Opini

Negeri Sejahtera

Jika seseorang sudah benar-benar beriman dia akan sadar bahwa hal itu akan mendapat balasan siksa yang sangat pedih di hari akhirat. Mereka akan memba

Editor: mufti
IST
M HASBI AMIRUDDIN Guru Besar Islamic Studies UIN Ar-Raniry, anggota Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, dan Direktur LSAMA Banda Aceh 

M Hasbi Amiruddin, Guru Besar Islamic Studies UIN Ar-Raniry, anggota Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, dan Direktur LSAMA Banda Aceh

SIAPAPUN kita yang hidup di sebuah negeri pasti berharap selalu hidup dalam situasi nyaman, aman dan sejahtera. Hidup dalam sebuah lingkungan yang nyaman dan sejahtera tentu akan memberi pengaruh pada kesehatan setiap pribadi warga negeri, baik untuk kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa. Negeri sejahtera bukan hanya karena melimpahnya harta benda, tetapi juga terpenuhinya kepuasan jiwa.Kepuasan jiwa memang ada pengaruhnya dari kecukupan kebutuhan pada material seperti konsumsi makanan minuman atau sesuatu yang dipakai untuk melindungi diri, termasuk estetikanya. Tetapi pada cara memperoleh material itu juga ada pengaruhnya pada jiwa. Kalau material itu diperoleh dengan cara yang tidak menyenangkan orang lain tentu jiwanya tidak nyaman. Sesuatu yang diambil secara tidak seizin pemiliknya seperti mencuri atau mengkorup harta rakyat, sesungguhnya jiwanya tidak tenang.

Jika seseorang sudah benar-benar beriman dia akan sadar bahwa hal itu akan mendapat balasan siksa yang sangat pedih di hari akhirat. Mereka akan membayangkan betapa sakitnya siksaan api neraka yang berjuta-juta tahun, terus dibakar namun tidak mati-mati. Ruhnya yang suci itu pasti sangat terganggu, tidak tenang dan tidak nyaman.

Sisi lain, ketika seseorang terlibat berbuat keji seperti mengkorup harta rakyat atau berbohong kepada orang lain, ketika diketahui oleh orang banyak maka dia akan dibenci dan dicerca. Berbohong saja disadari atau tidak sudah terganggu jiwanya sendiri apalagi kalau sudah sampai tingkat dicerca. Ketika mendapat cercaan di mana-mana dia akan terganggu kenyamanan jiwanya.

Sebaliknya jika seluruh anak negeri dapat hidup jujur, dan saling membantu maka akan terciptalah suatu kehidupan yang tenang, nyaman dan sejahtera. Allah berjanji: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Q.S.Al-A'raf:96).

Menjadi orang bertakwa tidak begitu sulit hanya melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika semua anak negeri dengan keimanannya konsisten menjaga diri tidak terlibat tindakan-tindakan keji yang dapat merusak tatanan sosial masyarakat maka Allah akan melimpahkan berkah-Nya dari langit dan bumi yang menghasilkan kesejahteraan lahir dan batin.

Keimanan menjadikan seseorang selalu merasa aman dan optimis, dan ini mengantarnya hidup tenang dan dapat berkonsentrasi dalam usahanya. Itu sebabnya, keimanan kepada Allah selalu ditekankan dalam segala hal termasuk dalam memimpin negara dan juga dalam mencari rezeki. Sesungguhnya hanya Allah yang dapat menjamin rezeki makhluk-makhluk di muka bumi.
Ketakwaan suatu penduduk negeri menjadikan mereka suka bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan di antara mereka.

Kesukaan bekerja sama di antara masyarakat suatu negeri akan berlanjut saling membantu dalam mengelola bumi untuk kemakmuran bersama. Kuatnya kerja sama sesama merupakan satu faktor membuat tenangnya jiwa dalam kehidupan masyarakat. Ketenangan dan kenyamanan hidup masyarakat akan semakin banyak pula yang dapat diraih di alam raya ini yang menghasilkan kesejahteraan bersama.

Terciptanya situasi masyarakat yang aman, damai dan sejahtera dalam suatu negeri ada hubungannya dengan sosok pemimpin di negeri itu sendiri. Ketika seorang pemimpin memimpin suatu negeri dengan semangat pengabdian demi kemajuan rakyatnya, tentu bukan didasari karena keinginan berkuasa. Karena kalau sudah dimotivasi oleh nafsu ingin berkuasa sering suka meninggalkan norma dan etika. Bisa sampai mengelabui rakyat dengan janji-janji yang menyenangkan hati, tetapi tidak mungkin direalisasikannya. Realitas juga sering memperlihatkan calon pemimpin seperti ini bisa sampai tidak sungkan-sungkan menakut-nakuti lawan politiknya.

Kepemimpinan sahabat

Kita ambil contoh pemimpin yang telah berusaha membuat negeri dan rakyatnya sejahtera. Ketika Nabi saw wafat tatkala sedang memimpin negara Madinah para sahabat dari kaum Anshar ingin memilih pemimpin baru. Ketika Abu Bakar, Umar bin Khattab datang, Abu Bakar menawarkan kepada peserta musyawarah untuk memilih Umar sebagai pemimpin selanjutnya. Abu Bakar beralasan Umar adalah seorang yang berilmu, pemberani, tegas dalam memimpin.

Ketika Abu Bakar sudah memegang tangan Umar ingin membai’atnya, Umar balik memegang tangan Abu Bakar dan bertanya pada jamaah. ”Bukankah ketika Nabi berhijrah yang diajak bersama adalah Abu Bakar. Bukankah ketika Nabi sakit yang diutuskan menjadi imam shalat jamaah adalah Abu Bakar. Itu berarti Abu Bakar lah yang paling baik diantara kita. Karena itu saya berbaiat kepada Abu Bakar, sebagai pemimpin kita masa akan datang.” Bai’at dari Umar diikuti oleh jamaah lainnya. Jadilah Abu Bakar sebagai pemimpin mereka di negara Madinah.

Peristiwa ini memperlihatkan pada kita, baik Abu Bakar maupun Umar tidak berambisi untuk mendapatkan jabatan. Jabatan, termasuk kepala negara bukanlah merupakan nikmat, tetapi merupakan suatu tanggung jawab untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kepercayaan itu harus dipertanggungjawabkan tidak hanya kepada rakyat tetapi juga kepada Allah Pengadil yang seadil-adilnya. Tidak melaksanakan tugas itu sebagaimana mestinya maka kita akan menerima ganjaran sesuai dengan apa yang kita lakukan di dunia ini. Nikmat yang kita rasakan di dunia ini apalagi nikmat semu seperti mampu menyenangkan keluarga atau kroni-kroni kita, tidak sebanding dengan siksaan neraka yang membakar kita berjuta-juta tahun nanti di akhirat.
Ketika Umar terpilih menggantikan khalifah Abu Bakar bukan dengan mencalonkan diri sebagai calon khalifah.

Ketika jatuh sakit dan merasa akan meninggalkan dunia khalifah Abu Bakar memanggil beberapa sahabat. Abu Bakar menyampaikan kepada sahabat, jika dia meninggal nanti calon penggantinya yang lebih pantas adalah Umar bin Khattab. Wasiat itu tidak monolog. Sering sahabat mempertanyakan berbagai kekurangan Umar, tetapi Abu Bakar dapat memberi penjelasan yang meyakinkan semua sahabat. Kendatipun kemudian tetap ada pemilihan khalifah secara terbuka, namun tetap Umar yang terpilih.

Bagaimana usaha Umar untuk mensejahterakan rakyatnya. Cerita paling populer adalah Umar berkeliling kota hampir setiap malam untuk mendapatkan informasi apakah ada rakyatnya yang menderita kelaparan. Jika didapati langsung diantar kebutuhannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved