Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Jurnalisme Warga

Tradisi Memburu Tanda Tangan Penceramah di Bulan Ramadhan

Apa yang membuat bulan Ramadhan begitu istimewa? Bulan Ramadhan adalah bulan mulia dan begitu istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia.

|
Editor: mufti
IST
SAFRUL FAJRYAN 

SAFRUL FAJRYAN, Siswa Kelas IX MTsN 2 Aceh Besar, melaporkan dari Tungkop, Aceh Besar

Apa yang membuat bulan Ramadhan begitu istimewa? Bulan Ramadhan adalah bulan mulia dan begitu istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia. Ramadhan bukan hanya sekadar waktu untuk berpuasa, melainkan juga sebuah momen untuk mempererat hubungan baik dengan Allah, keluarga, dan sesama. Ramadhan juga bulan untuk memperbanyak ibadah. Selain berpuasa, banyak ibadah yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan, seperti shalat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, infak, sedekah, ibadah malam atau qiyamul lail, dan ibadah lainnya.

Selain itu, Ramadhan juga membawa serta berbagai tradisi yang menghiasi kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di masjid. Di Indonesia ada beberapa tradisi yang khas dilakukan dalam bulan Ramadhan, seperti ngabuburit, memburu takjil, buka puasa bersama, bahkan sampai sahur bersama.

Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini adalah buku agenda Ramadhan, sebuah warisan budaya yang menghubungkan generasi muda dengan nilai-nilai keagamaan yang mendalam. Seperti apakah tradisi ini di tengah dinamika kehidupan modern? Mari kita simak lebih lanjut.

Seperti diketahui, tradisi buku agenda Ramadhan ini telah membudaya dari orang-orang terdahulu, khususnya di kalangan para siswa sejak puluhan tahun  lalu. Buku ini menjadi salah satu tugas yang diberikan kepada siswa untuk diisi selama bulan Ramadhan yang isinya mencakup tabel waktu shalat, pelaksanaan shalat Tarawih, nama imam dan penceramah, juga terdapat kolom rangkuman isi ceramah yang otomatis mewajibkan siswa untuk meminta tanda tangan penceramah tersebut.

Buku ini menjadi salah satu bagian dari pendidikan keagamaan yang diwajibkan di sekolah. Tradisi ini juga dapat menjadi sarana sekolah untuk menilai kepribadian dan kebiasaan ibadah siswa sehari-hari di bulan Ramadhan.

Mengisi buku agenda Ramadhan ini adalah pengalaman pertama bagi saya yang merupakan seorang siswa kelas 9 di MTsN 2 Aceh Besar. Sebelum memasuki bulan puasa, buku agenda tersebut sudah dibagikan guru kepada siswa. Sekolah mewajibkan siswa untuk mengisi kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan selama Ramadhan, baik itu ibadah, kegiatan membantu orang tua, tadarus, muraja’ah, maupun sedekah, yang setelah akhir Ramadhan buku tersebut akan dikumpulkan Kembali melalui wali kelas masing-masing.

Kepala MTsN 2 Aceh Besar, Sudirman SAg, berharap dengan memontum Ramadhan dan kewajiban mengisi buku ini menjadikan para siswa, khususnya siswa MTsN 2 Aceh Besar, agar lebih disiplin dalam melakukan setiap kegiatan  selama bulan suci Ramadhan dan dapat membentengi diri dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa, seperti perbuatan sia-sia, berkata kasar, atau meninggalkan ibadah wajib, dan diharapkan siswa lebih termotivasi untuk menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran serta tanggung jawab.

Agenda Ramadhan

Malam pertama Ramadhan saya melaksanakan shalat Tarawih di balai pengajian Raudhatul Qur’an, Gampong Tungkop yang tidak jauh dari rumah saya. Balai pengajian yang dipimpin oleh Tgk Sulfanwandi ini banyak diikuti oleh jemaah, baik dari penduduk sekitar maupun yang datang dari Kota Banda Aceh.

Malam itu ceramah disampaikan langsung oleh Tgk Sulfanwandi yang menjelaskan tentang keutamaan bulan Ramadhan. Beliau menegaskan bahwa ada empat keutamaan bulan Ramadhan yang tidak ada pada bulan-bulan lain. Pertama, pada bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu dan dikekang sehingga tidak leluasa untuk menggoda manusia. Kedua, pada bulan Ramadhan kalangan jin dan saudaranya akan dipenjara jauh dari manusia. Ketiga dan keempat adalah pada bulan Ramadhan pintu surga dibuka selebar-lebarnya, sedangkan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya.

Setelah penutupan ceramah saya dan siswa-siswa lainnya mengantre untuk mendapatkan tanda tangan sang Teungku sebagai bukti bahwa apa yang kami tulis malam itu adalah asli dari isi ceramah beliau, bukan karangan fiksi. Pemandangan ini akan terlihat pada malam-malam selanjutnya selama Ramadhan di masjid-masjid atau balai pengajian, yakni anak-anak sekolah yang antusias berlari mendekati penceramah untuk meminta tanda tangannya.

Tradisi seperti inilah yang membuat Ramadhan semakin hidup di kalangan pelajar. Ini juga mengajarkan para siswa memiliki kebiasaan untuk selalu melakukan shalat fardu dan Tarawih berjemaah, dan juga mengingatkan mereka untuk senantiasa  mengeluarkan sedekah dan infak pada bulan Ramadhan, serta membiasakan siswa untuk tadarus dan selalu dekat dengan Al-Qur’an.

Dampak lain dari tradisi ini ialah para siswa akan terus menjadi generasi yang senantiasa bersahabat dengan masjid dan dapat menghidupkan keseharian mereka dengan membaca Al-Qur’an walaupun hanya sekedar satu halaman setiap harinya. Juga dapat membuat mereka terus tumbuh sebagai generasi yang berkembang serta tetap dekat dengan syariat Islam.

Menurut ibu saya, tradisi ini sudah ada sejak beliau masih duduk di bangku madrasah ibtidaiah. Beliau juga bercerita bahwa pada saat itu, tradisi ini juga berlaku pada senior-senior beliau sebelumnya. Gagasan ini makin menegaskan bahwa faktanya tradisi ini telah dilakukan berulang dalam rentang waktu yang lama. Namun, kita tidak tahu pasti waktu yang presisi dimulainya tradisi ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved