Perang Gaza

Lebih dari 12.000 Mayat Masih Tertimbun Reruntuhan di Gaza, Israel Larang Masuk Alat Berat

Ia menambahkan bahwa gerakan perlawanan Palestina Hamas juga tidak akan mampu mengembalikan jenazah tawanan Israel yang terbunuh selama perang Israel

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/al jazeera
KEMBALI KE RUMAH - Rifaat Jouda berjalan bersama putranya saat memasuki Kota Gaza setelah perjalanan panjang dari Gaza selatan, pada 28 Januari 2025. 

SERAMBINEWS.COM - Kepala Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan lebih dari 12.000 mayat diperkirakan terperangkap di bawah reruntuhan di jalur itu, di tengah pembatasan Israel terhadap masuknya mesin berat yang dibutuhkan.

Berbicara pada konferensi pers di Rumah Sakit Baptis di Kota Gaza, Salama Maarouf mengatakan penolakan Israel untuk mengizinkan masuknya alat berat ke Gaza menghambat pemulihan jenazah.

Disebutkan bahwa gerakan perlawanan Palestina Hamas juga tidak akan mampu mengembalikan jenazah tawanan Israel yang terbunuh selama perang Israel di Gaza karena pembatasan yang dilakukan rezim tersebut.

Selama 15 bulan perang genosida rezim Israel terhadap rakyat Palestina yang dimulai pada Oktober 2023, setidaknya 47.583 orang tewas, dan 111.633 orang terluka, sebagian besar adalah anak-anak dan wanita.

Pada tanggal 15 Januari, rezim Israel, yang gagal mencapai salah satu tujuan perangnya termasuk “penghapusan” Hamas atau pembebasan tawanan, terpaksa menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan gerakan perlawanan Palestina Hamas.

Pembatasan Israel tersebut melanggar perjanjian.

Sebelumnya pada hari itu, Kantor Media Pemerintah memperingatkan bahwa Israel “secara serius” memperburuk situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dengan tidak mengizinkan pengiriman bantuan dalam jumlah “minimum” yang disepakati dalam kesepakatan gencatan senjata.            

“Jumlah bantuan yang masuk ke Jalur Gaza masih jauh dari jumlah minimum yang dibutuhkan,” kata Kantor Media Pemerintah.

Kantor tersebut mendesak para mediator kesepakatan gencatan senjata untuk memberikan tekanan pada Israel agar melaksanakan protokol kemanusiaan dari perjanjian tersebut.

Juga mendesak masyarakat internasional untuk tidak tinggal diam terhadap tragedi kemanusiaan ini dan menyerukan “percepatan penyelenggaraan konferensi internasional mengenai rekonstruksi Gaza” untuk menggagalkan rencana pengusiran warga Palestina.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved