Senin, 20 April 2026

Kupi Beungoh

Ketika Kebenaran Dikalahkan oleh Keviralan

Tapi hari ini, seseorang bisa bangun tidur, buka media sosial, tulis cuitan nyinyir, dan dalam hitungan menit, dianggap “sumber terpercaya”

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh, Tgk. Alwy Akbar Al Khalidi, SH., MH 

Oleh: Alwy Akbar Al Khalidi, SH, MH

DALAM dunia yang terhubung nyaris tanpa sekat, informasi berlimpah bukan lagi jaminan meningkatnya kualitas pengetahuan.

Justru sebaliknya: kita menyaksikan ironi yang menyakitkan—di tengah kemudahan mengakses sumber primer, masyarakat malah menenggelamkan diri dalam kabut opini amatiran.

Tom Nichols menyebut ini sebagai “kematian keahlian.” Saya menyebutnya: krisis intelektual dengan wajah ramah.

Dahulu, menjadi ahli adalah puncak dari dedikasi intelektual. Ia memerlukan waktu, disiplin, dan pertanggungjawaban akademik.

Tapi hari ini, seseorang bisa bangun tidur, buka media sosial, tulis cuitan nyinyir, dan dalam hitungan menit, dianggap “sumber terpercaya” oleh ribuan pengikutnya.

Kredibilitas bukan lagi diukur dari kapabilitas, tapi dari jumlah “like” dan “share”.

Lantas siapa yang salah? Apakah masyarakat yang malas berpikir kritis, atau para ahli yang terlalu sibuk bicara dalam bahasa menara gading—tak lagi mampu menjangkau publik yang gelisah?

Fenomena ini tak terjadi dalam ruang hampa. Ada kejenuhan terhadap elitisme yang terlalu sering merasa paling tahu, tapi tak pernah mau turun dari mimbar.

Namun lebih dari itu, ada kegagalan kolektif kita dalam membangun budaya berpikir yang sehat.

Masyarakat kita lebih menikmati afirmasi ketimbang konfirmasi. Kita lebih ingin diyakinkan bahwa kita benar, ketimbang diberi tahu bahwa kita belum sepenuhnya mengerti.

Inilah zaman di mana popularitas mengalahkan validitas. Sebuah video TikTok berdurasi 30 detik bisa menenggelamkan jurnal ilmiah yang ditulis selama bertahun-tahun.

Dalam pusaran ini, suara lantang lebih berharga daripada isi.

Padahal, suara yang paling keras tidak selalu membawa kebenaran—kadang hanya membawa kebencian yang dibungkus percaya diri.

Mengabaikan ahli bukan sekadar menolak pendapat orang pintar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved