Kupi Beungoh
Da’i Minus Kompetensi, Merusak Islam Tanpa Sadar!
Ada pula yang hanya mengandalkan suara lantang dan humor segar. Bukan karena keilmuan, tapi karena bisa menghibur jamaah.
Tapi mari kita lihat dari sisi lain. Kenapa dai karbitan bisa lebih dikenal? Kenapa mereka lebih laku diundang ceramah? Jawabannya sederhana: mereka lebih pintar dalam pemasaran.
Sementara itu, banyak alumni dayah dan perguruan tinggi Islam yang sebetulnya memiliki ilmu lebih dalam, justru kalah dalam hal ini. Mereka tidak aktif di media sosial. Tidak membuat konten dakwah yang menarik. Tidak berusaha membangun komunikasi dengan umat secara lebih luas.
Akhirnya, mereka tenggelam. Ini harus jadi introspeksi. Bukan berarti harus ikut-ikutan viral, tapi harus ada usaha untuk memperkenalkan keilmuan yang benar dengan cara yang relevan dengan zaman.
Fenomena ini juga seharusnya jadi perhatian perguruan tinggi Islam. Terutama Fakultas Dakwah. Seharusnya ada kajian mendalam. Kenapa dai-dai instan bisa lebih berpengaruh? Kenapa masyarakat lebih tertarik dengan mereka daripada ulama yang sebenarnya? Fakultas Dakwah harus mencari solusi.
Menciptakan metode yang bisa membuat dai dengan keilmuan yang benar tetap bisa bersaing di tengah derasnya arus digital. Karena kalau tidak, mimbar akan terus diambil oleh orang-orang yang tidak punya kapasitas keilmuan. Dan pada akhirnya, Islam dirusak dari dalam.
Solusi dari semua ini sebetulnya sederhana: kembali kepada ulama sejati.
Umat Islam harus lebih selektif. Jangan hanya mendengar ceramah dari yang populer, tapi dari yang benar-benar punya ilmu.
Masjid harus lebih ketat dalam memilih penceramah. Jangan hanya melihat siapa yang bisa mengundang tawa, tapi lihat siapa yang benar-benar memahami agama.
Alumni dayah dan perguruan tinggi Islam harus lebih aktif menyebarkan ilmunya. Jangan kalah dengan dai karbitan yang hanya mengandalkan viralitas.
Dan yang paling penting, dakwah harus kembali kepada esensinya. Bukan sekadar ajang mencari pengikut, bukan sekadar hiburan, tapi sebagai jalan untuk menyebarkan kebenaran.
Karena Islam bukan milik mereka yang sekadar bisa berbicara. Tapi milik mereka yang benar-benar memahami.
Fenomena dai karbitan ini bukan hanya masalah kecil. Bahkan ada di komunitas da'i pun ada yang beranggotakan bukan latar pendidikan Islam tapi full jadwal isi ceramah.
Karena sesuai 'selera jamaah'. Jika ini dibiarkan, umat akan semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar.
Kita harus kembali kepada ahli yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Jangan biarkan dakwah diisi oleh orang-orang yang lebih mementingkan enak di dengar walaupun tanpa ilmu dan hikmah.
Karena ketika Islam disampaikan tanpa ilmu, yang terjadi bukan dakwah. Tapi kerusakan. (*)
*) Penulis adalah pecinta ilmu ulama Aceh dan sekarang tinggal di Kota Nasaf, Uzbekistan, Asia Tengah.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Menyikapi Ancaman El-Nino Godzilla |
|
|---|
| Tak Terdata, Tak Terlihat: Realitas Sosial di Balik Angka JKA |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tgk-Abdullah-Tsani-adalah-pecinta-ilmu-ulama-Aceh.jpg)