Kamis, 11 Juni 2026

Opini

Musim Haji: Ibadah Suci atau Ladang Bisnis tanpa Batas Suci?

Fenomena perdagangan yang menyelusup di sela-sela ibadah sudah menjadi rahasia umum. Ada jemaah yang membawa serta rokok linting, jamu tradisional, ba

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
Pemimpin Dayah Mini Aceh, Tgk H Umar Rafsanjani Lc MA. 

Oleh: Tgk H Umar Rafsanjani Lc MA, Pimpinan Dayah Mini Aceh

SETIAP kali musim haji tiba, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berbondong-bondong menuju Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima. Mereka datang dengan satu harapan: mendapatkan haji yang mabrur. Namun, tidak dapat dipungkiri, di balik semangat spiritual itu, terselip pula berbagai realitas yang memunculkan tanya: apakah semua yang hadir benar-benar datang untuk ibadah, ataukah justru menjadikan momen suci ini sebagai ladang bisnis?

Fenomena perdagangan yang menyelusup di sela-sela ibadah sudah menjadi rahasia umum. Ada jemaah yang membawa serta rokok linting, jamu tradisional, bahkan obat kuat dengan merek-merek yang tidak jelas legalitasnya. Di kamar hotel dan lobi maktab, transaksi berlangsung diam-diam, terkadang lebih aktif dari zikir dan munajat yang seharusnya menjadi inti keberangkatan mereka.

Baca juga: Layanan Diperketat, Kemenag Minta PIHK Jamin Perlindungan Kesehatan Lansia Jemaah Haji Khusus

Tidak hanya itu, muncul pula “warung Indonesia” di berbagai titik pemondokan jemaah. Niat awalnya mungkin baik untuk membantu jemaah beradaptasi dengan makanan lokal. Namun ketika orientasi mulai bergeser menjadi komersialisasi, harga seporsi makanan bisa melambung tinggi, bahkan melebihi harga makanan di pusat kota Mekkah sekalipun. Sayangnya, ada jemaah yang akhirnya lebih sibuk berdagang daripada bertawaf.

Lebih memprihatinkan lagi, ibadah pun kini mulai dimodifikasi. Bimbingan manasik tidak lagi sekadar ajang pembinaan ruhiyah, tetapi menjadi paket wisata eksklusif dengan tarif tertentu. Dakwah yang seharusnya menjadi ladang pahala, berubah menjadi sumber pemasukan. Label “haji plus” tak jarang dimaknai sebagai simbol status sosial, bukan sebagai peningkatan kualitas spiritual.

Tak sedikit pula yang datang ke Tanah Suci bukan karena dorongan pribadi, melainkan karena penugasan institusi, sponsorship, atau bahkan titipan politik. Akhirnya, pelaksanaan haji pun kehilangan ruh. Ibadah menjadi rutinitas fisik, bukan refleksi jiwa. Mereka hadir secara jasmani, namun ruhani mereka tertinggal di tanah air di balik meja kerja dan laporan dinas.

Namun demikian, tidak semua jemaah hanyut dalam arus komensialisme ini. Masih ada mereka yang datang dengan tulus dan ikhlas, yang membawa serta hati yang bersih dan niat yang lurus. Mereka lebih memilih berdiam di Masjidil Haram, mengisi waktu dengan doa dan munajat, daripada larut dalam hiruk pikuk perdagangan. Wajah mereka bersinar, langkah mereka ringan, dan air mata mereka jujur. Inilah sosok-sosok yang benar-benar pulang dengan hati yang baru dan jiwa yang suci.

Akhirnya, musim haji adalah cermin. Ia memantulkan siapa kita sebenarnya: apakah kita seorang hamba yang datang untuk sujud, ataukah pedagang yang menyaru di balik ihram. Pilihan ada di tangan masing-masing. Tapi ingatlah, tidak semua yang pulang dari haji membawa pahala. Sebagian hanya membawa stempel paspor dan cerita transaksi.

Semoga kita termasuk dalam golongan yang meraih haji mabrur. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved