Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Da’i Minus Kompetensi, Merusak Islam Tanpa Sadar!

Ada pula yang hanya mengandalkan suara lantang dan humor segar. Bukan karena keilmuan, tapi karena bisa menghibur jamaah.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Tgk Abdullah Tsani adalah pecinta ilmu ulama Aceh dan sekarang tinggal di Kota Nasaf, Uzbekistan, Asia Tengah 

*) Oleh: Tgk Abdullah Tsani

RAMADHAN tiba. Masjid-masjid penuh. Semangat umat Islam untuk beribadah meningkat. Semua berlomba mencari pahala. Termasuk di dalamnya, mencari ilmu agama.

Namun, ada satu hal yang mengganggu. Di banyak tempat, mimbar diisi oleh penceramah yang entah siapa. Tidak jelas latar belakang keilmuannya. Tidak ada sanad keilmuan. Tidak pernah dikenal sebagai ahli fikih, tafsir, atau hadis. Tapi tiba-tiba berbicara lantang soal hukum-hukum Islam.

Sebagian dari mereka punya modal keturunan ulama atau keturunan orang dimuliakan dalam Islam. Juga artis 'hijrah' dan pokoknya lagi viral di media sosial.

Ada pula yang hanya mengandalkan suara lantang dan humor segar. Bukan karena keilmuan, tapi karena bisa menghibur jamaah. Dan yang lebih ironis, mereka mendapat panggung. Bahkan dengan bayaran tinggi.

Di Aceh, tempat di mana syariat Islam diterapkan, fenomena ini semakin kentara. Dahulu, dai lahir dari dayah. Bertahun-tahun menuntut ilmu, menghafal kitab, memahami metodologi hukum Islam.

Dan ini parah, lembaga yang fokus mengajarkan Agama secara fokus. Tapi bidang dakwah diperankan oleh orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama secara serius.

Di Indonesia secara umum, keadaannya lebih parah. Siapa pun bisa jadi penceramah. Tidak ada standar keilmuan. Yang penting viral, punya pengikut banyak, dan bisa bicara dengan penuh percaya diri.

Di Uzbekistan, Mesir atau Arab Saudi, dakwah dikendalikan oleh lembaga resmi. Tidak bisa sembarang orang naik mimbar dan bicara soal Islam.

Tapi di sini, semua serba bebas. Akibatnya, banyak yang berbicara tanpa dasar ilmu yang cukup. Dalil dikutip sembarangan. Hadis dipakai tanpa tahu apakah sahih atau palsu. Fatwa dikeluarkan seenaknya. Yang jadi korban? Umat Islam sendiri.

Hari ini dengar satu ceramah, besok dengar ceramah lain yang isinya bertolak belakang. Hari ini satu dai bilang sesuatu itu haram, besok dai lain bilang halal. Jamaah jadi bingung.

Yang lebih menyedihkan, banyak pengurus masjid yang tidak peduli soal keilmuan.

Patokan mereka sederhana: "Yang penting ceramahnya disukai jamaah." Kalau dai yang lucu, bawa cerita menarik, dan bisa buat jamaah tertawa, langsung diundang lagi. Tidak peduli apakah isinya benar atau tidak. Ini kesalahan besar.

Badan Kemakmuran Masjid (BKM) seharusnya tidak mengikuti selera jamaah. Tapi mengikuti standar keilmuan. Jangan karena jamaah senang dengan ceramah ringan, kita terus-terusan mengundang penceramah yang tidak punya dasar ilmu kuat.

Jangan karena satu penceramah bisa menarik banyak orang, lalu kita lupakan ulama yang sesungguhnya. Masjid bukan tempat hiburan. Mimbar bukan panggung komedi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved