Kesehatan
Rokok Elektrik Sama Bahayanya dengan Rokok Biasa, Picu Diabetes hingga Stroke
Jurnal itu menyebut perokok elektrik memiliki risiko diabetes 15 persen lebih tinggi dibandingkan non-perokok.
SERAMBINEWS.COM - Saat ini banyak masyarakat terlebih anak muda yang menggunakan rokok elektrik atau biasa disebut vape.
Bahkan rokok elektrik sering dianggap sebagai alternatif lebih sehat, karena tidak menghasilkan asap seperti rokok konvensional.
Lantas ada pertanyaan mana yang lebih aman, rokok elektrik atau rokok biasa? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rokok elektrik membawa risiko kesehatan yang signifikan. Termasuk diabetes, hipertensi, dan bahkan kematian mendadak.
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dr. Rahmantio Adi, Sp.PD menjelaskan temuan dari beberapa penelitian yang membahas penggunaan rokok elektrik yang berhubungan dengan diabetes dan hipertensi.
Perokok elektrik memiliki risiko diabetes 15 persen lebih tinggi
Pertama, ‘Impact of Electronic Cigarette Use on the Increased Risk of Diabetes: The Korean Community Health Survey’ yang diterbitkan pada jurnal Epidemiology and Health.
Jurnal itu menyebut perokok elektrik memiliki risiko diabetes 15 persen lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Sebaliknya, perokok konvensional memiliki risiko lebih tinggi sebesar 22 persen.
"Lebih tinggi pada mereka yang dual smoker, atau pengguna kombinasi rokok elektrik dan konvensional, memiliki risiko tertinggi, yaitu 39 persen lebih besar dibandingkan non-perokok pada resiko diabetes," terang Rahmantio Adi seperti dikutip dari laman Unesa, Minggu (2/2/2025).
Dalam artikel lain, berjudul "An Updated Overview of E‑Cigarette Impact on Human Health" dalam jurnal "Respiratory Research" yang diterbitkan BioMed Center, menyebut asap aerosol yang dihasilkan rokok elektrik mengandung beberapa zat yang menimbulkan efek berbahaya salah satunya stres oksidatif.
Baca juga: Ini 7 Bahaya Vape untuk Kesehatan, Rokok Elektronik yang Dihisap Caisar YKS saat Live TikTok 24 Jam
Penggunaan rokok elektrik picu diabetes hingga stroke
Sementara itu, artikel "The Impact of Reactive Oxygen Species in The Development of Cardiometabolic Disorders: A Review" dalam jurnal "Lipids Health and Diseases" yang diterbitkan oleh BioMedic Center, menjelaskan bagaimana stres oksidatif berdampak pada diabetes.
Stres oksidatif menyebabkan cedera pada sel endotel, menurunkan ekspresi enzim eNOS (endothelial nitric oxide synthase) dan produksi NO (nitric oxide). Penurunan NO ini menyebabkan aliran darah berkurang, sehingga menghambat pengambilan glukosa oleh sel.
Selain itu, stres oksidatif juga memicu fosforilasi serin pada IRS (insulin receptor substrate), yang mengganggu jalur pensinyalan insulin seperti PI3K/Akt dan GLUT4, yang berperan dalam pengambilan glukosa.
"Akibatnya, terjadi penurunan sensitivitas insulin di jaringan tubuh. Lebih lanjut, stres oksidatif meningkatkan kadar retinol-binding protein 4 (RBP4), yang memacu peningkatan produksi glukosa oleh hati, memperburuk resistensi insulin secara keseluruhan," ungkap dia.
Saat tubuh memiliki kondisi resistensi insulin, sel-sel tubuh seperti hepatosit, adiposit, dan monosit tidak merespons insulin dengan baik, sehingga kadar glukosa dalam darah meningkat.
dr Boyke Ungkap Penyebab Pasangan Susah Punya Anak, Ternyata Bukan Hanya dari Istri |
![]() |
---|
Dr Zaidul Akbar Ungkap Rahasia Anti Peradangan: Cukup 1 Sendok Bisa Cegah Kanker hingga Autoimun |
![]() |
---|
8 Manfaat Minum Air Kayu Manis, Bagus untuk Kesehatan Wanita |
![]() |
---|
Bahan Makanan yang Direkomendasikan untuk Penderita Diabetes, Bantu Menjaga Gula Darah Stabil |
![]() |
---|
6 Menu Diet Sehat Tinggi Protein untuk Pertumbuhan Otot Anak, Penting Selama Masa Tumbuh Kembang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.