Selasa, 21 April 2026

Kupi Beungoh

Da’i Minus Kompetensi, Merusak Islam Tanpa Sadar!

Ada pula yang hanya mengandalkan suara lantang dan humor segar. Bukan karena keilmuan, tapi karena bisa menghibur jamaah.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Tgk Abdullah Tsani adalah pecinta ilmu ulama Aceh dan sekarang tinggal di Kota Nasaf, Uzbekistan, Asia Tengah 

*) Oleh: Tgk Abdullah Tsani

RAMADHAN tiba. Masjid-masjid penuh. Semangat umat Islam untuk beribadah meningkat. Semua berlomba mencari pahala. Termasuk di dalamnya, mencari ilmu agama.

Namun, ada satu hal yang mengganggu. Di banyak tempat, mimbar diisi oleh penceramah yang entah siapa. Tidak jelas latar belakang keilmuannya. Tidak ada sanad keilmuan. Tidak pernah dikenal sebagai ahli fikih, tafsir, atau hadis. Tapi tiba-tiba berbicara lantang soal hukum-hukum Islam.

Sebagian dari mereka punya modal keturunan ulama atau keturunan orang dimuliakan dalam Islam. Juga artis 'hijrah' dan pokoknya lagi viral di media sosial.

Ada pula yang hanya mengandalkan suara lantang dan humor segar. Bukan karena keilmuan, tapi karena bisa menghibur jamaah. Dan yang lebih ironis, mereka mendapat panggung. Bahkan dengan bayaran tinggi.

Di Aceh, tempat di mana syariat Islam diterapkan, fenomena ini semakin kentara. Dahulu, dai lahir dari dayah. Bertahun-tahun menuntut ilmu, menghafal kitab, memahami metodologi hukum Islam.

Dan ini parah, lembaga yang fokus mengajarkan Agama secara fokus. Tapi bidang dakwah diperankan oleh orang-orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan agama secara serius.

Di Indonesia secara umum, keadaannya lebih parah. Siapa pun bisa jadi penceramah. Tidak ada standar keilmuan. Yang penting viral, punya pengikut banyak, dan bisa bicara dengan penuh percaya diri.

Di Uzbekistan, Mesir atau Arab Saudi, dakwah dikendalikan oleh lembaga resmi. Tidak bisa sembarang orang naik mimbar dan bicara soal Islam.

Tapi di sini, semua serba bebas. Akibatnya, banyak yang berbicara tanpa dasar ilmu yang cukup. Dalil dikutip sembarangan. Hadis dipakai tanpa tahu apakah sahih atau palsu. Fatwa dikeluarkan seenaknya. Yang jadi korban? Umat Islam sendiri.

Hari ini dengar satu ceramah, besok dengar ceramah lain yang isinya bertolak belakang. Hari ini satu dai bilang sesuatu itu haram, besok dai lain bilang halal. Jamaah jadi bingung.

Yang lebih menyedihkan, banyak pengurus masjid yang tidak peduli soal keilmuan.

Patokan mereka sederhana: "Yang penting ceramahnya disukai jamaah." Kalau dai yang lucu, bawa cerita menarik, dan bisa buat jamaah tertawa, langsung diundang lagi. Tidak peduli apakah isinya benar atau tidak. Ini kesalahan besar.

Badan Kemakmuran Masjid (BKM) seharusnya tidak mengikuti selera jamaah. Tapi mengikuti standar keilmuan. Jangan karena jamaah senang dengan ceramah ringan, kita terus-terusan mengundang penceramah yang tidak punya dasar ilmu kuat.

Jangan karena satu penceramah bisa menarik banyak orang, lalu kita lupakan ulama yang sesungguhnya. Masjid bukan tempat hiburan. Mimbar bukan panggung komedi.

Tapi mari kita lihat dari sisi lain. Kenapa dai karbitan bisa lebih dikenal? Kenapa mereka lebih laku diundang ceramah? Jawabannya sederhana: mereka lebih pintar dalam pemasaran.

Sementara itu, banyak alumni dayah dan perguruan tinggi Islam yang sebetulnya memiliki ilmu lebih dalam, justru kalah dalam hal ini. Mereka tidak aktif di media sosial. Tidak membuat konten dakwah yang menarik. Tidak berusaha membangun komunikasi dengan umat secara lebih luas. 

Akhirnya, mereka tenggelam. Ini harus jadi introspeksi. Bukan berarti harus ikut-ikutan viral, tapi harus ada usaha untuk memperkenalkan keilmuan yang benar dengan cara yang relevan dengan zaman.

Fenomena ini juga seharusnya jadi perhatian perguruan tinggi Islam. Terutama Fakultas Dakwah. Seharusnya ada kajian mendalam. Kenapa dai-dai instan bisa lebih berpengaruh? Kenapa masyarakat lebih tertarik dengan mereka daripada ulama yang sebenarnya? Fakultas Dakwah harus mencari solusi.

Menciptakan metode yang bisa membuat dai dengan keilmuan yang benar tetap bisa bersaing di tengah derasnya arus digital. Karena kalau tidak, mimbar akan terus diambil oleh orang-orang yang tidak punya kapasitas keilmuan. Dan pada akhirnya, Islam dirusak dari dalam.

Solusi dari semua ini sebetulnya sederhana: kembali kepada ulama sejati.

Umat Islam harus lebih selektif. Jangan hanya mendengar ceramah dari yang populer, tapi dari yang benar-benar punya ilmu.

Masjid harus lebih ketat dalam memilih penceramah. Jangan hanya melihat siapa yang bisa mengundang tawa, tapi lihat siapa yang benar-benar memahami agama.

Alumni dayah dan perguruan tinggi Islam harus lebih aktif menyebarkan ilmunya. Jangan kalah dengan dai karbitan yang hanya mengandalkan viralitas.

Dan yang paling penting, dakwah harus kembali kepada esensinya. Bukan sekadar ajang mencari pengikut, bukan sekadar hiburan, tapi sebagai jalan untuk menyebarkan kebenaran.

Karena Islam bukan milik mereka yang sekadar bisa berbicara. Tapi milik mereka yang benar-benar memahami.

Fenomena dai karbitan ini bukan hanya masalah kecil. Bahkan ada di komunitas da'i pun ada yang beranggotakan bukan latar pendidikan Islam tapi full jadwal isi ceramah.

Karena sesuai 'selera jamaah'. Jika ini dibiarkan, umat akan semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar.

Kita harus kembali kepada ahli yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. Jangan biarkan dakwah diisi oleh orang-orang yang lebih mementingkan enak di dengar walaupun tanpa ilmu dan hikmah.

Karena ketika Islam disampaikan tanpa ilmu, yang terjadi bukan dakwah. Tapi kerusakan.  (*)

*) Penulis adalah pecinta ilmu ulama Aceh dan sekarang tinggal di Kota Nasaf, Uzbekistan, Asia Tengah.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved