Kupi Beungoh
Ketika Kebenaran Dikalahkan oleh Keviralan
Tapi hari ini, seseorang bisa bangun tidur, buka media sosial, tulis cuitan nyinyir, dan dalam hitungan menit, dianggap “sumber terpercaya”
Itu berarti kita menutup pintu pada sejarah panjang pencarian pengetahuan yang jujur dan bertanggung jawab.
Jika ini dibiarkan, maka kita sedang menyambut generasi yang sangat mudah dipengaruhi tapi sangat sulit dipimpin.
Dalam situasi seperti ini, para ahli tidak boleh diam. Mereka harus kembali menjadi pendidik publik, bukan hanya penghuni jurnal akademik.
Mereka harus belajar berbicara dalam bahasa yang bisa dimengerti tanpa kehilangan kedalaman makna.
Karena jika para ahli enggan turun gunung, maka para pendaki gadungan akan mengaku pemandu.
Ilmu pengetahuan memang tidak sempurna. Tapi ia satu-satunya jalan yang membuat manusia bisa belajar dari kesalahan, bukan mengulanginya dalam versi yang lebih berisik.
Mungkin inilah saatnya kita bertanya ulang: apakah kita masih menghargai kebenaran, atau hanya mencari pembenaran?
Kalau kita terus begini, jangan salahkan masa depan jika kelak ia tak lagi mengenal perbedaan antara guru dan pengikut, antara fakta dan fiksi, antara kebenaran dan kenyamanan. (*)
*) Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Studi Islam UAD Yogyakarta, Pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh, Wasekjend Ittihadul Muballighin Nanggroe Aceh Darussalam, Pengajar Sosiologi Hukum dan Pemikiran Hukum Islam.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tgk-Alwy-Akbar-Al-Khalidi-SH-MH.jpg)