Jumat, 5 Juni 2026

Tradisi

Mengulik Tradisi Makan Adat Suku Singkil

Menu makanan yang disajikan dalam mangan mekhadat adalah nasi, kepala kambing serta makanan istimewa lainnya. 

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/DEDE ROSADI
TRADISI ADAT SINGKIL -  Tradisi makan adat dalam acara pesta di Kabupaten Aceh Singkil  

Laporan Dede Rosadi l Aceh Singkil 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Suku Singkil, yang mendiami Kabupaten Aceh Singkil, memiliki tradisi makan adat yang biasa digelar dalam acara pesta dan acara istimewa. 

Dalam bahasa Singkil, makan adat tersebut disebut mangan mekhadat. 

Tradisi mangan mekhadat mengajarkan etika dan tata krama makan. 

Menu makanan yang disajikan dalam mangan mekhadat adalah nasi, kepala kambing serta makanan istimewa lainnya. 

Makanan disajikan dalam dalong yang dikenal juga dengan sebutan dulang atau nampan. 

Dalong tempat hidangan telah dipasang sarung kain yang didesain sedemikian rupa sesuai adat istiadat setempat. Sehingga terlihat menonjol di tengah-tengah para pria yang duduk bersila. 

Dalam tradisi mangan mekhadat dalong yang disajikan harus ganjil. Minimal satu maksimal sembilan sesuai kemampuan yang punya acara. 

"Jumlahnya sesuai kemampuan yang pasti jumlahnya ganjil minimal satu maksimal sembilan," kata Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Aceh Singkil, Zakirun Pohan, Minggu (2/2/2025). 

Penempatan dalong ada aturannya. Tak sembarang orang bisa mendapat suguhan dalong berisi makanan istimewa dari yang punya acara. 

Dalong berisi kepala kambing merupakan sajian untuk pimpinan tertinggi. Pada masa lalu adalah raja. 

Sedangkan masa kini dalam prosesi mangan mekhadat pada pesta di kampung, dalong berisi kepala kambing bisanya disajikan kepada pimpinan tertinggi yang hadir seperti keuchik (kepala desa).

Sebagai penandanya pimpinan tertinggi duduk di dekat tiang yang dibungkus kain warna kuning. 

Selain pimpinan tertinggi yang mendapat sajian makan berdalong dalam mangan mekhadat adalah imam, puhun (paman), bapak memberu (adik ipar laki-laki), bapak penguda (saudara laki-laki paling tua), anak bayo (menantu) dan senina (saudara laki-laki) atau turang (saudara perempuan). 

Berikutnya tokoh yang disegani sebanyak dua orang. Sehingga jumlahnya sembilan orang.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved