Kupi Beungoh
Manajemen Ramadhan Dapat Mengembalikan Kefitrahan Manusia Yang Suci dan Baik Dalam Hidup
Menjaga kefitrahan manusia sangat diperlukan kesadaran dan keinsafan yang tinggi dan kokoh dalam membangun dan mengembangkan hubungan dengan Allah SWT
*)Oleh: Dr. H. Herman, M.A
HIDUP di era kontemporer sangat berbeda dengan era tradisional atau klasik.
Era kontemporer diikuti dengan perkembangan teknologi, globalisasi dan perubahan sosial dari semua aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal mengelola dan merawat kefitrahan manusia yang suci dan baik dalam hidup.
Menjaga kefitrahan manusia sangat diperlukan kesadaran dan keinsafan yang tinggi dan kokoh dalam membangun dan mengembangkan hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.
Konsisten mengembangkan sifat-sifat yang baik, dan komitmen mencegah dari segala bentuk yang dapat menjerumus diri ke dalam noda dan dosa yang merusak kefitrahan manusia.
Manajemen ramadhan memiliki peran penting dalam mengembalikan kefitrahan manusia yang suci dan baik dalam hidup.
Manusia sebagai makhluk religius dalam mengembalikan kefitrahan yang suci dan baik harus memiliki kesadaran dan keinsafan yang tinggi dan kokoh untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah dengan baik, berzikir dan berdoa dengan khusyuk serta membaca, memahami dan mengamalkan isi al-qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia sebagai makhluk sosial dalam mengembalikan kefritahan yang suci dan baik harus mampu mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dengan baik dan benar di tengah-tengah masyarakat.
Menjaga hubungan dengan keluarga, teman dan masyarakat secara harmonis dalam kehidupan sehari-hari. Mengembangkan kerja sama dan kolaborasi dengan orang lain secara inten dan efektif di tengah-tengah masyarakat.
Hambatan yang dihadapi dalam mengembalikan kefitrahan manusia yang suci dan baik, biasanya tidak lari dari hambatan internal dan eksternal.
Hambatan internal karena faktor kemalasan dan keengganan masyarakat dalam menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan, kurang pengetahuan agama dan cara-cara pengembangan diri yang efektif dalam menjalan ibadah di bulan suci ramadhan.
Sedangkan hambatan eksternal karena faktor lingkungan yang kurang mendukung dalam menjalankan ibadah puasa dan adanya tekanan psikologis dan sosial yang mempengaruhi motivasi menjalankan ibadah puasa serta pengaruh teknologi yang mengganggu motivasi dalam menjalankan ibadah di bulan suci ramadhan.
Dalam mengembalikan kefitrahan manusia yang suci dan baik juga dihadapkan tantangan yang harus dilewati.
Pertama, karena faktor kesulitan dalam mengembangkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup.
Kedua, karena faktor lemah kemampuan dalam mengendali dan menghindari diri dari kotoran noda dan dosa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-H-Herman-MADosen-STAIN-Teungku-Dirundeng-Meulaboh.jpg)