Jumat, 1 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Seni Rupa Aceh Masih Sekadar Cerita

Dalam percakapan ini, terkadang terkesan bahwa seni rupa tidak pernah benar-benar keluar dari ruang percakapan semata.

Tayang:
Editor: mufti
IST
ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Jantho, Aceh Besar 

ICHSAN, M.Sn., Ketua Jurusan Seni Rupa dan Desain Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Jantho, Aceh Besar

Seni rupa di Aceh, meskipun terus berkembang, masih berada dalam ruang yang lebih banyak berfungsi sebagai cerita daripada sebuah kenyataan hidup yang bisa menyentuh banyak orang.

Perkembangan seni rupa di Aceh memang memiliki euforia tersendiri yang terkadang hanya berakhir di meja kopi dan diskusi semata. Dalam percakapan ini, terkadang terkesan bahwa seni rupa tidak pernah benar-benar keluar dari ruang percakapan semata. Padahal, dengan potensi yang ada, seni rupa seharusnya menjadi salah satu pilar yang membangun masyarakat Aceh.

Namun sayangnya, seni rupa di Aceh masih belum hadir dalam bentuk yang nyata, sebagaimana seni pertunjukan yang lebih banyak mendapat perhatian.

Seni pertunjukan memang lebih menarik perhatian publik karena sifatnya yang bisa menghibur, dinamis, dan langsung bisa dinikmati khalayak. Baik itu melalui tarian, musik, teater, ataupun bentuk pertunjukan lainnya, seni pertunjukan memiliki keindahan visual dan sensasi yang langsung dapat dinikmati penonton.

Tidak hanya soal keindahan, tetapi seni pertunjukan juga bisa memprovokasi emosi, membawa pesan-pesan tertentu, dan memberikan pengalaman yang sulit dilupakan.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika seni pertunjukan lebih banyak mendapat tempat di hati masyarakat, serta mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan pihak terkait.

Di sisi lain, seni rupa di Aceh cenderung berada di balik layar. Walaupun sering terlihat dalam workshop atau pameran-pameran yang diadakan oleh instansi pemerintah atau komunitas, kehadirannya tampak sebagai bentuk formalitas atau sekadar eksekusi anggaran. Tidak jarang, pameran seni rupa di Aceh hanya berlangsung sebentar, dengan peserta terbatas, dan tanpa keberlanjutan yang jelas. Pameran-pameran tersebut lebih sering dianggap sebagai kegiatan tahunan atau acara semata, tanpa dampak yang signifikan terhadap perkembangan seni rupa itu sendiri.

Meskipun karya seni yang ditampilkan memiliki kualitas yang baik, tetapi setelah pameran berakhir, tidak ada yang tahu ke mana arah perkembangan karya tersebut.

Bahkan, meskipun Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh sudah berjalan selama lebih dari sepuluh tahun dengan jurusan seni rupa dan desain, semangat berkarya seni rupa di Aceh masih terbilang stagnan. Di beberapa daerah, semangat berkarya dalam seni rupa sangat kurang, padahal berbagai potensi yang ada sangat mendukung tumbuhnya industri seni rupa yang lebih maju. Aceh, sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya dan sejarah yang tinggi, sesungguhnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan seni rupa. Namun kenyataannya, semangat mengembangkan seni rupa di Aceh masih jauh dari harapan.

Fenomena ini sangat berbeda dengan daerah seperti Jepara, yang menjadi salah satu contoh sukses dalam pengembangan seni rupa menjadi industri. Di Jepara, industri seni rupa dan kerajinan kayu berkembang pesat, menciptakan lapangan kerja yang sangat signifikan. Karya-karya seni rupa di Jepara tidak hanya dilihat sebagai hasil seni murni, tetapi juga sebagai produk fungsional yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti furniture, ukiran, dan berbagai barang kerajinan lainnya. Bahkan, produk-produk seni rupa Jepara telah mendunia dan banyak diminati oleh pasar internasional.

Fenomena ini seharusnya menjadi contoh bagi Aceh, di mana seni rupa bisa lebih berkembang jika dikelola dengan baik dan diarahkan ke arah yang lebih produktif dan fungsional.

Seiring dengan semakin masifnya sektor pariwisata yang menjadi perhatian utama Pemerintah Aceh, industri seni rupa bisa menjadi sektor yang saling mendukung. Produk-produk seni rupa bisa menjadi bagian yang integral dalam memperkaya pengalaman wisatawan, baik itu dalam bentuk suvenir, barang kerajinan, maupun elemen-elemen lainnya yang dapat mempercantik ruang-ruang publik.

Seni rupa di Aceh, dengan segala keragaman dan keunikannya, bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Aceh, yang tidak hanya ingin menikmati keindahan alam dan budaya, tetapi juga karya seni lokal yang autentik.

Namun, untuk mencapai hal tersebut, perlu ada perubahan paradigma dalam mengembangkan seni rupa di Aceh. ISBI Aceh, sebagai satu-satunya perguruan tinggi seni dan budaya di Aceh, seharusnya memegang peran penting dalam mengarahkan para mahasiswa untuk tidak hanya menciptakan karya seni yang bersifat monumental, tetapi juga karya seni yang lebih fungsional dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved