Kesehatan
Rokok Elektrik Sama Bahayanya dengan Rokok Biasa, Picu Diabetes hingga Stroke
Jurnal itu menyebut perokok elektrik memiliki risiko diabetes 15 persen lebih tinggi dibandingkan non-perokok.
Jurnal "Obesity and Insulin Resistance: An Abridged Molecular Correlation" yang pada jurnal "Sage Journal" menyebutkan, walaupun sel beta pankreas berusaha mengatasi gangguan ini dengan meningkatkan sekresi insulin, tubuh tetap mengalami hiperinsulinemia.
Seiring berjalannya waktu, sel beta pankreas yang memproduksi insulin mulai kehilangan fungsinya karena permintaan insulin yang terus meningkat.
Pada beberapa individu yang mengalami resistensi insulin, tetapi tidak mengembangkan hiperglikemia, sel beta masih dapat memproduksi insulin, tetapi pada penderita diabetes tipe 2, kemampuan sel beta untuk merespons penurunan sensitivitas insulin berkurang.
Akibatnya, terjadi disfungsi sel beta yang menyebabkan intoleransi glukosa dan peningkatan kadar glukosa puasa yang mengarah pada diabetes tipe 2.
"Kadar asam lemak bebas yang tinggi akibat lipolisis berperan dalam kerusakan sel beta, menurunkan sekresi insulin, dan memperburuk kondisi resistensi insulin, yang akhirnya menyebabkan diabetes tipe 2," tambahnya.
Tak hanya diabetes, penggunaan rokok elektrik juga berpotensi bagi hipertensi. Artikel dengan judul "Cardiopulmonary Impact of Electronic Cigarettes and Vaping Products: A Scientific Statement From the American Heart Association" dari Jurnal American Heart Association menjelaskan, salah satu bahan rokok elektrik yakni nikotin, dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis.
Hal itu menyebabkan pelepasan hormon adrenalin yang meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
"Peningkatan tekanan darah yang terus-menerus menyebabkan hipertensi kronis, yang pada akhirnya meningkatkan risiko gagal jantung atau stroke," beber dosen FK itu.
Baca juga: Viral Seorang Ibu Beri Bayinya Vape, Ngakak saat Bocah Itu Batuk-batuk
Perokok pasif juga berisiko
Paparan aerosol rokok elektrik juga berbahaya bagi perokok pasif. Partikel kecil dari uap vape mengandung senyawa kimia yang dapat menyebabkan peradangan saluran pernapasan dan peningkatan risiko hipertensi bahkan pada orang yang tidak merokok.
Dalam kasus tertentu, paparan berulang dapat memicu kondisi fatal seperti gagal pernafasan akut atau kerusakan jantung mendadak, yang dikenal sebagai e-cigarette or vaping product use-associated lung injuryatau EVALI.
Lantas bagaimana dengan kandungan rokok elektrik tanpa nikotin? Dosen kelahiran Kota Pahlawan itu mengungkap walaupun tidak ada kandungan nikotin, tetapi terdapat dua kandungan utama yang sering ditemukan.
Dua kandungan tersebut mencakup propylene glycol (PG) dan vegetable glycerine (VG). Bahaya kedua kandungan itu dijelaskan dalam artikel dengan judul "Effects of Electronic Cigarette Constituents on the Human Lung: A Pilot Clinical Trial" dalam jurnal American Association for Cancer Research.
"Jurnal tersebut, mengungkap PG dan VG ini menyebabkan inflamasi. inflamasi yang disebutkan adalah reaksi tubuh terhadap paparan PG dan VG yang mungkin memicu iritasi di paru-paru. Reaksi ini terdeteksi melalui peningkatan sel dan mediator inflamasi dalam jaringan paru-paru," tambahnya.
Dokter Tio, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya edukasi tentang bahaya rokok elektrik dan persepsi keliru bahwa vape adalah alternatif yang aman.
dr Boyke Ungkap Penyebab Pasangan Susah Punya Anak, Ternyata Bukan Hanya dari Istri |
![]() |
---|
Dr Zaidul Akbar Ungkap Rahasia Anti Peradangan: Cukup 1 Sendok Bisa Cegah Kanker hingga Autoimun |
![]() |
---|
8 Manfaat Minum Air Kayu Manis, Bagus untuk Kesehatan Wanita |
![]() |
---|
Bahan Makanan yang Direkomendasikan untuk Penderita Diabetes, Bantu Menjaga Gula Darah Stabil |
![]() |
---|
6 Menu Diet Sehat Tinggi Protein untuk Pertumbuhan Otot Anak, Penting Selama Masa Tumbuh Kembang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.