Selasa, 21 April 2026

Trending Worlwide

Harvard Bilang Indonesia Jadi Negara Paling Bahagia? Studi Global IniUngkap Alasannya

Studi ini melihat bagaimana kehidupan seseorang berjalan dengan baik secara menyeluruh baik dari aspek mental, sosial, spiritual, hingga keseimbangan.

Penulis: Gina Zahrina | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI
ILUSTRASI BAHAGIA. Ilustrasi seorang wanita sedang jalan - jalan di Air terjun Tangse dan mengeluarkan ekspresi bahagia. Hasil dari studi global mengatakan bahwa Indonesia menjadi negara paling sejahtera, berikut ungkapan studi global. (Arsip) Foto ini air terjun Tangse, SERAMBINEWS.COM/NURUL HAYATI 

SERAMBINEWS.COM -  Indonesia mencatat prestasi membanggakan di mata dunia yang mana Indonesia menempatkan peringkat pertama sebagai negara paling sejahtera. 

Dalam sebuah studi besar berskala global yang dilakukan oleh Harvard University, Baylor University, dan lembaga survei Gallup, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling sejahtera di dunia, mengalahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, bahkan Jepang.

Studi bertajuk Global Flourishing Study (GFS) atau Studi Kemakmuran Global ini tidak sekadar mengukur kekayaan atau pertumbuhan ekonomi, tapi lebih dalam sebagaimana diterbitkan dalam Harvard Edu (1/5/2025).

Studi ini melihat bagaimana kehidupan seseorang berjalan dengan baik secara menyeluruh baik dari aspek mental, sosial, spiritual, hingga keseimbangan hidup secara umum.

Survei Skala Global, Indonesia Unggul di Puncak

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health ini mewawancarai lebih dari 200.000 orang di 22 negara, mencakup sekitar 64 persen populasi dunia seperti yang dilansir oleh Kompas pada (26/5/2025). 

Berikut dari hasil pengumpulan data tersebut, Indonesia berada di urutan pertama, diikuti oleh:

  1. Indonesia
  2. Israel
  3. Filipina
  4. Meksiko
  5. Polandia
  6. Nigeria
  7. Mesir
  8. Kenya
  9. Tanzania
  10. Argentina

Baca juga: Daftar 10 Negara Asal Mahasiswa Asing Terbanyak di Harvard, Kini Dibayang-bayangi Kebijakan Trump

Amerika Serikat hanya berada di peringkat ke-12, sementara Inggris bahkan lebih rendah, yakni di posisi ke-20. 

Sedangkan Jepang, meskipun dikenal sebagai negara maju dengan teknologi tinggi dan harapan hidup yang panjang, justru berada di posisi paling bawah, sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Apa yang Membuat Indonesia Menonjol?

Dilansir dari Fortune (1/5/2025), menurut para peneliti, keberhasilan Indonesia menduduki posisi puncak bukan karena tingginya pendapatan atau kemajuan teknologi, melainkan karena kualitas hubungan sosial dan nilai-nilai kehidupan yang dipegang kuat oleh masyarakatnya.

Peneliti menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki:

  • Hubungan keluarga dan komunitas yang erat
  • Nilai-nilai moral dan spiritual yang kuat
  • Tingginya keterlibatan dalam kegiatan kelompok dan keagamaan
  • Rasa syukur, gotong royong, dan solidaritas sosial yang tinggi

Kehidupan masyarakat yang penuh makna dan saling terhubung inilah yang menjadi penopang utama kesejahteraan warga Indonesia, meskipun secara ekonomi, Indonesia belum termasuk negara maju.

Baca juga: Update Universitas Harvard Menang Gugatan Sementara, Mahasiswa Asing Masih Bisa Belajar

Kesejahteraan Itu Lebih dari Sekadar Uang

Definisi kesejahteraan dalam studi ini sangat berbeda dari pendekatan ekonomi semata. Tim peneliti dari Harvard mengukur kesejahteraan dari enam aspek utama:

  • Kebahagiaan dan kepuasan hidup
  • Kesehatan fisik dan mental
  • Makna dan tujuan hidup
  • Karakter dan nilai moral
  • Hubungan sosial yang kuat
  • Kestabilan finansial dan materi

Dengan menggunakan pendekatan ini, negara-negara berkembang yang umumnya masih menjaga erat nilai-nilai kekeluargaan, komunitas, dan spiritualitas justru unggul.

Sebaliknya, negara-negara maju yang sudah lama mengalami modernisasi cenderung menghadapi krisis hubungan sosial dan kesehatan mental, terutama di kalangan anak muda.

Mengapa Negara Maju Bisa Tertinggal?

Studi ini juga menyoroti bahwa banyak negara maju mengalami penurunan kualitas hubungan sosial.  Masyarakatnya sering kali merasa kesepian, sibuk mengejar karier dan materi, namun kehilangan makna hidup.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved