Kamis, 23 April 2026

Berita Aceh Timur

Industri Batu Bata Rumahan di Aceh Timur Terancam Bangkrut, Harga Bahan Produksi Melonjak

“Hampir semua bahan pokok naik, mulai dari kayu bakar sampai tanah liat. Kami benar-benar kesulitan,” ungkapnya saat ditemui pada Jumat (9/5/2025).

|
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Nurul Hayati
For serambinews.com
Junaidah sedang membuat batu bata di salah satu dapur industri batu bata rumahan di Kecamatan Julok, Aceh Timur, Sabtu (10/5/2025) 

“Hampir semua bahan pokok naik, mulai dari kayu bakar sampai tanah liat. Kami benar-benar kesulitan,” ungkapnya saat ditemui pada Jumat (9/5/2025).

Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI – Industri rumah tangga pembuat batu bata tanah liat di Kecamatan Julok, Aceh Timur, menghadapi ancaman serius.

Lonjakan harga bahan baku membuat banyak pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) mulai gulung tikar.

Junaidah (54), salah satu pengrajin batu bata asal Dusun Alue Dua, Desa Blang Gleum, Kecamatan Julok, mengaku kesulitan mempertahankan usahanya akibat kenaikan tajam harga bahan produksi.

“Hampir semua bahan pokok naik, mulai dari kayu bakar sampai tanah liat. Kami benar-benar kesulitan,” ungkapnya saat ditemui pada Jumat (9/5/2025).

Menurutnya, harga kayu bakar yang sebelumnya hanya Rp 130.000 per mobil angkut Chevrolet, kini melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 280.000.

Proses pembakaran batu bata biasanya membutuhkan hingga delapan mobil kayu bakar, yang berarti biaya produksi bisa mencapai hampir Rp 2 juta.

Tak hanya itu, harga tanah liat sebagai bahan utama pembuatan batu bata juga turut naik dari Rp 120.000 menjadi Rp 180.000 per dump truck. 

Kondisi ini diperparah dengan kenaikan ongkos jasa produksi, sementara harga jual batu bata justru tetap rendah, yakni hanya sekitar Rp 450 per batang.

Baca juga: Usaha Batu Bata di Uruk Anoe dari Masa ke Masa

“Bahan produksi mahal, tapi harga jual sangat murah. Banyak pengrajin sudah menyerah dan berhenti produksi karena keuntungannya sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada,” jelas Junaidah.

Ia pun berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, terutama Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM, untuk memberikan solusi dan dukungan kepada para pengrajin yang kini terancam kehilangan mata pencaharian.

“Kami butuh bantuan dan perhatian agar usaha kecil seperti ini tetap hidup. Kalau tidak, UMKM seperti kami bisa habis satu per satu,” pungkasnya. (*)

Baca juga: Dihembus Angin Kencang, Dapur Batu Bata di Seulimeum Ludes Terbakar

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved