Meugang

Jelang Meugang Ramadan di Aceh, Ini yang Dilakukan Barantin

"Indonesia saat ini fokus pada program swasembada pangan nasional. Oleh karena itu, komoditas yang dilalulintaskan harus...

Penulis: Sara Masroni | Editor: Eddy Fitriadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat M Panggabean saat kunjungan kerja ke Sabang, Kamis (30/1/2025). 

Laporan Sara Masroni | Sabang 

SERAMBINEWS.COM, SABANG - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Sahat M Panggabean menegaskan komitmennya dalam mempertahankan status Sabang, Aceh sebagai wilayah bebas rabies secara historis, bebas brucellosis, dan nol kasus penyakit mulut dan kuku (PMK).

"Jangan sampai pulau eksotis ini rusak akibat masuknya hama atau penyakit. Sebab apabila sudah masuk hama atau penyakit, dampaknya akan sangat merugikan, terutama bagi sektor pariwisata dan ekonomi," jelas Sahat saat di Kantor Pemerintah Kota Sabang, Kamis (30/1/2025).

Dia juga memastikan kesehatan komoditas hewan, ikan dan tumbuhan serta produk turunannya yang dilalulintaskan merupakan salah satu upaya penting dalam mendukung program swasembada pangan nasional yang tengah digalakkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

"Indonesia saat ini fokus pada program swasembada pangan nasional. Oleh karena itu, komoditas yang dilalulintaskan harus benar-benar dijamin kesehatannya, apa lagi saat ini menjelang perayaan Meugang Ramadan ya, harus sinergi dan kerjasama," ujar Sahat.

Meugang Ramadan sendiri adalah tradisi masyarakat Aceh untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan memasak dan menikmati daging bersama keluarga, kerabat, atau yatim piatu. 

Sehingga menjelang kegiatan tersebut biasanya lalu lintas komoditas terutama hewan dan daging sapi meningkat. Menurut Sahat, upaya mempertahankan status kesehatan hewan di Sabang tidak lepas dari kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait. 

Dari data sistem Best Trust Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Aceh (Karantina Aceh), lalu lintas (lalin) komoditas hewan, ikan dan tumbuhan yang masuk melalui Pelabuhan Balohan, Sabang rata-rata berupa hewan dan produk hewan yaitu sapi.

Tercatat sepanjang tahun 2024, lalu lintasnya sebanyak 633 kali dengan rincian hewan sapi sebanyak 286 ekor dan produk hewan sebanyak 46 ton.

Selain pengawasan potensi lalu lintas ilegal melalui tempat-tempat pemasukan atau pelabuhan yang tidak ditetapkan, Pulau Weh sendiri sering dikunjungi oleh kapal pesiar dari luar negeri, sehingga pengawasan barang bawaan penumpang atau hewan peliharaan perlu diperhatikan, terutama hewan penular rabies (HPR) seperti anjing dan kucing yang tidak boleh ikut turun keluar kapal.

Sementara Pj Walikota Sabang, Andri Nourman yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mendukung tugas dan fungsi Barantin dalam upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit hewan, ikan dan tumbuhan khususnya ke wilayah Sabang yang terletak di Pulau Weh.

Andri juga sepakat bahwa perlunya peningkatan pengawasan lalu lintas komoditas yang berpotensi membawa penyakit, terutama saat mendekati Meugang Ramadan ini. Menurutnya, bila ditemukan kasus PMK pada hewan ternak yang masuk ke Sabang, tentunya akan menjadi masalah serius.

Kemudian Kepala Karantina Aceh, Muhammad Burlian, yang juga turut mendampingi menyatakan komitmennya untuk terus mempertahankan status Sabang sebagai wilayah bebas rabies, bebas brucellosis, dan PMK nol kasus.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved