Konflik Rusia vs Ukraina
Korea Utara Akui Kirim Pasukan ke Rusia, Ukraina Desak Sanksi Lebih Keras
Pemerintah Ukraina mendesak komunitas internasional untuk memperketat sanksi terhadap Rusia dan Korea Utara.
SERAMBINEWS.COM - Pemerintah Ukraina mendesak komunitas internasional untuk memperketat sanksi terhadap Rusia dan Korea Utara.
Seruan ini disampaikan setelah pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, secara terbuka mengakui pasukannya turut membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina.
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut pengakuan tersebut sebagai bukti nyata dari meningkatnya kerja sama militer antara Moskow dan Pyongyang yang dinilai membahayakan stabilitas global.
“Para mitra internasional memiliki berbagai alat untuk menekan kedua rezim ini, khususnya dalam membatasi akses mereka terhadap teknologi Barat,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Ukraina, seperti dikutip dari laman Ukrainian World Congress (UWC), Selasa (29/4/2025).
Dikutip dari laman resminya, UWC mengeklaim diri sebagai organisasi nirlaba internasional yang mewakili lebih dari 25 juta warga Ukraina di 80 negara lebih.
Pengakuan keterlibatan militer Korea Utara dalam perang Ukraina diumumkan oleh Kim Jong Un pada Senin (28/4/2025).
Ia menyebut pengiriman pasukan Korea Utara ke Rusia merupakan bagian dari implementasi Traktat Kemitraan Strategis Komprehensif antara kedua negara.
Langkah ini mengejutkan banyak pihak, mengingat baik Moskow maupun Pyongyang sebelumnya selalu membantah adanya kerja sama militer langsung terkait konflik di Ukraina.
“Pernyataan ini sangat menunjukkan bahwa kata-kata dari rezim Putin dan Kim Jong Un tidak bisa dipercaya. Mereka telah berbohong sejak awal,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi.
Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin juga telah mengonfirmasi kehadiran pasukan Korea Utara dalam konflik tersebut dan bahkan menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan tersebut.
Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa aliansi militer antara Rusia dan Korea Utara telah berkembang ke tahap yang lebih serius.
Pemerintah Ukraina menilai kerja sama militer yang kian erat antara Rusia dan Korea Utara bukan hanya ancaman bagi Ukraina, tetapi juga bagi keamanan Eropa, stabilitas kawasan Indo-Pasifik, dan Semenanjung Korea.
Ukraina juga menyoroti perkembangan teknologi senjata Korea Utara yang diujicobakan di medan perang.
“Ketika Rusia mulai menggunakan rudal balistik Korea Utara lebih dari setahun lalu, akurasinya sangat rendah. Kini, rudal-rudal itu jauh lebih presisi karena telah mereka uji di Ukraina,” kata Tykhyi.
Melihat situasi yang berkembang, Ukraina meminta agar dunia internasional segera mengambil langkah lebih tegas, termasuk memperluas sanksi ekonomi, politik, dan teknologi terhadap kedua negara tersebut.
Baca juga: Trump Makin Pusing Hadapi Putin, Pertanyakan Keinginan Presiden Rusia Akhiri Perang di Ukraina
| AS Cabut Sanksi Sementara untuk Minyak Rusia yang Tertahan di Laut, Berlaku 30 Hari |
|
|---|
| Rusia Luncurkan 420 Drone dan 39 Rudal ke Ukraina, Infrastruktur Energi Lumpuh, Puluhan Terluka |
|
|---|
| Jelang Negosiasi, Rusia Tembakkan 450 Drone dan 70 Rudal ke Ukraina, 10 Orang Terluka |
|
|---|
| Rusia Klaim Habisi 1.260 Tentara Ukraina Dalam 24 Jam, Termasuk Tentara Bayaran di 144 Lokasi |
|
|---|
| 200 Drone Rusia Serang Ukraina, Zelenskyy: Dua Orang Tewas dan Puluhan Terluka, Listrik Padam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kim-Jong-un-saat-bertemu-dengan-tentara-Korea-Utara-saat-latihan-militer.jpg)