Kupi Beungoh
Pewarta adalah Jendela Dunia
Tapi saat pewarta menyalakan lentera kebenaran, justru ada yang ingin memadamkannya
Oleh : Drs. Isa Alima *)
Di bumi Serambi Mekkah, kita hidup berdampingan dengan adat, syariat, dan semangat perjuangan.
Namun, apa jadinya ketika suara kebenaran dibungkam, dan yang jujur justru disingkirkan?
Pewarta hadir bukan untuk mencela, tapi menyuarakan yang nyata. Mereka bukan provokator, tapi penjaga nurani Rakyat.
Bila ada air mata rakyat yang tumpah, pewartalah yang menjadikannya berita, agar dunia tahu bahwa keadilan belum merata.
Sungguh memilukan, masih ada yang mencaci dan bahkan menganiaya pewarta. Mengapa?
Apakah karena mereka menulis kenyataan? Ataukah karena mereka tak mau diam melihat kebusukan?
Di Gampong, saat lampu padam, kita cari lentera.
Baca juga: Profil Kolonel Teuku Mustafa Kamal, Putra Pidie Mulai Karier di Kopassus, Raider Khusus dan Kodam IM
Tapi saat pewarta menyalakan lentera kebenaran, justru ada yang ingin memadamkannya. Ini bukan sekadar ironi ini tamparan bagi kita semua.
Jangan benci pewarta karena kejujurannya. Jangan musuhi mereka karena keberaniannya.
Mereka tidak punya senjata, hanya pena dan suara hati. Tapi justru dari situlah lahir perubahan.
Pewarta berdiri di atas keyakinan berita harus fakta, bukan rekayasa. dan selama masih ada ketimpangan, kami akan terus bersuara. walau langit runtuh, kebenaran harus tetap ditegakkan.
*) PENULIS adalah Ketua Asosiasi Wartawan Internasional Aceh (ASWIN Aceh)
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Drs-Isa-Alima_-Aswin-Aceh_.jpg)