RAMADHAN MUBARAK

Mengasah Intelektual Profetik Melalui Puasa Ramadhan

Orang yang berpuasa akan menghindari hal-hal apa pun yang membatalkan puasanya karena ia sadar bahwa Allah Swt selalu mengawasinya.

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr H Teuku Zulkhairi, MA, Dosen UIN Ar-Raniry dan Sekjend ISAD 

Oleh Dr H Teuku Zulkhairi, MA, Dosen UIN Ar-Raniry dan Sekjend ISAD

Sesungguhnya Ramadhan bisa mengasah intelektualitas seorang muslim ke arah fungsi kenabian. Melalui puasa, seseorang belajar menahan diri dari hawa nafsu yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasanya. Orang yang berpuasa akan menghindari hal-hal apa pun yang membatalkan puasanya karena ia sadar bahwa Allah Swt selalu mengawasinya.

Jadi karena kesadaran ini sehingga puasa melatih intelektual untuk teguh menghadapi tekanan dan menolak kebatilan. Puasa itu juga akan mengasah seorang intelektual untuk tidak mudah tergoda oleh kepentingan duniawi yang dapat mengaburkan objektivitas dan integritas keilmuannya. Karena ia yakin Allah selalu mengawasi.

Intelektual dalam pandangan Islam harus berperan dalam mengubah realitas berdasarkan nilai-nilai kenabian dengan intelektualitas dan integritasnya. Inilah yang oleh Kuntowijoyo (1991) diperkenalkan sebagai intelektual profetik, yaitu “intelektual yang menjalankan fungsi kenabian” serta teguh di jalan kebenaran, apa pun tantangannya.

Hilangnya intelektual profetik menyebabkan kerusakan di sebuah negeri, dari sosial, ekonomi, hingga politik. Ketika di suatu negeri muslim intelektualnya hanya sibuk mengejar materi dan kedudukan, mengejar relasi dengan penguasa untuk menikmati kue kekuasan sembari melupakan esensi dan fungsi intelekualitasnya, maka mereka akan kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran, menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Hilangnya intelektual profetik ini akan menyebabkan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat terus dipraktikkan.

Perhatikan saja bahwa di negeri mana pun, apabila seorang penguasa ingin memiliki legitimasi kuat melakukan sebuah kebijakan, pasti membutuhkan pembenaran dari kaum intelektual. Maka jika kaum intelektual membenarkan kebijakan yang salah, efeknnya adalah kehancuran dan kerusakan yang akan mendera masyarakatnya. Sebaliknya, intelektual yang berani menolak kezaliman akan berperan besar melindungi negeri dan rakyatnya dari kehancuran. 

Salah satu tantangan terbesar bagi intelektual muslim adalah godaan kekuasaan. Faktanya, banyak intelektual yang pada awalnya memiliki idealisme tinggi, tetapi akhirnya terjebak dalam arus pragmatism sehinga tidak jarang mereka memilih diam atau mendukung kebijakan zalim. Kerusakan di dunia Islam umumnya terjadi karena banyaknya kaum intelektual yang terjebak dalam pragmatisme politik, mendukung ekonomi yang kapitalistik dan dan hedonisme duniawi lainnya, sehingga kehilangan ruh profetiknya.

Hal ini tentu berbeda dengan sejarah intelektual profetik yang teguh membela kebenaran apapun resikonya, seperti Imam Abu Hanifah menolak tunduk pada tekanan politik untuk membenarkan kebijakan penguasa zalim, hingga akhirnya beliau dipenjara dan wafat dalam tahanan. Imam Ahmad bin Hanbal menghadapi siksaan karena mempertahankan akidah Islam yang lurus. 

Di Indonesia, sosok seperti Teungku Chik di Tiro menggunakan keilmuan Islam untuk memimpin perlawanan terhadap kolonialisme. KH. Hasyim Asy’ari dengan tegas menolak penjajahan dan menggerakkan umat dalam jihad mempertahankan kemerdekaan, dan banyak lainnya.

Di sinilah Ramadhan itu bisa mengasah kembali ruh intelektual profetik. Sebab, puasa Ramadhan tidak hanya memperkuat kesadaran bahwa Allah Swt pasti melihat puasa kita, tapi juga melatih seseorang untuk mengontrol selera, mengendalikan nafsu terhadap jabatan, harta dan pengaruh politik belaka. Ramadhan juga melatih kita untuk bisa merasakan langsung kondisi orang-orang miskin yang sering menahan lapar dan dahaga. 

Sementara itu, amalan lainnya di bulan ramadhan seperti tilawah Al Qur’an  juga berperan untuk memperkuat landasan spiritual dan intelektual seorang muslim, menjadikannya lebih peka terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Shalat malam memperkuat hubungan dengan Allah dan memberi kekuatan moral untuk membela kebenaran. 

Sedangkan amal lain seperti sedekah akan melatihnya untuk memiliki kepekaan sosial, mengingatkan bahwa ilmu dan kecerdasan harus diabdikan untuk kemaslahatan agama dan masyarakat luas. 

Jadi, jelas bahwa puasa Ramadhan ini akan mengasah intelektual profetik dengan mengajarkannya keberanian moral, kejujuran intelektual, dan kepedulian sosial dalam rangka menjalankan peran kenabian. Wallahu a’lam bishshawab.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved