Selasa, 28 April 2026

Luar Negeri

India dan Pakistan Terancam Perang Buntut Tragedi Berdarah di Kashmir Tewaskan 26 Wisatawan

Korban dari tragedi berdarah tersebut bukan tentara atau pejabat, melainkan warga sipil yang sedang berlibur di salah satu lembah paling indah India

Editor: Faisal Zamzami
AP
PENEMBAKAN - Tentara India memeriksa lokasi baku tembak antara militan Kashmir dan pasukan keamanan di sebuah pos pemeriksaan di Nagrota, pinggiran Jammu, Kamis (19/11/2020). 

Serangan itu menargetkan apa yang disebutnya sebagai landasan peluncuran militan di Kashmir yang dikelola Pakistan.

Pada 2019, setelah sedikitnya 40 personel paramiliter India tewas di Pulwama, Kahsmir, negara itu melakukan serangan udara ke lokasi yang diduga kamp militer di Balakot, Pakistan.

Itu menjadi serangan India terdalam ke wilayah Pakistan sejak 1971.

Pakistan pun merespons dengan serrbuan udara, yang berujung pada pertempuran udara dan penangkapan singkat seorang pilot India.

Kedua belah pihak menunjukkan kekuatan tetapi menghindari perang skala penuh.

Dua tahun kemudian, pada 2021, mereka menyetujui gencatan senjata LoC, yang sebagian besar telah dilaksanakan, meski serangan militan berulang kali terjadi di Kashmir yang dikelola India.

Sementara itu, seorang analis kebijakan luar negeri, Michael Kugelman, meyakini bahwa kombinasi tingkat kematian yang tinggi, dan penargetan warga sipil India dalam serangan terbaru, menunjukkan kemungkinan kuat adanya respons militer India terhadap Pakistan.


Hal itu akan terjadi bahkan Delhi menentukan, atau bahkan sekadar berasumsi adanya tingkat keterlibatan Pakistan.

Baca juga: Kepala Penjara Kashmir India Tewas di Rumahnya, Militan Mengaku Bertanggung Jawab

India Perketat Keamanan dan Luncurkan Operasi Perburuan usai Serangan Teroris di Kashmir

 

 Pemerintah India memperketat pengamanan di wilayah Kashmir pada Rabu (23/4/2025), menyusul serangan teroris sehari sebelumnya yang menewaskan sedikitnya 26 orang, sebagian besar wisatawan domestik.

Usai serangan, pasukan keamanan India meluncurkan operasi perburuan besar-besaran terhadap para pelaku yang diyakini berasal dari kelompok militan.

Ribuan polisi dan tentara dikerahkan ke berbagai penjuru wilayah yang disengketakan tersebut.

Pos-pos pemeriksaan ditambah, kendaraan diperiksa secara acak, dan patroli udara menggunakan helikopter digencarkan. 

Beberapa mantan milisi juga dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved