam memperoleh pengetahuan.
Belajar sendiri juga kita bisa mendapatkan pengetahuan, tetapi tidak sempurna, meski banyak guru di YouTube manusia itu membutuhkan sosok guru di dunia nyata karena ia makhluk sosial.
Pada pertemuan kedua saya mendapat ilmu tentang Penggunaan Metafora dan Konotasi sebagai Interior Bahasa. Ini diajarkan oleh Herman RN, MPd, Dosen Prodi Bahasa Indonesia FKIP Universitas Syiah Kuala (USK) pada 31 Oktober 2024.
Saya baru tahu ternyata kedua majas (gaya bahasa) tersebut dapat ditulis dalam karya ilmiah populer, asalkan penempatannya sesuai dan tidak melanggar kode etik penulisan ilmiah.
Pertemuan ini juga dapat memotivasi peserta, terutama saya, untuk melestarikan bahasa Aceh sebagai hasil karya anak bangsa.
Kata salah seorang siswi SMAN 10 Fajar Harapan pada pertemuan tersebut, teman-temannya tidak mampu berbahasa Aceh sebab mereka malu berbicara dengan bahasa daerah dan dianggap kolot.
Ini beda dengan hasil pemantauan saya di sekolah tempat saya praktik dulu. Semua orang di sekolah itu justru melestarikan bahasa Aceh.
Penyebab orang Aceh tidak mampu berbahasa daerah, menurut saya, karena orang tuanya. Banyak anak terlahir dari ayah dan ibu yang bahasa daerahnya tidak sama. Ada anak yang mampu berbicara dalam bahasa daerah orang tuanya, ada pula yang mengikuti bahasa ibu atau ayahnya saja, bahkan ada anak tidak pandai satu pun bahasa daerah kedua orang tuanya.
Akibat orang tua memilih aman untuk menghindari kesalahpahaman dalam berbahasa Aceh di rumah, lalu mereka menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara. Alhasil, anak-anaknya hampir ta pernah mendengar tuturan bahasa Aceh di rumahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-HUSNA-OKE-BARU.jpg)