Opini
Khanduri Apam, Tradisi Kuliner Aceh Penuh Makna
Tradisi ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan juga perwujudan nilai spiritual, sejarah Islam, dan filosofi kehidupan.
Abdul Manan, Guru Besar Antropologi UIN Ar-Raniry pada Fakultas Adab dan Humaniora, serta Ketua Prodi Ilmu Agama Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry
SETIAP kali bulan Rajab tiba, masyarakat Aceh menyambutnya dengan sebuah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun: memasak dan mengadakan khanduri apam. Tradisi ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan juga perwujudan nilai spiritual, sejarah Islam, dan filosofi kehidupan. Begitu kuatnya pengaruh tradisi ini dalam budaya Aceh, hingga masyarakat lebih akrab menyebut bulan Rajab sebagai “Buleuen Khanduri Apam”—bulan kenduri apam.
Lebih dari sekadar sajian lezat, kue apam dalam tradisi ini memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan pengampunan, kebersamaan, dan refleksi perjalanan hidup manusia. Namun, bagaimana tradisi ini berkembang? Apa asal-usul dan sejarahnya? Dan apa makna filosofis di baliknya?
Dalam bahasa Arab, kata 'Apam' diyakini berasal dari afwan, yang berarti pengampunan. Bagi masyarakat Aceh, Khanduri Apam bukan sekadar acara makan bersama, tetapi juga momentum untuk merenungi perjalanan hidup, memohon ampun kepada Allah swt, serta memperkuat silaturahmi antarsesama.
Tradisi ini juga dikaitkan dengan dua peristiwa besar dalam sejarah Islam yang terjadi pada 27 Rajab: Pertama, kisah Bahtera Nabi Nuh AS.
Menurut keyakinan sebagian ulama, pada hari ini air bah mulai surut setelah bencana besar yang menimpa umat manusia. Bentuk kue apam yang bulat dianggap melambangkan keselamatan bahtera Nabi Nuh yang akhirnya mendarat dengan selamat di puncak gunung.
Kedua, Isra Mi'raj Nabi Muhammad saw merupakan perjalanan spiritual Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha, langit ke tujuh. Ini diyakini sebagai momentum penting dalam Islam. Dalam Khanduri Apam, filosofi perjalanan ini tercermin dalam kebersamaan saat menikmati hidangan, mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah swt, penuh ujian dan tantangan.
Mengakar dalam tradisi
Sejarah Khanduri Apam juga dikaitkan dengan legenda bahwa Ud, cucu Nabi Nuh AS, pernah diminta untuk mengumpulkan kayu guna membangun bahtera. Sebagai imbalannya, ia meminta 10.000 buah apam. Dari sinilah, masyarakat Aceh mewarisi kebiasaan memasak dan membagikan apam sebagai simbol kebaikan dan kepedulian sosial.
Bahan utama kue apam sangat sederhana; tepung beras, santan, gula, dan garam. Adonan ini kemudian dimasak di atas wajan tanah liat hingga permukaannya berlubang-lubang kecil. Saat disajikan, apam biasanya dinikmati dengan kuah manis dari santan dan gula aren, yang dalam filosofi masyarakat Aceh melambangkan manisnya kehidupan yang harus disyukuri.
Di banyak desa di Aceh, Khanduri Apam bukan hanya berlangsung dalam lingkup keluarga, tetapi juga secara kolektif di masjid, meunasah (mushalla), atau balai desa. Perayaan ini dimulai dengan zikir dan doa bersama, diikuti oleh tausiah agama yang mengingatkan tentang pentingnya bulan Rajab sebagai waktu untuk memperbanyak amal ibadah. Setelah itu, masyarakat duduk melingkar dan menikmati apam yang telah disiapkan oleh para perempuan di dapur-dapur rumah.
Khanduri Apam menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul, berbagi cerita, dan memperkuat ikatan sosial. Di tengah dunia yang semakin individualistis, tradisi ini mengajarkan betapa pentingnya kebersamaan dan gotong royong.
Simbol kehidupan
Masyarakat Aceh percaya bahwa apam memiliki makna filosofis yang mendalam. Bentuknya yang bulat melambangkan kesempurnaan dan perjalanan hidup manusia. Seperti lingkaran, hidup selalu berputar—kadang di atas, kadang di bawah.Lapisan apam yang tipis mencerminkan kefanaan dunia—rapuh dan mudah hancur, mengingatkan bahwa hidup di dunia hanya sementara.
Rasanya yang manis berpadu dengan sedikit gurih adalah refleksi kehidupan yang penuh ujian dan kenikmatan. Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Khanduri Apam juga mengandung pesan moral yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:"Sesungguhnya amal perbuatanmu akan Kami hitung dan Kami balas dengan kebaikan yang setimpal." (QS. Al-Isra: 19).
Kenduri ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk selalu berbuat baik, berbagi dengan sesama, dan tidak melupakan doa untuk para leluhur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Abdul-Manan-BARU-LAGIi.jpg)