Rabu, 20 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Aceh Rugi Rp 372 Miliar per Tahun Gegara Ekspor CPO Lewat Provinsi Lain

berdasarkan data Distanbun Aceh per Oktober 2024, produksi CPO Tanah Rencong telah menembus angka 1 juta ton per tahun.

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/RIANZA ALFANDI
KAKANWIL DJBC – Kepala Kanwil DJBC Aceh, Safuadi, menyatakan Aceh setiap tahunnya rugi Rp372 miliar akibat ekspor crude palm oil (CPO) atau minyak mentah sawit lewat pelabuhan di Sumatera Utara, Selasa (22/4/2025). 

Kajian Kementerian Keuangan sebagai unit pengelola Creative Financing KPBU bersama Dinas Perhubungan Aceh memperkirakan investasi sekitar Rp700 miliar dibutuhkan untuk memodernisasi Pelabuhan Krueng Geukuh.

Diantaranya pendalaman alur 9 m, loading arm, dan tangki 40.000 m⊃3;. Dengan throughput fee sekitar Rp 55 ribu per ton, skema KPBU untuk pengembangan dermaga akan mampu balik modal dalam 7–8 tahun.

Baca juga: Berawal Kasus Hilang Handphone, Pria di Aceh Utara Bacok Warga Saat Proses Mediasi

“Manfaat pembangunan pelabuhan ini akan meluas ke berbagai sektor. Pemerintah daerah bisa memperoleh lebih dari Rp40 miliar per tahun dari retribusi bongkar muat. 

Di sisi hulu, petani sawit bisa menikmati kenaikan harga tandan buah segar (TBS) sebesar Rp100 hingga Rp150 per kilogram karena biaya transportasi berkurang,” jelasnya.

Selain itu, kehadiran pelabuhan modern akan membuka peluang hilirisasi industri sawit seperti oleokimia dan biodiesel, yang selama ini terkonsentrasi di Dumai, Medan, dan bahkan Johor. 

Tenaga kerja lokal dapat terserap di berbagai sektor pendukung, mulai dari pergudangan, perkapalan, laboratorium mutu, hingga pabrik turunan sawit.

Lebih lanjut, Safuadi menyampaikan, potensi pengembangan pelabuhan ekspor tidak hanya terbatas di Krueng Geukuh. 

Pelabuhan Calang, Meulaboh, Surin di Abdya, dan Singkil juga layak dikembangkan sebagai simpul logistik baru. Keberadaan pelabuhan-pelabuhan ini akan memperpendek rantai distribusi dan memperkuat daya saing CPO Aceh di pasar global.

Tanpa percepatan pembangunan pelabuhan ekspor, Aceh akan terus kehilangan ratusan miliar rupiah setiap tahun. Uang yang seharusnya memperkuat ekonomi lokal justru tersedot keluar daerah. 

Baca juga: Terpisah 6 Tahun, Rindu Ayah-Bunda asal Thailand Tercurah Saat Bersua Sang Putri di Aceh Besar

Di sisi lain, potensi peningkatan pendapatan daerah, kesejahteraan petani, dan penciptaan lapangan kerja masih terhambat oleh ketergantungan pada infrastruktur luar provinsi.

Pembangunan pelabuhan ekspor bukan semata soal beton, pipa dan tangki. Ini adalah pilihan strategis untuk menentukan arah masa depan ekonomi Aceh. 

Jika keputusan ini tidak segera diambil, maka generasi mendatang akan menanggung akibat dari kelambanan hari ini.

Sebaliknya, jika dimanfaatkan dengan tepat, pelabuhan ekspor akan menjadi pintu masuk bagi transformasi besar, dari Aceh sebagai lumbung bahan mentah menjadi Aceh sebagai pusat nilai tambah dan industri kelapa sawit.

“Keputusan ada di meja para pemimpin daerah hari ini. Setiap bulan tanpa progres berarti puluhan miliar rupiah kembali tergerus di jalan raya.

 Jika Aceh sungguh ingin lepas dari label hanya lumbung bahan mentah, maka dermaga ekspor CPO adalah pintu gerbangnya,” pungkasnya.

Baca juga: Harga Emas Per Mayam Hari Ini di Banda Aceh Kembali Tembus Rekor Tertinggi 2025, Dijual Rp 6,3 Juta

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved