Sejarah Aceh
Sejarah Syiah di Aceh: Dari Kejayaan 450 Tahun hingga Peralihan ke Sunni
"Banyak peninggalan sejarah yang seharusnya dijaga, karena ini merupakan bagian penting dari sejarah Islam di Nusantara," ungkapnya...
Penulis: Gina Zahrina | Editor: Eddy Fitriadi
SERAMBINEWS.COM BANDA ACEH - Islam Syiah pernah berkembang di Aceh selama 450 tahun sebelum akhirnya beralih ke Sunni.
Hal ini diungkapkan oleh Prof Dr Husaini MA, Guru Besar Arkeologi FKIP Universitas Syiah Kuala (USK), dalam podcast SerambiNews on TV pada Jumat (7/2/2025).
Diskusi ini dipandu oleh News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M. Ali, yang menggali lebih dalam tentang sejarah awal Islam di Aceh dan pengaruh Syiah di wilayah tersebut.
Menurut Prof. Husaini, Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui Aceh. Ada beberapa teori mengenai asal-usulnya, termasuk teori Barat dan Timur.
Salah satu teori yang menarik adalah masuknya Islam melalui Persia, yang memiliki pengaruh kuat terhadap ajaran Syiah di Aceh.
"Jika melihat teori Persia, tidak heran pengaruh Syiah di Aceh cukup besar," ungkapnya yang dikutip dalam Serambinews On Tv, (7/2/2025).
Dalam penelitiannya, Prof. Husaini berfokus pada Kerajaan Lamuri di Aceh Besar, yang menjadi pusat perkembangan Syiah sejak abad ke-8 hingga 1205.
Bukti arkeologis seperti batu nisan, kaligrafi, dan ornamen khas Syiah menunjukkan keberadaannya.
"Sebelum Islam Sunni mendominasi, pengaruh Syiah telah lebih dulu berkembang di Aceh. Ini terlihat dari batu nisan dan inskripsi yang memiliki corak khas Persia," jelasnya.
Namun, ajaran ini mulai berkurang ketika Sultan Alaidin Johan Syah naik takhta dan membawa perubahan ke Islam Sunni.
"Perubahan ini bukan berarti Islam baru masuk, melainkan peralihan dari tradisi Syiah ke Sunni. Pengaruhnya masih bisa ditemukan dalam budaya masyarakat Aceh," tambahnya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa sebelum Islam berkembang, Aceh juga mendapat pengaruh dari budaya Hindu-Buddha melalui proses Indianisasi.
"Sebelum masuknya Islam, Aceh sudah lebih dulu dipengaruhi budaya Hindu dan Buddha. Ini menunjukkan bahwa Aceh memiliki sejarah panjang dalam menerima berbagai pengaruh budaya dari luar," katanya.
Meskipun ajaran Syiah mulai berkurang, jejaknya masih dapat ditemukan dalam budaya dan peninggalan sejarah di Aceh.
Prof. Husaini menekankan pentingnya pelestarian situs sejarah seperti masjid kuno di Lamuri yang kini kurang mendapat perhatian.
"Banyak peninggalan sejarah yang seharusnya dijaga, karena ini merupakan bagian penting dari sejarah Islam di Nusantara. Sayangnya, banyak situs bersejarah yang kini terabaikan dan terancam hilang," tutupnya.
(Serambinews.com/Gina Zahrina)
Kejayaan 450 Tahun
Sejarah Syiah di Aceh
SUNNI
Youtube Serambi On TV
Serambi on TV
Serambinews
Serambi Indonesia
Sejarah Aceh Hari Ini: 26 Tahun Pembantaian Tgk Bantaqiah di Beutong Ateuh: Luka yang Tak Sembuh |
![]() |
---|
Kerajaan Aceh Punya Dua Istana, Begini Kisah Sultan Mengungsi dari Kraton ke Keumala Dalam |
![]() |
---|
Tim Mapesa Temukan Makam Syah Bandar Abad Ke-17 di Aceh Besar, Mizuar Sebut Ini Penemuan Penting |
![]() |
---|
Nisan Tokoh Muslim Era Lamuri di Laweung Digulingkan ke Jurang, Prajurit TNI dan Warga Bereaksi |
![]() |
---|
Hari Ini 15 Tahun Kepergian Hasan Tiro, Deklarator GAM di Gunung Halimon, Ini 10 Fakta dari Sosoknya |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.